Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kuntoro Boga
Direktur Hilirisasi Hasil Perkebunan, Kementan

Praktisi, Peneliti dan Pengamat Pertanian

Merawat Kopi dan Kakao Sumatera

Kompas.com, 1 Februari 2026, 12:55 WIB

Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.

Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini
Editor Wisnubrata

Inilah wajah ketimpangan struktural: petani kecil di dataran tinggi Sumatra: menghasilkan komoditas kelas dunia, tetapi tetap terperangkap sebagai pemasok bahan mentah bernilai rendah.

Baca juga: Dinamika Industri Kopi Indonesia

Tantangan Ekologis Kebun Dataran Tinggi

Di tengah tekanan ekonomi, petani kopi dan kakao di dataran tinggi Sumatra juga menghadapi ancaman serius terhadap ketahanan ekologi. Perubahan iklim memicu ketidakpastian pola hujan dan peningkatan suhu, yang memperbesar risiko hama dan penyakit tanaman.

Karat daun pada kopi arabika semakin sering muncul di Aceh dan Sumatra Utara, sementara kakao rentan terhadap penggerek buah dan penyakit VSD yang dapat memangkas hingga 30–40 persen hasil panen.

Bagi petani kecil, gangguan ini bukan sekadar persoalan teknis budidaya, melainkan ancaman langsung terhadap keberlanjutan penghidupan. Sayangnya, respons jangka pendek berupa penggunaan pestisida dan pupuk kimia secara berlebihan justru memperburuk keadaan, merusak tanah, mematikan organisme bermanfaat, dan membuat kebun semakin rapuh menghadapi guncangan iklim.

Di tengah situasi tersebut, sejumlah inisiatif lokal menunjukkan bahwa pendekatan berbasis ekosistem menawarkan jalan keluar yang lebih berkelanjutan.

Di Solok, Sumatera Barat, Koperasi Solok Radjo mengembangkan kebun kopi robusta dengan sistem agroforestry. Kopi tumbuh di bawah naungan pohon, tanpa pestisida kimia yang terbukti menjaga kesuburan tanah dan menekan serangan hama.

Praktik serupa berkembang di dataran tinggi Gayo, Aceh, melalui budidaya kopi organik dengan naungan alami. Kebun tidak lagi diperlakukan sebagai pabrik produksi semata, melainkan sebagai ekosistem hidup yang harus dirawat. Pengalaman ini menegaskan bahwa ketahanan komoditas kopi dan kakao berakar pada kesehatan tanah, keanekaragaman hayati, dan keseimbangan lingkungan kebun.

Namun, keberlanjutan ekologi harus berjalan seiring dengan keadilan ekonomi melalui pembangunan pedesaan yang inklusif. Kuncinya terletak pada penguatan kelembagaan petani, percepatan hilirisasi di desa, serta perluasan akses teknologi dan pengetahuan.

Koperasi kopi Gayo seperti KBQ (Koperasi Baitul Qiradh) Baburrayyan menunjukkan bahwa skala ekonomi kolektif dan manajemen profesional mampu meningkatkan posisi tawar petani hingga menembus pasar ekspor premium.

Model serupa perlu dikembangkan di sektor kakao, bersamaan dengan dukungan industri pengolahan skala kecil, pelatihan teknis, kemitraan pasar, dan kebijakan afirmatif negara. Dengan kolaborasi yang setara antara petani, koperasi, pemerintah, dan pelaku usaha, petani kecil dapat menjadi subjek utama rantai nilai, dengan menghasilkan kopi dan kakao yang bukan hanya berdaya saing global, tetapi juga menopang kesejahteraan dan kelestarian alam pedesaan Sumatra.

Baca juga: Mungkinkah Indonesia Jadi Pusat Kopi Global?

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com. Download sekarang

Halaman:

Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Gambir dan Nilai Tambah yang Harus Diwujudkan
Gambir dan Nilai Tambah yang Harus Diwujudkan
Varietas Tanaman
Ketika Vanili Menjadi Harapan Petani
Ketika Vanili Menjadi Harapan Petani
Varietas Tanaman
Kayu Manis Kerinci dan Peluang Rempah Indonesia di Pasar Dunia
Kayu Manis Kerinci dan Peluang Rempah Indonesia di Pasar Dunia
Varietas Tanaman
Mengapa Anak Muda Enggan Menjadi Petani?
Mengapa Anak Muda Enggan Menjadi Petani?
Tips
Mengembalikan Daya Saing Teh di Pasar Global
Mengembalikan Daya Saing Teh di Pasar Global
Varietas Tanaman
Nilam, Masihkah Primadona?
Nilam, Masihkah Primadona?
Varietas Tanaman
Gambir: Komoditas Tua dari Sumatera yang Diam-Diam Diburu Industri Dunia
Gambir: Komoditas Tua dari Sumatera yang Diam-Diam Diburu Industri Dunia
Varietas Tanaman
Kakao Indonesia 2026: Menguatkan Hulu dan Menjaga Hilir
Kakao Indonesia 2026: Menguatkan Hulu dan Menjaga Hilir
Varietas Tanaman
Aren, Pohon Liar yang Menyimpan Masa Depan
Aren, Pohon Liar yang Menyimpan Masa Depan
Varietas Tanaman
Masa Depan Kelapa di Negeri Nyiur Melambai
Masa Depan Kelapa di Negeri Nyiur Melambai
Varietas Tanaman
Saat Kita Terlalu Bergantung pada Beras
Saat Kita Terlalu Bergantung pada Beras
Varietas Tanaman
Meraup Keuntungan dari Lada Lampung
Meraup Keuntungan dari Lada Lampung
Varietas Tanaman
Surplus Pangan, Mengapa Impor?
Surplus Pangan, Mengapa Impor?
Varietas Tanaman
Kopi dan Kakao Indonesia: Komoditas Ekspor yang Paling Dicari Dunia
Kopi dan Kakao Indonesia: Komoditas Ekspor yang Paling Dicari Dunia
Varietas Tanaman
Gula Aren dan Kebangkitan Ekonomi Desa Berbasis Agroforestri
Gula Aren dan Kebangkitan Ekonomi Desa Berbasis Agroforestri
Varietas Tanaman
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau