Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kuntoro Boga
Direktur Hilirisasi Hasil Perkebunan, Kementan

Praktisi, Peneliti dan Pengamat Pertanian

Menakar Potensi Ekspor Lada Putih Muntok

Kompas.com, 20 September 2025, 10:18 WIB

Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.

Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

PULAU Bangka dan Belitung, terkenal sebagai sentra produksi lada putih Muntok (Muntok White Pepper) yang beraroma khas dan berkualitas tinggi. Lada putih Bangka bahkan telah memiliki indikasi geografis (IG) yang diakui dunia.

Pada pertengahan 2010-an, lada putih Bangka pernah mendominasi perdagangan global dengan kontribusi hingga 37–40 persen pangsa pasar lada dunia.

Namun, dalam beberapa dekade terakhir, kontribusi ekspor lada Bangka mengalami penurunan akibat berbagai tantangan, seperti menurunnya produktivitas lahan, serangan penyakit, fluktuasi harga global, serta lemahnya posisi tawar petani.

Untuk meningkatkan ekspor lada dari Bangka, diperlukan langkah menyeluruh mulai dari hulu ke hilir, dengan dukungan kebijakan yang tepat, hilirisasi, dan kuatnya strategi branding.

Saat ini, provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel) merupakan lumbung lada nasional, menyumbang sekitar sepertiga hingga hampir separuh produksi lada Indonesia.

Produksi lada di Babel mencapai lebih dari 30.000 ton per tahun dari total produksi nasional sekitar 90.000 ton. Ratusan ribu rumah tangga petani di provinsi ini menggantungkan hidupnya pada komoditas lada.

Namun, volume ekspor lada Babel sempat mengalami penurunan dalam beberapa tahun terakhir, akibat berkurangnya jumlah tanaman lada, banyaknya tanaman yang berusia tua, serta konversi lahan menjadi perkebunan sawit atau tambang timah.

Baca juga: Kopi Lampung, dari Kebun ke Dunia

Ekspor lada putih Babel tercatat anjlok menjadi hanya 984 ton pada 2021, meskipun kemudian terjadi pemulihan dengan peningkatan ekspor menjadi 1.843 ton pada 2022. Pada 2023, ekspor lada putih Babel diperkirakan mencapai 4 ribu ton.

Belajar dari Pesaing: Vietnam dan India

Pemerintah telah mendorong peningkatan ekspor lada melalui berbagai inisiatif, antara lain dengan peremajaan tanaman lada tua, distribusi bibit unggul yang tahan penyakit, dan fasilitasi kredit usaha rakyat (KUR) bagi petani lada.

Di tingkat riset, pemerintah juga aktif membekali petani dengan inovasi teknologi budidaya, seperti penerapan Good Agricultural Practices (GAP), pengendalian hama penyakit berbasis hayati, dan perbaikan teknik pascapanen untuk memastikan mutu lada ekspor.

Di tingkat daerah, Berbagai event, seperti Festival Lada Putih Muntok, digelar untuk mempromosikan dan memperkuat branding lada Babel.

Pemerintah juga secara rutin menyalurkan bantuan bibit dan sarana produksi kepada petani, seperti yang tercatat pada 2024, di mana 12.000 bibit lada unggul diserahkan kepada petani di sentra-sentra lada.

Selain itu, pemerintah juga mendorong pembentukan kelembagaan petani yang kuat, dengan membina koperasi petani lada agar tidak hanya menjual lada dalam bentuk biji kering, tetapi juga bisa langsung menembus pasar ekspor.

Contohnya, pada 2020, Koperasi Lada Babel berhasil mengekspor 45 ton lada putih langsung ke Jepang.

Namun, pasar lada global kini didominasi oleh Vietnam, yang telah menjelma menjadi produsen dan eksportir lada terbesar di dunia, menggeser posisi Indonesia.

Halaman:

Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Secangkir Optimisme Teh Indonesia
Secangkir Optimisme Teh Indonesia
Varietas Tanaman
Ketika Pasar Dunia Menunggu Panen Indonesia
Ketika Pasar Dunia Menunggu Panen Indonesia
Varietas Tanaman
Merawat Kopi dan Kakao Sumatera
Merawat Kopi dan Kakao Sumatera
Varietas Tanaman
Durian Indonesia Tak Berdaya di Pasar Global
Durian Indonesia Tak Berdaya di Pasar Global
Varietas Tanaman
Varietas Unggul dalam Pengelolaan Penyakit Jagung
Varietas Unggul dalam Pengelolaan Penyakit Jagung
Varietas Tanaman
Singkong: Komoditas Strategis yang Terlupakan
Singkong: Komoditas Strategis yang Terlupakan
Varietas Tanaman
China Ingin Swasembada Durian
China Ingin Swasembada Durian
Varietas Tanaman
Ketika Petani Meninggalkan Karet: Sawit Dinilai Lebih Menjanjikan
Ketika Petani Meninggalkan Karet: Sawit Dinilai Lebih Menjanjikan
Varietas Tanaman
Pertanian Berkelanjutan, Tapi untuk Siapa?
Pertanian Berkelanjutan, Tapi untuk Siapa?
Varietas Tanaman
Satu Kebun, Berkali-kali Panen
Satu Kebun, Berkali-kali Panen
Varietas Tanaman
Membuka Peluang Ekonomi Pinang
Membuka Peluang Ekonomi Pinang
Varietas Tanaman
Jalan Bagi Kesejahteraan Petani Kopi
Jalan Bagi Kesejahteraan Petani Kopi
Varietas Tanaman
Ketahanan Kopi Dimulai dari Kebunnya
Ketahanan Kopi Dimulai dari Kebunnya
Varietas Tanaman
Menata Ulang Masa Depan Petani Lada
Menata Ulang Masa Depan Petani Lada
Varietas Tanaman
Kedelai di Bawah Sawit: Peluang Mandiri Pangan di Dharmasraya
Kedelai di Bawah Sawit: Peluang Mandiri Pangan di Dharmasraya
Varietas Tanaman
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau