Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Desfal Triati
Dosen

Desfal Triati, dosen Fakultas Pertanian Universitas Andalas (Kampus III Dharmasraya). Menaruh perhatian pada isu pertanian, perkebunan rakyat, dan pengembangan pangan lokal berbasis riset lapangan.

Kedelai di Bawah Sawit: Peluang Mandiri Pangan di Dharmasraya

Kompas.com, 18 Januari 2026, 15:28 WIB

Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.

Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini
Editor Wisnubrata

DALAM beberapa tahun terakhir, kedelai hampir tidak lagi ditemui dalam sistem usaha tani di Kabupaten Dharmasraya, Sumatera Barat. Hal ini tercermin dari data statistik pertanian yang tidak mencatat luas panen, produksi, maupun produktivitas kedelai. Perlahan tetapi pasti, kedelai menghilang dari lanskap pertanian daerah, meskipun konsumsi produk berbasis kedelai tetap menjadi bagian penting dari pangan masyarakat.

Hilangnya kedelai dari Dharmasraya bukanlah fenomena tunggal. Di banyak daerah, petani cenderung meninggalkan kedelai karena dianggap kurang menjanjikan dibandingkan komoditas lain. Perubahan preferensi usaha tani ini berimplikasi pada meningkatnya ketergantungan pasokan dari luar daerah, bahkan dari impor. Padahal, di tengah tantangan ketahanan pangan, upaya menghadirkan kembali produksi pangan lokal menjadi semakin relevan.

Di sisi lain, Dharmasraya memiliki potensi lahan yang besar melalui perkebunan kelapa sawit rakyat. Sebagian besar kebun sawit berada pada fase belum berproduksi, terutama pada tahun-tahun awal penanaman. Pada fase ini, ruang antartanaman sawit masih terbuka dan belum sepenuhnya dimanfaatkan. Kondisi tersebut sesungguhnya menyediakan peluang bagi pengembangan tanaman sela, termasuk tanaman pangan seperti kedelai.

Pemanfaatan lahan sawit belum berproduksi melalui sistem tumpangsari bukanlah konsep baru. Namun, praktik ini belum banyak dikembangkan secara serius sebagai bagian dari strategi kemandirian pangan daerah. Sawit sering dipandang sebagai komoditas tunggal, padahal pada fase awal pertumbuhan, lahan sawit masih memungkinkan untuk mendukung lebih dari satu jenis tanaman.

Dengan pengelolaan yang tepat, tumpangsari tidak harus mengganggu pertumbuhan sawit, sekaligus dapat memberikan manfaat tambahan bagi masyarakat. Melalui kegiatan penelitian di lahan sawit belum berproduksi, kedelai dicoba ditanam sebagai tanaman sela. Kegiatan ini dilakukan sebagai bagian dari upaya mencari alternatif pemanfaatan ruang dan waktu pada kebun sawit rakyat.

Hasil pengamatan awal menunjukkan bahwa kedelai masih mampu tumbuh dan berkembang pada kondisi tersebut, meskipun membutuhkan pengelolaan yang sesuai dengan karakter lahan perkebunan.

Pengalaman ini menunjukkan bahwa hilangnya kedelai dari Dharmasraya bukan semata karena ketidakmampuan tanaman untuk tumbuh, melainkan karena belum banyak dicoba pada sistem yang berbeda. Lahan sawit belum berproduksi menawarkan konteks baru bagi pengembangan kedelai, terutama sebagai sumber pangan keluarga dan pendapatan tambahan pada masa tunggu sawit menghasilkan.

Lebih dari sekadar hasil penelitian, tumpangsari kedelai di kebun sawit menyimpan makna yang lebih luas. Praktik ini memperlihatkan bahwa perkebunan dan pangan tidak harus dipertentangkan. Sebaliknya, keduanya dapat saling melengkapi dalam satu sistem usaha tani yang lebih beragam dan adaptif.

Bagi masyarakat perkebunan rakyat, keberadaan tanaman pangan di sela sawit dapat menjadi penyangga ekonomi sekaligus sumber pangan rumah tangga. Dalam konteks kemandirian pangan, upaya menanam kembali kedelai di Dharmasraya melalui lahan sawit belum berproduksi menawarkan pendekatan yang realistis. Tidak diperlukan pembukaan lahan baru, tidak menambah tekanan terhadap lingkungan, dan dapat dilakukan secara bertahap sesuai kemampuan petani. Pendekatan ini juga sejalan dengan semangat pemanfaatan lahan secara optimal dan berkelanjutan.

