Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Pangkas Kriminalitas di Kebun Sawit, Paser Gratiskan BPJS Buruh Informal

Kompas.com, 11 Juni 2026, 11:20 WIB
Hilda B Alexander

Penulis

JAKARTA, KOMPAS.com — Risiko sosial di area perkebunan kelapa sawit kerap berujung pada masalah keamanan dan kriminalitas akibat himpitan ekonomi.

Menanggapi realitas ini, Pemerintah Kabupaten Paser mengalokasikan Dana Bagi Hasil (DBH) Sawit untuk membiayari penuh iuran BPJS Ketenagakerjaan bagi pekerja informal.

Kebijakan ini menyasar kelompok rentan guna mencegah kemiskinan ekstrem yang kerap menjadi pemicu tindakan kriminal di lingkungan pedesaan.

Baca juga: Ketika Petani Meninggalkan Karet: Sawit Dinilai Lebih Menjanjikan

Langkah ini diperkuat melalui sinergi Multi-Stakeholder Forum (MSF) bersama Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) dan organisasi masyarakat sipil Solidaridad dalam lokakarya bertajuk "Perlindungan Pekerja Sektor Perkebunan Kelapa Sawit di Provinsi Kalimantan Timur: Lindungi, Berdayakan, Sejahterakan", Rabu (10/6/2026).

Jaminan Sosial Efektif Mencegah Kriminalitas

Ketika seorang buruh harian lepas mengalami kecelakaan kerja tanpa perlindungan, beban finansial mendadak sering kali memaksa keluarga mengambil jalan pintas.

Pencurian tandan buah segar (TBS) sawit, penjarahan logistik, hingga aksi kriminalitas jalanan di sekitar konsesi perkebunan acap kali berakar dari ketiadaan jaring pengaman ekonomi saat krisis kesehatan terjadi.

Berdasarkan Peraturan Bupati (Perbup) Paser Nomor 34 Tahun 2024, subsidi DBH Sawit ini secara spesifik membiayai perlindungan bagi tiga kelompok pekerja sektor informal atau Bukan Penerima Upah (BPU), buruh harian lepas yang mengelola kebun kelapa sawit bukan milik sendiri, dan pekerja berusia 17 hingga 64 tahun yang berdomisili di Kabupaten Paser.

Fasilitas ini memberikan akses langsung ke program Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK) dan Jaminan Kematian (JKM).

Dengan menanggung biaya pengobatan dan memberikan santunan kematian, negara memutus rantai keputusasaan ekonomi yang berpotensi memicu tindak pidana.

Angka Kecelakaan Kerja Tinggi, Pekerja Perempuan Paling Rentan

Data statistik nasional menunjukkan tantangan besar di lapangan, lebih dari 60 persen angka kecelakaan kerja di Indonesia bersumber dari sektor perkebunan kelapa sawit.

Kelompok yang paling rawan adalah buruh harian lepas, khususnya pekerja perempuan di bagian penyemprotan pestisida dan pemupukan.

Selama ini, ketiadaan jaminan sosial memaksa mereka menanggung sendiri biaya pengobatan penyakit akibat kerja.

Kondisi ini memperlebar ketimpangan ekonomi dan meningkatkan kerentanan sosial di tingkat tapak.

Baca juga: Kedelai di Bawah Sawit: Peluang Mandiri Pangan di Dharmasraya

Bupati Paser, Fahmi Fadli, memastikan, pemerintah daerah berkomitmen menggunakan instrumen kebijakan untuk melindungi warganya.

"Forum Lokakarya MSF menjadi jembatan agar kebijakan ini terintegrasi dengan pelaku industri dan masyarakat sipil, sehingga pengawasan dan implementasinya di tingkat desa berjalan efektif," ujar Fahmi, dikutip Kompas.com, Kamis (11/6/2026).

Kepala Dinas Perkebunan Kabupaten Paser, Djoko Bawono, selaku ketua penyelenggara, menegaskan pentingnya eksekusi teknis agar dana tersebut tepat sasaran.

"Kami menargetkan lokakarya ini menghasilkan kesepakatan dan rencana aksi konkret. Dengan koordinasi berkelanjutan antara dinas, perusahaan, dan koperasi, kita memastikan subsidi iuran dari DBH Sawit benar-benar melindungi pekerja di lapangan," kata Djoko.

Kepatuhan Regulasi Global dan Stabilitas Industri

Dari sisi bisnis, perlindungan tenaga kerja berkaitan erat dengan stabilitas keamanan operasional perusahaan dan penerimaan produk di pasar internasional.

Dewan Pengawas BPJS Ketenagakerjaan sekaligus Direktur Pengembangan SDM GAPKI, Sumarjono Saragih, menyatakan bahwa pemenuhan jaminan sosial bukanlah beban biaya bagi industri.

Menurutnya, devisa ekspor sawit nasional yang mencapai US$27,76 miliar pada tahun 2024 dihasilkan dari dedikasi 16,5 juta pekerja.

Baca juga: Anggur Muscat dan Keberpihakan pada Buah Lokal

"Kolaborasi ini membuktikan jaminan sosial adalah investasi mutlak untuk memenuhi standar kelayakan kerja global seperti ISPO dan EUDR. Ini harus dibarengi peningkatan kapasitas untuk memitigasi risiko kerja," tegas Sumarjono.

Sementara itu, Country Manager Solidaridad Network Indonesia, Yeni Fitriyanti, menyoroti perluasan akses ini sebagai bentuk keadilan sosial.

Dia mengatakan, platform MSF ini penting untuk dialog setara antara pemerintah, korporasi, dan pekerja. Integrasi jaminan sosial dengan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) memberikan manfaat penuh seperti jaminan hari tua dan jaminan kematian.

"Sekarang, program BPJS Ketenagakerjaan tidak hanya dinikmati oleh pegawai kantoran, tetapi juga oleh pekerja informal," ungkap Yeni.

Melalui sinergi dalam wadah MSF ini, Pemerintah Kabupaten Paser bersama Solidaridad dan GAPKI mendesak seluruh perusahaan perkebunan, pengurus koperasi unit desa, serta pemerintah daerah penghasil sawit lainnya untuk segera mengintegrasikan buruh harian lepas ke dalam program BPJS Ketenagakerjaan.

"Menjaga kesejahteraan pekerja di garis depan adalah langkah preventif paling konkret dalam menjaga stabilitas keamanan dan produktivitas industri sawit nasional," tuntas Yeni.

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.


Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
SMI dan Pemprov Jabar Pulihkan Lahan Kritis, Panen Perdana di Cihawuk
SMI dan Pemprov Jabar Pulihkan Lahan Kritis, Panen Perdana di Cihawuk
Varietas Tanaman
Merawat Sawah, Menjaga Asa, Sang Penjaga Malam Berkolaborasi dengan Petani Gianyar
Merawat Sawah, Menjaga Asa, Sang Penjaga Malam Berkolaborasi dengan Petani Gianyar
Perawatan
Jalan ke Kebun Kini Mulus, Petani Aceh Tenggara Lebih Mudah Angkut Hasil Panen
Jalan ke Kebun Kini Mulus, Petani Aceh Tenggara Lebih Mudah Angkut Hasil Panen
Varietas Tanaman
13 Sumur Bor di Pulau Yamdena Bikin Petani Panen Tiga Kali Setahun
13 Sumur Bor di Pulau Yamdena Bikin Petani Panen Tiga Kali Setahun
Perawatan
Memulihkan Lahan, Menumbuhkan Ekonomi dari Desa Pulu
Memulihkan Lahan, Menumbuhkan Ekonomi dari Desa Pulu
Varietas Tanaman
Cengkih Indonesia: Besar dalam Produksi, Kecil dalam Nilai Tambah
Cengkih Indonesia: Besar dalam Produksi, Kecil dalam Nilai Tambah
Varietas Tanaman
Sinergi SVLK-FSC Siap Bawa Produk Hutan Indonesia Kuasai Pasar Global
Sinergi SVLK-FSC Siap Bawa Produk Hutan Indonesia Kuasai Pasar Global
Varietas Tanaman
Kementrans Kembangkan Ubi Jalar Jadi Pangan Alternatif Selain Beras
Kementrans Kembangkan Ubi Jalar Jadi Pangan Alternatif Selain Beras
Varietas Tanaman
Bendungan Bulango Ulu Segera Tuntas, Panen Diprediksi 3 Kali Setahun
Bendungan Bulango Ulu Segera Tuntas, Panen Diprediksi 3 Kali Setahun
Varietas Tanaman
Bela Petani Sawit Swadaya, Pemkab Kotim dan Solidaridad Percepat Migrasi e-STDB
Bela Petani Sawit Swadaya, Pemkab Kotim dan Solidaridad Percepat Migrasi e-STDB
Varietas Tanaman
Way Apu Jadi Andalan Pertanian Maluku, Layani Irigasi 10.562 Hektar
Way Apu Jadi Andalan Pertanian Maluku, Layani Irigasi 10.562 Hektar
Varietas Tanaman
Dulu, Petani Perbatasan RI-Australia Panen Sekali Setahun, Kini 3 Kali
Dulu, Petani Perbatasan RI-Australia Panen Sekali Setahun, Kini 3 Kali
Varietas Tanaman
Tak Cuma Pertanian, Potensi Maritim hingga Perkebunan Digarap TEP
Tak Cuma Pertanian, Potensi Maritim hingga Perkebunan Digarap TEP
Varietas Tanaman
Pangkas Kriminalitas di Kebun Sawit, Paser Gratiskan BPJS Buruh Informal
Pangkas Kriminalitas di Kebun Sawit, Paser Gratiskan BPJS Buruh Informal
Varietas Tanaman
Pabrik Kelapa di Halmahera Utara Berpotensi Serap 20.000 Tenaga Kerja
Pabrik Kelapa di Halmahera Utara Berpotensi Serap 20.000 Tenaga Kerja
Varietas Tanaman
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau