Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Desfal Triati
Dosen

Desfal Triati, dosen Fakultas Pertanian Universitas Andalas (Kampus III Dharmasraya). Menaruh perhatian pada isu pertanian, perkebunan rakyat, dan pengembangan pangan lokal berbasis riset lapangan.

Aren, Pohon Liar yang Menyimpan Masa Depan

Kompas.com, 6 Maret 2026, 07:47 WIB

Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.

Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini
Editor Wisnubrata

DI banyak desa di Indonesia, pohon aren sering tumbuh diam di pinggir hutan, lereng bukit, atau di sudut kebun masyarakat. Ia tidak ditanam secara serius, tidak dipupuk, bahkan kerap dianggap sekadar tanaman liar yang tumbuh dengan sendirinya.

Namun di balik kesan sederhana itu, pohon aren sesungguhnya menyimpan potensi besar—potensi ekonomi, sosial, sekaligus ekologis—yang sering luput dari perhatian.

Aren (Arenga pinnata) adalah salah satu tanaman paling serbaguna yang dimiliki Indonesia. Hampir seluruh bagian pohon ini dapat dimanfaatkan. Dari mayangnya mengalir nira yang dapat diolah menjadi gula aren atau gula semut. Buah mudanya dikenal sebagai kolang-kaling, bahan yang banyak dicari terutama saat bulan Ramadhan.

Serat batangnya menghasilkan ijuk yang digunakan untuk berbagai keperluan konstruksi dan kerajinan. Daunnya dapat dimanfaatkan sebagai atap tradisional, sementara batangnya juga dapat dimanfaatkan sebagai bahan bangunan.

Karena kegunaannya yang begitu luas, aren sering disebut sebagai tanaman multiguna. Tidak banyak tanaman perkebunan yang mampu memberikan manfaat selengkap ini.

Ironisnya, di tengah ekspansi berbagai komoditas perkebunan modern seperti kelapa sawit, karet, atau kopi, tanaman aren justru jarang menjadi perhatian utama. Ia lebih sering hadir sebagai bagian dari lanskap alami desa, bukan sebagai komoditas yang direncanakan secara serius untuk dikembangkan.

Padahal Indonesia sebenarnya memiliki potensi aren yang cukup besar. Berbagai kajian menunjukkan bahwa tanaman ini tersebar di banyak wilayah Indonesia dan dapat ditemukan di lebih dari dua puluh provinsi.

Beberapa laporan memperkirakan luas tanaman aren berkisar antara 60.000 hingga 70.000 hektare, sebagian besar dikelola oleh masyarakat dalam skala kecil dan dengan teknik budidaya yang masih sederhana.

Angka tersebut bahkan diduga belum sepenuhnya menggambarkan potensi yang sebenarnya. Banyak pohon aren tumbuh secara alami di hutan, di kebun campuran, atau di lahan-lahan milik masyarakat tanpa pernah tercatat secara resmi dalam statistik pertanian. Dengan kata lain, sebagian besar kekayaan aren Indonesia masih tersembunyi di balik lanskap pedesaan.

Baca juga: Gula Aren dan Kebangkitan Ekonomi Desa Berbasis Agroforestri

Salah satu keunggulan utama tanaman aren adalah kemampuannya beradaptasi dengan berbagai kondisi lingkungan. Aren dapat tumbuh di lahan berbukit, tanah marginal, bahkan di kawasan yang relatif kurang subur. Sistem perakarannya yang kuat membantu menjaga struktur tanah dan mengurangi risiko erosi, terutama di daerah lereng atau perbukitan.

Karakter ini menjadikan aren tidak hanya bernilai ekonomi, tetapi juga memiliki fungsi ekologis yang penting. Dalam banyak kasus, pohon aren tumbuh sebagai bagian dari sistem kebun campuran atau agroforestri tradisional. Ia hidup berdampingan dengan berbagai tanaman lain tanpa merusak keseimbangan lingkungan.

Dalam konteks perubahan iklim dan meningkatnya kerusakan lahan, tanaman seperti aren sebenarnya memiliki nilai strategis. Ia mampu tumbuh pada kondisi lahan yang tidak selalu cocok untuk tanaman perkebunan lain, sekaligus memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.

Produk utama dari tanaman aren adalah nira yang diolah menjadi gula aren. Dalam beberapa tahun terakhir, permintaan terhadap gula aren—terutama dalam bentuk gula semut—menunjukkan tren peningkatan yang cukup signifikan. Produk ini semakin diminati karena dianggap sebagai pemanis alami yang lebih sehat dibandingkan gula rafinasi.

Selain digunakan dalam konsumsi rumah tangga, gula aren juga banyak dimanfaatkan dalam industri makanan dan minuman. Bahkan dalam beberapa tahun terakhir, gula semut mulai memasuki pasar ekspor sebagai produk pemanis alami dari Indonesia.

Baca juga: Ingin Berbisnis Gula Aren? Simak Tips dari Owner Asa Palm Sugar Preanger Ini

Namun di balik peluang tersebut, sebagian besar produksi gula aren masih dilakukan secara tradisional dengan skala usaha kecil. Di banyak desa, proses penyadapan nira dan pengolahan gula masih menggunakan peralatan sederhana dengan teknologi yang terbatas. Kondisi ini membuat nilai ekonomi yang diperoleh petani sering kali belum optimal.

Halaman:

Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Masa Depan Cerah Kakao Indonesia
Masa Depan Cerah Kakao Indonesia
Varietas Tanaman
Kelapa Genjah Kopyor: Agronomi, Rantai Nilai, dan Pengembangan
Kelapa Genjah Kopyor: Agronomi, Rantai Nilai, dan Pengembangan
Varietas Tanaman
Meremajakan Kebun Kelapa untuk Industri Bernilai Tinggi
Meremajakan Kebun Kelapa untuk Industri Bernilai Tinggi
Varietas Tanaman
Dari Rempah Dunia ke Kebun yang Rentan
Dari Rempah Dunia ke Kebun yang Rentan
Varietas Tanaman
Aren Minahasa: Akar Tradisi dan Ekonomi Rakyat
Aren Minahasa: Akar Tradisi dan Ekonomi Rakyat
Varietas Tanaman
Aroma Cengkeh dan Perjuangan Petani Menembus Pasar
Aroma Cengkeh dan Perjuangan Petani Menembus Pasar
Varietas Tanaman
Kopi Indonesia Naik Kelas: Inovasi, Entrepreneur, dan Nilai Tambah
Kopi Indonesia Naik Kelas: Inovasi, Entrepreneur, dan Nilai Tambah
Varietas Tanaman
Cokelat Specialty: Mendorong Kakao Berdaya Saing
Cokelat Specialty: Mendorong Kakao Berdaya Saing
Varietas Tanaman
Saatnya Kayu Manis Indonesia Laris di Pasar Global
Saatnya Kayu Manis Indonesia Laris di Pasar Global
Varietas Tanaman
Gambir dan Nilai Tambah yang Harus Diwujudkan
Gambir dan Nilai Tambah yang Harus Diwujudkan
Varietas Tanaman
Ketika Vanili Menjadi Harapan Petani
Ketika Vanili Menjadi Harapan Petani
Varietas Tanaman
Kayu Manis Kerinci dan Peluang Rempah Indonesia di Pasar Dunia
Kayu Manis Kerinci dan Peluang Rempah Indonesia di Pasar Dunia
Varietas Tanaman
Mengapa Anak Muda Enggan Menjadi Petani?
Mengapa Anak Muda Enggan Menjadi Petani?
Tips
Mengembalikan Daya Saing Teh di Pasar Global
Mengembalikan Daya Saing Teh di Pasar Global
Varietas Tanaman
Nilam, Masihkah Primadona?
Nilam, Masihkah Primadona?
Varietas Tanaman
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau