Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kuntoro Boga
Direktur Hilirisasi Hasil Perkebunan, Kementan

Praktisi, Peneliti dan Pengamat Pertanian

Meraup Keuntungan dari Lada Lampung

Kompas.com, 25 Februari 2026, 05:54 WIB

Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.

Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini
Editor Wisnubrata

LADA Lampung sejatinya menyimpan potensi besar sebagai “bumbu utama dunia” sekaligus sumber devisa unggulan daerah. Sebagai penghasil lada hitam utama Indonesia, Lampung memiliki luas areal sekitar 45–46 ribu hektare dengan produksi kurang lebih 16 ribu ton per tahun. Namun, angka tersebut menunjukkan bahwa produktivitas panen masih relatif rendah.

Di tengah tren konsumsi lada global yang terus meningkat hingga 2025, kinerja ini belum mencerminkan potensi sesungguhnya. Dalam tiga dekade terakhir, produktivitas lada Lampung bahkan menurun drastis dari sekitar 2 ton per hektare menjadi hanya 500–700 kg per hektare pada 2024. Padahal, varietas unggul secara teoritis mampu menghasilkan 2–4 ton per hektare.

Penurunan ini dipengaruhi oleh pengelolaan kebun yang kurang intensif, serangan hama dan penyakit, serta minimnya peremajaan dan pemeliharaan tanaman. Gambaran tersebut selaras dengan kondisi nasional. Rata-rata produktivitas lada Indonesia saat ini hanya sekitar 700–800 kg per hektare, tertinggal jauh dibandingkan Vietnam yang mampu mencapai sekitar 2,6 ton per hektare.

Ironisnya, Indonesia memiliki areal lada terluas, tetapi produksinya masih berada di bawah Vietnam. Hal ini mengindikasikan masih besarnya lahan yang belum dikelola optimal serta rendahnya adopsi teknologi budidaya modern.

Di Lampung sendiri, banyak kebun lada sudah berusia tua tanpa peremajaan bibit yang memadai, sehingga hasil panen terus menurun. Ditambah lagi, mayoritas petani lada berusia lanjut, sementara generasi muda enggan melanjutkan usaha ini karena dianggap berisiko tinggi akibat fluktuasi harga yang tajam.

Ketidakstabilan harga global semakin memperberat situasi. Dalam periode 2019–2023, volume dan nilai ekspor lada Indonesia mengalami lonjakan dan penurunan drastis, dimana pada 2023 ekspor lada hitam bahkan turun hingga sekitar 9.000 ton, terendah dalam satu dekade, dengan nilai FOB merosot tajam.

Akibatnya, ketika harga kembali melonjak, seperti mencapai Rp160.000/kg untuk lada putih pada akhir 2025, banyak petani justru sudah terlanjur menebang tanaman karena sebelumnya merugi.

Rantai distribusi yang panjang juga melemahkan posisi tawar petani, yang kerap terjebak sistem ijon dan bergantung pada tengkulak.

Jika kondisi ini terus berlanjut, peralihan petani ke komoditas lain seperti sawit atau sektor tambang akan semakin masif, dan cita-cita Lampung sebagai lumbung lada dunia kian terancam.

Baca juga: Menata Ulang Masa Depan Petani Lada

Tantangan Teknis di Lapangan

Banyak petani lada di Lampung belum sepenuhnya menerapkan teknologi budidaya dan pascapanen modern. Penggunaan bibit unggul, pemupukan terukur, serta sistem pengairan optimal masih belum merata di lapangan. Padahal, berbagai penelitian menunjukkan bahwa potensi lahan lada Lampung cukup tinggi jika dikelola secara intensif dan berbasis praktik pertanian yang baik.

Keterbatasan akses pelatihan dan pendampingan membuat sebagian petani belum menguasai teknik budidaya yang tepat, sehingga produktivitas tetap rendah meskipun peluang peningkatan terbuka lebar.

Tantangan juga muncul pada tahap pascapanen. Teknologi seperti oven pengering dan fasilitas sterilisasi lada putih masih jarang digunakan, sehingga mutu produk kerap tidak konsisten dan rentan terhadap kontaminasi mikroba. Padahal, penerapan teknologi semi-mekanis terbukti mampu meningkatkan kualitas sekaligus memperkuat daya saing di pasar ekspor.

Dengan kata lain, persoalannya bukan pada ketersediaan inovasi, melainkan pada akses, adopsi, dan pendampingan yang berkelanjutan bagi petani.

Untuk menjawab tantangan tersebut, peran pemerintah dan sektor swasta menjadi sangat krusial. Lada telah ditetapkan sebagai komoditas strategis nasional, dengan berbagai program revitalisasi dan hilirisasi perkebunan periode 2025–2027.

Kementerian Pertanian melalui Direktorat Jenderal Perkebunan mendorong intensifikasi budidaya, penyediaan varietas unggul, pengembangan industri olahan, serta perluasan akses perdagangan internasional.

Halaman:

Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Mengapa Anak Muda Enggan Menjadi Petani?
Mengapa Anak Muda Enggan Menjadi Petani?
Tips
Mengembalikan Daya Saing Teh di Pasar Global
Mengembalikan Daya Saing Teh di Pasar Global
Varietas Tanaman
Nilam, Masihkah Primadona?
Nilam, Masihkah Primadona?
Varietas Tanaman
Gambir: Komoditas Tua dari Sumatera yang Diam-Diam Diburu Industri Dunia
Gambir: Komoditas Tua dari Sumatera yang Diam-Diam Diburu Industri Dunia
Varietas Tanaman
Kakao Indonesia 2026: Menguatkan Hulu dan Menjaga Hilir
Kakao Indonesia 2026: Menguatkan Hulu dan Menjaga Hilir
Varietas Tanaman
Aren, Pohon Liar yang Menyimpan Masa Depan
Aren, Pohon Liar yang Menyimpan Masa Depan
Varietas Tanaman
Masa Depan Kelapa di Negeri Nyiur Melambai
Masa Depan Kelapa di Negeri Nyiur Melambai
Varietas Tanaman
Saat Kita Terlalu Bergantung pada Beras
Saat Kita Terlalu Bergantung pada Beras
Varietas Tanaman
Meraup Keuntungan dari Lada Lampung
Meraup Keuntungan dari Lada Lampung
Varietas Tanaman
Surplus Pangan, Mengapa Impor?
Surplus Pangan, Mengapa Impor?
Varietas Tanaman
Kopi dan Kakao Indonesia: Komoditas Ekspor yang Paling Dicari Dunia
Kopi dan Kakao Indonesia: Komoditas Ekspor yang Paling Dicari Dunia
Varietas Tanaman
Gula Aren dan Kebangkitan Ekonomi Desa Berbasis Agroforestri
Gula Aren dan Kebangkitan Ekonomi Desa Berbasis Agroforestri
Varietas Tanaman
Mete Indonesia Makin Berjaya di Pasar Internasional
Mete Indonesia Makin Berjaya di Pasar Internasional
Varietas Tanaman
Dari Kebun Kelapa dan Ladang Jagung Mereka Bangkit
Dari Kebun Kelapa dan Ladang Jagung Mereka Bangkit
Varietas Tanaman
Menguatkan Akar dan Menjahit Masa Depan: Arah Baru Perkebunan Nasional
Menguatkan Akar dan Menjahit Masa Depan: Arah Baru Perkebunan Nasional
Varietas Tanaman
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau