Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Andri Yudhi Supriadi
Pegawai Negeri Sipil

Kepala BPS Kota Denpasar

Waktunya Jujur: Petani Butuh Fakta, Bukan Ilusi Statistik

Kompas.com, 12 Desember 2025, 09:03 WIB

Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.

Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini
Editor Wisnubrata

DI tengah situasi pertanian yang semakin rapuh, Indonesia masih terpaku pada satu alat ukur yang terus dianggap sakti: Nilai Tukar Petani (NTP). Setiap bulan angka ini diumumkan seperti sinyal vital seorang pasien. Naik sedikit, semua merasa lega; turun sedikit, publik langsung panik.

Namun pertanyaannya kini semakin mendesak: apakah Indonesia masih dapat mengandalkan alat ukur yang sudah lama tidak lagi menangkap kompleksitas persoalan petani? Dalam kondisi iklim yang kian ekstrem, harga input yang merangkak naik, dan struktur pasar yang semakin timpang, mengukur kesejahteraan petani hanya dari persentase perubahan NTP adalah pendekatan yang terlalu berisiko.

Fluktuasi harga yang sesaat bisa membuat grafik tampak membaik, tetapi margin petani terus tergerus oleh kenaikan kebutuhan dasar produksi. Situasi ini ibarat memeriksa kesehatan pasien hanya dengan termometer, padahal gejalanya sudah menjalar ke seluruh tubuh.

Kenaikan harga cabai, padi, atau komoditas lain sering dijadikan penanda instan bahwa petani sedang lebih sejahtera. Padahal kenyataan di lapangan jauh dari sederhana. Pendapatan petani tidak hanya dipengaruhi oleh harga jual, tetapi juga oleh ongkos tanam, ketersediaan pupuk, biaya tenaga kerja, sewa lahan, akses terhadap pasar, hingga hubungan yang timpang dengan rantai distribusi.

Dalam banyak kasus, NTP bisa saja naik, namun kenyataan sehari-hari petani tidak berubah bahkan memburuk. Di sinilah muncul kebutuhan untuk membaca ulang kesejahteraan petani dengan kacamata yang lebih modern.

Kesadaran akan keterbatasan NTP mendorong Badan Pusat Statistik mengembangkan Indeks Kesejahteraan Petani (IKP), sebuah indikator baru yang dirancang untuk menggambarkan kondisi petani secara lebih komprehensif.

Berbeda dengan NTP yang fokus pada perbandingan harga, IKP memotret kehidupan petani melalui berbagai dimensi yang lebih mendasar. Pendapatan rumah tangga tani, kondisi kesehatan keluarga, tingkat pendidikan anggota rumah tangga, kualitas hunian, kecukupan pangan, serta daya dukung usaha tani terhadap keberlanjutan hidup petani menjadi bagian dari struktur IKP yang jauh lebih utuh.

IKP tidak hanya melihat petani sebagai produsen komoditas, tetapi sebagai keluarga yang memiliki kebutuhan sosial, ekonomi, dan kehidupan sehari-hari. Kehadiran IKP memberi ruang untuk membaca petani sebagai manusia yang bergulat dengan risiko iklim, beban biaya, keterbatasan akses teknologi, dan dinamika pedesaan yang berubah cepat.

Ketika NTP cenderung terombang-ambing oleh fluktuasi musiman, IKP memberikan gambaran yang lebih stabil tentang bagaimana petani benar-benar hidup, apa yang mereka hadapi, dan seberapa kuat ketahanan rumah tangga mereka. Inilah alasan mengapa IKP menjadi begitu penting pada masa depan pembangunan pertanian Indonesia.

Dengan pendekatan multidimensional, pemerintah memiliki dasar yang jauh lebih kuat untuk merancang intervensi yang tepat sasaran. Kebijakan yang selama ini bertumpu pada naik-turunnya harga komoditas bisa diarahkan pada persoalan yang lebih fundamental: akses modal yang adil, perbaikan layanan pendidikan dan kesehatan di perdesaan, peningkatan kemampuan adaptasi terhadap perubahan iklim, serta penguatan kelembagaan petani agar mereka memiliki posisi tawar yang lebih baik.

Transformasi indikator ini tentu saja menuntut kehati-hatian. Ia memerlukan data yang lebih dalam, metodologi yang lebih modern, kolaborasi lintas lembaga yang lebih kuat, serta keberanian politik untuk meninggalkan cara lama yang tidak lagi relevan. Namun menunda perubahan justru membawa risiko jauh lebih besar.

Kita berisiko menyusun kebijakan dengan membaca hanya separuh dari realitas, sementara petani berada di garis depan yang semakin rentan terhadap guncangan ekonomi, iklim, dan sosial.

Kini saatnya bersikap jujur dan tegas: kesejahteraan petani terlalu penting untuk terus diukur dengan alat yang sudah ketinggalan zaman. NTP tetap memiliki fungsi, namun tidak lagi cukup menuntun arah pembangunan. Hadirnya IKP membuka kesempatan untuk melihat petani dengan lebih manusiawi dan lebih akurat.

Jika Indonesia benar-benar ingin menata masa depan pertanian yang lebih adil dan berkelanjutan, maka perubahan paradigma pengukuran kesejahteraan petani bukanlah pilihan, melainkan keharusan.

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com. Download sekarang


Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Kelapa Indonesia 2026: Dari Komoditas Rakyat ke Mesin Pertumbuhan Ekonomi
Kelapa Indonesia 2026: Dari Komoditas Rakyat ke Mesin Pertumbuhan Ekonomi
Varietas Tanaman
Bandeng Naik Kelas Menuju Panggung Blue Food Global
Bandeng Naik Kelas Menuju Panggung Blue Food Global
Varietas Tanaman
Menjaga Denyut Kakao Sulawesi
Menjaga Denyut Kakao Sulawesi
Varietas Tanaman
Menjaga Masa Depan Karet Indonesia
Menjaga Masa Depan Karet Indonesia
Varietas Tanaman
Strategis Pengembangan Industri Gambir
Strategis Pengembangan Industri Gambir
Varietas Tanaman
Asa Pohon Mete di Tanah Gersang
Asa Pohon Mete di Tanah Gersang
Varietas Tanaman
Belajar dari Sukun Kukus: Menguatkan Ketahanan Pangan lewat Keanekaragaman
Belajar dari Sukun Kukus: Menguatkan Ketahanan Pangan lewat Keanekaragaman
Varietas Tanaman
Halusinasi Negara Agraris
Halusinasi Negara Agraris
Tips
Waktunya Jujur: Petani Butuh Fakta, Bukan Ilusi Statistik
Waktunya Jujur: Petani Butuh Fakta, Bukan Ilusi Statistik
Tips
Jangan Korbankan Teh: Investasi Hijau untuk Masa Depan
Jangan Korbankan Teh: Investasi Hijau untuk Masa Depan
Varietas Tanaman
Mengungkap Potensi Kedawung yang Terabaikan
Mengungkap Potensi Kedawung yang Terabaikan
Varietas Tanaman
Briket Arang Kelapa: Limbah Jadi Komoditas Ekspor
Briket Arang Kelapa: Limbah Jadi Komoditas Ekspor
Varietas Tanaman
Tanaman Penyelamat Lingkungan: Mencegah Banjir dan Longsor
Tanaman Penyelamat Lingkungan: Mencegah Banjir dan Longsor
Varietas Tanaman
Potensi Sabut Kelapa yang Masih Terbuang
Potensi Sabut Kelapa yang Masih Terbuang
Varietas Tanaman
Pelajaran Swasembada Gula Nasional
Pelajaran Swasembada Gula Nasional
Varietas Tanaman
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau