Penulis
BANDUNG, KOMPAS.com — Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi (Kang Dedy Mulyadi/KDM) membunyikan alarm bahaya terkait ancaman bencana ekologis fatal dan tanah longsor masif di kawasan Bandung Selatan.
Ancaman ini dipicu oleh maraknya alih fungsi lahan perkebunan teh menjadi tanaman sayuran komersial secara ugal-ugalan.
Peringatan keras tersebut disampaikan Dedi usai aksi penggergajian sedikitnya 5.000 pohon teh di lahan seluas 0,4 hektar milik PTPN I Regional 2 Kertamanah, Pangalengan, Kabupaten Bandung.
Baca juga: Layanan Kesehatan Ternak Masih Minim, Ratusan Sapi di Manokwari Terserang Parasit
Aksi perusakan oleh oknum tak bertanggung jawab ini sempat memicu kemarahan Aliansi Petani Pangalengan (APP).
Dedi menegaskan, dirinya tidak memfokuskan perhatian pada pusaran konflik agraria yang kemungkinan melatarbelakangan insiden tersebut.
Menurutnya, isu paling mendesak adalah hilangnya tanaman berakar kuat yang menjadi benteng utama pencegah bencana alam di lereng pegunungan.
"Saya tidak ada urusan dengan konflik agrarianya, tapi yang saya tekankan adalah jangan menebang tanaman yang memiliki fungsi konservasi, menjaga lingkungan dari ancaman bencana," tegas Dedi dalam pernyataan resminya di Bandung, dikutip dari Antara, Jumat (30/10/2026).
Baca juga: Kalahkan Ekspor Kopi, Biosolusi Diproyeksikan Sumbang Ekonomi Rp 36 Triliun
Ia mengingatkan, topografi Bandung dominan berupa lereng pegunungan yang sangat rawan apabila tutupan vegetasi penyangganya hilang.
"Kalau kebun teh terus ditebangin, diganti dengan perkebunan sayur, nanti longsor. Bandung itu lereng gunung. Kalau kemudian semuanya berubah jadi kebun sayur, sudah, tunggu kehancurannya," ujar Dedi.
Dedi mengungkapkan, pola alih fungsi lahan ini sering kali mengikuti modus berulang. Kawasan perkebunan maupun hutan yang terbakar kerap dimanfaatkan oleh kelompok tertentu berorientasi profit demi memperkaya diri sendiri, tanpa mempedulikan keselamatan jiwa masyarakat lokal.
Atas dasar itu, ia meminta warga perdesaan serta para petani agar tidak mau dimanfaatkan oleh segelintir oknum yang bersembunyi di balik bisnis tanaman sayur.
Baca juga: Kalender Warige Disebut Hanya 35 Persen Cocok Saat El Nino dan La Nina
"Jangan menjadi alat bagi orang-orang yang hanya mementingkan kepentingan kekayaannya saja, tidak memperhatikan keselamatan lingkungan. Kalau sudah jadi bencana nanti yang repot kita semua. Untuk itu semoga ini menjadi kesadaran, tidak melakukan tindakan berulang," tuturnya.
Pemprov Jawa Barat menegaskan, perlindungan vegetasi kebun teh di kawasan kritis seperti Pangalengan dan Ciwidey bersifat absolut dan tidak bisa ditawar.
Menurut Dedi, mempertahankan fungsi konservasi dan tutupan lahan di kawasan perbukitan Bandung Selatan merupakan fondasi utama pemerintah daerah untuk menekan risiko bencana longsor serta menjaga kelestarian lingkungan secara berkelanjutan.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.
Artikel ini telah masuk Arsip. Berlangganan untuk membacanya kembali kapan saja.