Tentu, pengembangan tumpangsari kedelai di kebun sawit masih memerlukan penguatan dari berbagai sisi. Penyesuaian teknik budidaya, pemilihan varietas yang sesuai, serta pendampingan teknis menjadi bagian penting agar praktik ini dapat diterapkan secara lebih luas. Namun, langkah awal melalui kegiatan penelitian dan uji lapangan menunjukkan bahwa peluang tersebut nyata dan layak untuk dikembangkan.

Dharmasraya, seperti banyak daerah perkebunan lainnya, memiliki potensi besar untuk berkontribusi pada kemandirian pangan. Menghidupkan kembali kedelai tidak harus dimulai dari lahan sawah atau ladang konvensional, tetapi dapat berangkat dari ruang-ruang yang selama ini dianggap sebagai milik satu komoditas saja. Di sela-sela sawit yang belum berproduksi, peluang itu terbuka.

Pada akhirnya, upaya menghadirkan kembali kedelai di Dharmasraya bukan semata tentang satu komoditas, melainkan tentang cara pandang terhadap pembangunan pertanian dan perkebunan. Ketika pangan dan perkebunan dipertemukan dalam satu sistem yang saling menguatkan, kemandirian pangan tidak lagi menjadi wacana abstrak, melainkan praktik nyata yang tumbuh dari daerah, oleh masyarakat, dan untuk masyarakat.

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com. Download sekarang


Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
13 Sumur Bor di Pulau Yamdena Bikin Petani Panen Tiga Kali Setahun
13 Sumur Bor di Pulau Yamdena Bikin Petani Panen Tiga Kali Setahun
Perawatan
Memulihkan Lahan, Menumbuhkan Ekonomi dari Desa Pulu
Memulihkan Lahan, Menumbuhkan Ekonomi dari Desa Pulu
Varietas Tanaman
Cengkih Indonesia: Besar dalam Produksi, Kecil dalam Nilai Tambah
Cengkih Indonesia: Besar dalam Produksi, Kecil dalam Nilai Tambah
Varietas Tanaman
Sinergi SVLK-FSC Siap Bawa Produk Hutan Indonesia Kuasai Pasar Global
Sinergi SVLK-FSC Siap Bawa Produk Hutan Indonesia Kuasai Pasar Global
Varietas Tanaman
Kementrans Kembangkan Ubi Jalar Jadi Pangan Alternatif Selain Beras
Kementrans Kembangkan Ubi Jalar Jadi Pangan Alternatif Selain Beras
Varietas Tanaman
Bendungan Bulango Ulu Segera Tuntas, Panen Diprediksi 3 Kali Setahun
Bendungan Bulango Ulu Segera Tuntas, Panen Diprediksi 3 Kali Setahun
Varietas Tanaman
Bela Petani Sawit Swadaya, Pemkab Kotim dan Solidaridad Percepat Migrasi e-STDB
Bela Petani Sawit Swadaya, Pemkab Kotim dan Solidaridad Percepat Migrasi e-STDB
Varietas Tanaman
Way Apu Jadi Andalan Pertanian Maluku, Layani Irigasi 10.562 Hektar
Way Apu Jadi Andalan Pertanian Maluku, Layani Irigasi 10.562 Hektar
Varietas Tanaman
Dulu, Petani Perbatasan RI-Australia Panen Sekali Setahun, Kini 3 Kali
Dulu, Petani Perbatasan RI-Australia Panen Sekali Setahun, Kini 3 Kali
Varietas Tanaman
Tak Cuma Pertanian, Potensi Maritim hingga Perkebunan Digarap TEP
Tak Cuma Pertanian, Potensi Maritim hingga Perkebunan Digarap TEP
Varietas Tanaman
Pangkas Kriminalitas di Kebun Sawit, Paser Gratiskan BPJS Buruh Informal
Pangkas Kriminalitas di Kebun Sawit, Paser Gratiskan BPJS Buruh Informal
Varietas Tanaman
Pabrik Kelapa di Halmahera Utara Berpotensi Serap 20.000 Tenaga Kerja
Pabrik Kelapa di Halmahera Utara Berpotensi Serap 20.000 Tenaga Kerja
Varietas Tanaman
Lawan Rob, Warga Pekalongan Manfaatkan Tanah Wakaf untuk Pertanian
Lawan Rob, Warga Pekalongan Manfaatkan Tanah Wakaf untuk Pertanian
Varietas Tanaman
Kebutuhan Kelapa China 4 Miliar Butir, Halmahera Utara Siap Jadi Pemasok
Kebutuhan Kelapa China 4 Miliar Butir, Halmahera Utara Siap Jadi Pemasok
Varietas Tanaman
JIAT Rp 1,5 Miliar di Rote Ndao Layani 10 Hektar Lahan Pertanian
JIAT Rp 1,5 Miliar di Rote Ndao Layani 10 Hektar Lahan Pertanian
Varietas Tanaman
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau