
Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.
DI tengah meningkatnya tren konsumsi teh dunia, Indonesia justru menghadapi ironi yang memprihatinkan. Kinerja ekspor teh hitam nasional terus merosot dalam dua dekade terakhir.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) dan TradeMap menunjukkan bahwa pada periode 2006–2010 Indonesia masih mampu mengekspor sekitar 70–80 ribu ton teh hitam per tahun. Bahkan pada 2010 nilai ekspor sempat mencapai sekitar US$178 juta (setara Rp3 triliun).
Namun setelah itu grafiknya terus menurun. Pada 2023 nilai ekspor hanya tercatat sekitar US$139,6 juta (Rp2,3 triliun), turun 15 persen dibanding tahun sebelumnya. Sementara pada 2024 kondisinya semakin memprihatinkan, dimana volume ekspor tinggal sekitar 34 ribu ton dengan nilai hanya US$52,8 juta (Rp892 miliar).
Jika ditarik lebih jauh ke belakang, penurunan ini terasa semakin dramatis. Pada 2005 Indonesia masih mampu mengekspor lebih dari 102 ribu ton teh ke pasar dunia. Kini volumenya tinggal sekitar sepertiganya.
Ironisnya, negara yang dulu dikenal sebagai salah satu eksportir teh penting di dunia kini justru mulai mengimpor teh hitam untuk memenuhi kebutuhan domestik. Pada 2024 impor teh hitam bahkan mencapai sekitar 13 ribu ton.
Fakta ini menunjukkan bahwa penurunan ekspor teh bukan sekadar fluktuasi perdagangan biasa, melainkan cerminan melemahnya daya saing industri teh Indonesia secara struktural.
Baca juga: Jangan Korbankan Teh: Investasi Hijau untuk Masa Depan
Salah satu akar persoalan utama melemahnya industri teh nasional adalah menyusutnya luas lahan tanaman teh. Dalam satu dekade terakhir, banyak kebun teh beralih fungsi menjadi lahan hortikultura, kawasan permukiman, atau penggunaan lain yang dianggap lebih menguntungkan dalam jangka pendek.
Data menunjukkan bahwa luas areal perkebunan teh turun dari sekitar 114,9 ribu hektare pada 2014 menjadi hanya sekitar 97,5 ribu hektare pada 2024. Penyusutan ini secara langsung mengurangi kapasitas produksi nasional dan mempersempit ruang bagi industri teh untuk berkembang.
Persoalan semakin kompleks karena sebagian besar tanaman teh di Indonesia telah berusia sangat tua, bahkan lebih dari 50 tahun. Tanaman yang menua cenderung memiliki produktivitas rendah dan membutuhkan biaya perawatan yang lebih tinggi.
Akibatnya, produktivitas rata-rata kebun teh Indonesia hanya sekitar 1,2 ton per hektar, jauh tertinggal dibandingkan negara produsen utama seperti India atau Kenya yang mampu mencapai 2 hingga 2,5 ton per hektare.
Kondisi ini membuat produksi nasional sulit bersaing, baik dari sisi volume maupun efisiensi biaya. Di tingkat petani, tekanan ekonomi juga semakin berat. Kenaikan biaya tenaga kerja, pupuk, dan pengolahan membuat margin usaha teh semakin tipis, sementara harga jual daun teh di tingkat petani relatif rendah.
Akibatnya, banyak petani kesulitan merawat kebun secara optimal sehingga kualitas daun dan hasil panen ikut menurun. Siklus ini menjadi lingkaran yang sulit diputus: harga rendah membuat perawatan minim, perawatan minim menurunkan produksi, dan produksi rendah semakin melemahkan daya saing.
Tidak sedikit petani akhirnya mengganti tanaman teh dengan komoditas lain seperti sayuran yang dianggap lebih cepat menghasilkan. Fenomena ini terlihat jelas di beberapa sentra teh di Jawa Barat, seperti Pangalengan, di mana kebun teh yang dulu menjadi sumber penghidupan masyarakat kini banyak berubah menjadi lahan sayuran, perlahan menghilangkan lanskap perkebunan yang selama ini menjadi identitas daerah.
Baca juga: Secangkir Optimisme Teh Indonesia
Ilusrasi daun teh di acara Jakarta Tea Passport 2022.
Di tengah dinamika perdagangan global, pasar teh dunia kini semakin kompetitif. Negara-negara produsen besar seperti Kenya, India, China, dan Vietnam terus memperkuat posisinya dengan menawarkan harga yang lebih kompetitif sekaligus menjaga konsistensi kualitas produk. Akibatnya, posisi Indonesia dalam peta perdagangan teh dunia terus merosot.
Dua dekade lalu Indonesia masih termasuk dalam tiga besar eksportir teh global, namun kini turun hingga sekitar peringkat ketujuh. Beberapa pasar utama juga mulai berkurang permintaannya.
Negara seperti Pakistan, Rusia, dan Malaysia yang selama ini menjadi pembeli penting teh Indonesia mulai mengalihkan impor mereka ke pemasok lain. Padahal secara global konsumsi teh justru terus meningkat, dengan pertumbuhan permintaan diperkirakan sekitar 3 persen per tahun.
Artinya peluang pasar masih terbuka, tetapi Indonesia kesulitan memanfaatkannya karena kalah bersaing dalam harga, kualitas, dan kontinuitas pasokan. Selain tekanan persaingan, hambatan teknis perdagangan juga menjadi tantangan serius bagi ekspor teh Indonesia.
Negara tujuan ekspor kini semakin ketat menerapkan standar keamanan pangan, terutama terkait batas residu pestisida. Salah satu contoh yang pernah berdampak besar adalah kebijakan Uni Eropa mengenai batas residu anthraquinone yang sangat rendah. Kebijakan tersebut menyebabkan sebagian teh Indonesia tidak memenuhi persyaratan ekspor sehingga volume pengiriman ke pasar Eropa sempat turun hingga ribuan ton setiap tahun.
Kasus ini menunjukkan bahwa daya saing ekspor tidak hanya ditentukan oleh volume produksi, tetapi juga oleh kemampuan memenuhi standar mutu internasional yang semakin ketat.
Persoalan lain yang sering luput dari perhatian adalah rendahnya tingkat hilirisasi industri teh di dalam negeri. Hingga kini lebih dari 90 persen ekspor teh Indonesia masih berupa teh curah atau daun teh kering yang memiliki nilai tambah relatif rendah.
Padahal produk olahan seperti teh celup, minuman teh siap minum, ekstrak teh, maupun teh organik memiliki nilai jual yang jauh lebih tinggi di pasar global.
Sayangnya kontribusi produk hilir dalam ekspor teh Indonesia diperkirakan baru sekitar 6 persen dari total ekspor. Ketergantungan pada ekspor bahan baku membuat nilai ekspor sulit meningkat meskipun produksi tetap berjalan.
Dampaknya tidak hanya terasa pada perdagangan internasional, tetapi juga pada kehidupan masyarakat di daerah penghasil teh. Perkebunan teh yang selama ini menjadi sumber penghidupan bagi ribuan petani perlahan kehilangan perannya.
Jika tren ini terus berlanjut, Indonesia berisiko kehilangan salah satu warisan agrarisnya yang telah bertahan sejak masa kolonial.
Baca juga: Revitalisasi Kebun Teh: Menyatukan Alam, Wisata, dan Harapan
Situasi ini tentu tidak boleh dibiarkan berlarut-larut. Industri teh nasional masih memiliki potensi besar untuk bangkit jika ditangani dengan strategi yang tepat dan konsisten. Langkah mendesak yang perlu dilakukan adalah program peremajaan kebun teh secara besar-besaran, mengganti tanaman tua dengan varietas unggul yang lebih produktif dan adaptif terhadap perubahan iklim.
Di saat yang sama, modernisasi sistem budidaya dan pengolahan harus dipercepat melalui mekanisasi pertanian, penguatan riset varietas baru, serta peningkatan kapasitas petani. Standar mutu produksi juga perlu ditingkatkan agar mampu memenuhi persyaratan pasar internasional, termasuk melalui pendampingan penggunaan pestisida yang aman serta perluasan sertifikasi mutu dan keamanan pangan.
Di sisi hilir, pemerintah perlu mendorong investasi pada pengolahan teh bernilai tambah tinggi, mulai dari teh kemasan premium hingga produk pangan fungsional berbasis teh. Promosi dan diplomasi perdagangan sangat dibutuhkan untuk membuka pasar baru di kawasan Timur Tengah, Asia Selatan, maupun Amerika Utara.
Baca juga: Menguatkan Posisi Teh Indonesia di Pasar Global
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter, tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan ini. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.