
Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.
Kemitraan ideal antara pabrik gula dan petani tebu lahir dari kelembagaan yang efektif. Di banyak sentra tebu seperti Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Jawa Barat, Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) bersama pemerintah daerah mendorong pembentukan Koperasi Petani Tebu Rakyat (KPTR) sebagai wadah koordinasi antara ribuan petani kecil dan pabrik besar.
Melalui koperasi, petani mendapat kemudahan memperoleh pupuk, bibit, hingga kredit usaha. KPTR juga menjadi saluran aspirasi, mulai dari persoalan harga, keluhan teknis, hingga penjadwalan tebang, yang dinegosiasikan dengan pihak pabrik atau pemerintah. Dengan kelembagaan yang kuat, posisi tawar petani meningkat dan hubungan kemitraan menjadi lebih setara.
Selain koperasi, peran APTRI di tingkat nasional sangat penting dalam memperjuangkan kebijakan yang berpihak pada petani. APTRI aktif berdialog dengan kementerian dan lembaga terkait untuk memastikan tata niaga gula berjalan adil. Salah satu hasil nyata ialah advokasi terhadap penetapan Harga Patokan Petani (HPP) dan penundaan penerapan pajak pertambahan nilai (PPN) atas gula petani.
Di sisi lain, pemerintah juga memperkuat kemitraan melalui dukungan pembiayaan. Program Kredit Usaha Rakyat (KUR) tebu rakyat kini memiliki bunga rendah 6% per tahun dan tanpa agunan tambahan, selama petani bermitra dengan pabrik sebagai offtaker. Skema ini bukan hanya menjamin akses modal, tetapi juga memastikan adanya pasar dan kepastian harga bagi petani.
Dari sisi sosial, kemitraan turut menumbuhkan kepercayaan dan rasa memiliki. Pemerintah daerah melalui dinas perkebunan membentuk tim monitoring bersama untuk mengawasi proses tanam hingga panen. Di tingkat desa, kelembagaan seperti Paguyuban Petani Tebu membantu mengatur tebang dan angkut secara kolektif agar lebih efisien. Pemerintah daerah juga mendorong regenerasi petani melalui pelatihan dan sekolah lapang.
Dukungan semacam ini menciptakan ekosistem sosial yang kondusif bagi kemitraan jangka panjang, di mana petani, pabrik, dan pemerintah saling menopang dalam satu sistem produksi yang berkelanjutan. Ke depan, keberlanjutan kemitraan membutuhkan langkah konkret. Pemerintah perlu menata ulang kebijakan harga, menjaga keseimbangan antara impor dan produksi dalam negeri, serta memperkuat koperasi sebagai garda depan petani tebu.
Modernisasi pabrik gula mesti berjalan seiring dengan peningkatan produktivitas lahan petani. Inovasi varietas unggul, mekanisasi, serta asuransi pertanian perlu menjadi bagian dari sistem kemitraan baru. Pada akhirnya, kunci keberhasilan terletak pada prinsip saling menguntungkan dan keadilan, pabrik melihat petani sebagai mitra sejajar, sementara petani membangun profesionalisme dan kepercayaan.
Jika kemitraan ini terjalin dengan baik, bukan mustahil Indonesia kembali mewujudkan swasembada gula, dengan industri yang efisien, petani yang sejahtera, dan rantai pasok yang berdaya saing global.
Baca juga: Menurut Asosiasi, Ini Penyebab Rendahnya Serapan Produksi Tebu Lokal
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter, tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan ini. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.