
Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.
PULAU Bangka dan Belitung, terkenal sebagai sentra produksi lada putih Muntok (Muntok White Pepper) yang beraroma khas dan berkualitas tinggi. Lada putih Bangka bahkan telah memiliki indikasi geografis (IG) yang diakui dunia.
Pada pertengahan 2010-an, lada putih Bangka pernah mendominasi perdagangan global dengan kontribusi hingga 37–40 persen pangsa pasar lada dunia.
Namun, dalam beberapa dekade terakhir, kontribusi ekspor lada Bangka mengalami penurunan akibat berbagai tantangan, seperti menurunnya produktivitas lahan, serangan penyakit, fluktuasi harga global, serta lemahnya posisi tawar petani.
Untuk meningkatkan ekspor lada dari Bangka, diperlukan langkah menyeluruh mulai dari hulu ke hilir, dengan dukungan kebijakan yang tepat, hilirisasi, dan kuatnya strategi branding.
Saat ini, provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel) merupakan lumbung lada nasional, menyumbang sekitar sepertiga hingga hampir separuh produksi lada Indonesia.
Produksi lada di Babel mencapai lebih dari 30.000 ton per tahun dari total produksi nasional sekitar 90.000 ton. Ratusan ribu rumah tangga petani di provinsi ini menggantungkan hidupnya pada komoditas lada.
Namun, volume ekspor lada Babel sempat mengalami penurunan dalam beberapa tahun terakhir, akibat berkurangnya jumlah tanaman lada, banyaknya tanaman yang berusia tua, serta konversi lahan menjadi perkebunan sawit atau tambang timah.
Baca juga: Kopi Lampung, dari Kebun ke Dunia
Ekspor lada putih Babel tercatat anjlok menjadi hanya 984 ton pada 2021, meskipun kemudian terjadi pemulihan dengan peningkatan ekspor menjadi 1.843 ton pada 2022. Pada 2023, ekspor lada putih Babel diperkirakan mencapai 4 ribu ton.
Pemerintah telah mendorong peningkatan ekspor lada melalui berbagai inisiatif, antara lain dengan peremajaan tanaman lada tua, distribusi bibit unggul yang tahan penyakit, dan fasilitasi kredit usaha rakyat (KUR) bagi petani lada.
Di tingkat riset, pemerintah juga aktif membekali petani dengan inovasi teknologi budidaya, seperti penerapan Good Agricultural Practices (GAP), pengendalian hama penyakit berbasis hayati, dan perbaikan teknik pascapanen untuk memastikan mutu lada ekspor.
Di tingkat daerah, Berbagai event, seperti Festival Lada Putih Muntok, digelar untuk mempromosikan dan memperkuat branding lada Babel.
Pemerintah juga secara rutin menyalurkan bantuan bibit dan sarana produksi kepada petani, seperti yang tercatat pada 2024, di mana 12.000 bibit lada unggul diserahkan kepada petani di sentra-sentra lada.
Selain itu, pemerintah juga mendorong pembentukan kelembagaan petani yang kuat, dengan membina koperasi petani lada agar tidak hanya menjual lada dalam bentuk biji kering, tetapi juga bisa langsung menembus pasar ekspor.
Contohnya, pada 2020, Koperasi Lada Babel berhasil mengekspor 45 ton lada putih langsung ke Jepang.
Namun, pasar lada global kini didominasi oleh Vietnam, yang telah menjelma menjadi produsen dan eksportir lada terbesar di dunia, menggeser posisi Indonesia.