Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Desfal Triati
Dosen

Desfal Triati, dosen Fakultas Pertanian Universitas Andalas (Kampus III Dharmasraya). Menaruh perhatian pada isu pertanian, perkebunan rakyat, dan pengembangan pangan lokal berbasis riset lapangan.

Kayu Manis Kerinci dan Peluang Rempah Indonesia di Pasar Dunia

Kompas.com, 13 Maret 2026, 07:30 WIB

Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.

Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini
Editor Wisnubrata

REMPAH-rempah telah lama menjadi bagian penting dari sejarah dan identitas Indonesia. Sejak berabad-abad lalu, kekayaan rempah Nusantara telah menarik perhatian dunia dan bahkan membentuk jalur perdagangan global. Di antara berbagai rempah tersebut, kayu manis merupakan salah satu komoditas yang masih memiliki peran penting dalam perdagangan internasional hingga saat ini.

Salah satu sentra produksi kayu manis yang terkenal di Indonesia adalah Kabupaten Kerinci, Provinsi Jambi. Kerinci dikenal sebagai daerah penghasil kayu manis berkualitas tinggi yang telah lama memasok kebutuhan pasar global.

Kayu manis dari wilayah ini berasal dari spesies Cinnamomum burmannii, yang dikenal memiliki aroma khas serta kandungan minyak atsiri yang cukup tinggi. Karakteristik ini membuat kayu manis Kerinci banyak diminati oleh industri makanan, minuman, farmasi, hingga kosmetik di berbagai negara.

Bagi masyarakat Kerinci, kayu manis bukan sekadar komoditas perkebunan, tetapi juga bagian dari kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat. Banyak petani yang menggantungkan penghidupan mereka pada budidaya tanaman ini.

Sistem budidaya kayu manis di daerah ini umumnya dilakukan secara tradisional dalam kebun rakyat yang dikelola secara turun-temurun. Pohon kayu manis dapat tumbuh dengan baik di daerah pegunungan dengan kondisi tanah yang subur dan iklim yang relatif sejuk, sehingga wilayah lereng Kerinci menjadi habitat yang sangat sesuai bagi tanaman ini.

Dalam konteks perdagangan global, permintaan terhadap kayu manis masih menunjukkan tren yang cukup stabil. Kayu manis banyak digunakan sebagai bahan baku berbagai produk pangan seperti roti, minuman, serta berbagai produk olahan lainnya. Selain itu, rempah ini juga dimanfaatkan dalam industri farmasi dan produk kesehatan karena kandungan senyawa aktifnya yang memiliki berbagai manfaat.

Baca juga: Kopi dan Kayu Manis di Kerinci: Praktik Tumpangsari yang Menjaga Kebun Tetap Hidup

Indonesia termasuk salah satu negara produsen kayu manis terbesar di dunia. Sebagian besar produksi nasional bahkan berasal dari wilayah Sumatra, khususnya dari Provinsi Jambi dan Sumatra Barat. Kondisi ini menunjukkan bahwa komoditas kayu manis sebenarnya memiliki potensi besar sebagai salah satu sumber devisa dari sektor pertanian.

Namun demikian, peluang besar tersebut masih dihadapkan pada sejumlah tantangan. Salah satu tantangan utama adalah rendahnya nilai tambah yang diperoleh di tingkat petani. Sebagian besar kayu manis yang dihasilkan masih dipasarkan dalam bentuk bahan mentah atau kulit kering, sehingga nilai ekonominya relatif terbatas.

Pengolahan lanjutan seperti ekstraksi minyak atsiri, produksi bubuk kayu manis, maupun pengembangan produk turunan lainnya masih belum berkembang secara optimal di tingkat lokal.

Selain itu, fluktuasi harga komoditas juga sering menjadi persoalan bagi petani. Ketergantungan pada pasar ekspor membuat harga kayu manis di tingkat petani sangat dipengaruhi oleh dinamika perdagangan global. Ketika harga turun, petani sering kali berada pada posisi yang kurang menguntungkan karena terbatasnya akses terhadap pasar alternatif maupun industri pengolahan.

Oleh karena itu, penguatan rantai nilai komoditas kayu manis menjadi langkah penting untuk meningkatkan manfaat ekonomi bagi masyarakat.

Baca juga: Benarkah Kayu Manis Ampuh Mengusir Hama dan Penyakit Tanaman?

Pengembangan industri pengolahan rempah di dalam negeri dapat menjadi salah satu strategi untuk meningkatkan nilai tambah. Dengan adanya industri hilir, produk kayu manis tidak hanya dipasarkan dalam bentuk bahan mentah, tetapi juga dapat diolah menjadi berbagai produk bernilai lebih tinggi.

Di sisi lain, dukungan terhadap petani juga perlu diperkuat melalui penyediaan teknologi budidaya, peningkatan kualitas produk, serta penguatan kelembagaan petani. Peningkatan kualitas kayu manis sangat penting agar produk yang dihasilkan mampu memenuhi standar pasar internasional yang semakin kompetitif.

Kerinci memiliki potensi besar untuk terus mengembangkan komoditas kayu manis sebagai bagian dari kekuatan rempah Indonesia di pasar dunia. Dengan pengelolaan yang tepat, komoditas ini tidak hanya dapat meningkatkan kesejahteraan petani, tetapi juga memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu pemain utama dalam perdagangan rempah global.

Pada akhirnya, kisah kayu manis dari lereng Kerinci mengingatkan bahwa kekayaan rempah Nusantara masih menyimpan peluang besar. Melalui penguatan produksi, peningkatan nilai tambah, serta dukungan kebijakan yang tepat, kayu manis dapat terus menjadi salah satu komoditas unggulan yang mengharumkan nama Indonesia di pasar dunia.

Baca juga: Menggali Peluang Ekonomi dan Manfaat Kayu Manis

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com. Download sekarang


Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Kayu Manis Kerinci dan Peluang Rempah Indonesia di Pasar Dunia
Kayu Manis Kerinci dan Peluang Rempah Indonesia di Pasar Dunia
Varietas Tanaman
Mengapa Anak Muda Enggan Menjadi Petani?
Mengapa Anak Muda Enggan Menjadi Petani?
Tips
Mengembalikan Daya Saing Teh di Pasar Global
Mengembalikan Daya Saing Teh di Pasar Global
Varietas Tanaman
Nilam, Masihkah Primadona?
Nilam, Masihkah Primadona?
Varietas Tanaman
Gambir: Komoditas Tua dari Sumatera yang Diam-Diam Diburu Industri Dunia
Gambir: Komoditas Tua dari Sumatera yang Diam-Diam Diburu Industri Dunia
Varietas Tanaman
Kakao Indonesia 2026: Menguatkan Hulu dan Menjaga Hilir
Kakao Indonesia 2026: Menguatkan Hulu dan Menjaga Hilir
Varietas Tanaman
Aren, Pohon Liar yang Menyimpan Masa Depan
Aren, Pohon Liar yang Menyimpan Masa Depan
Varietas Tanaman
Masa Depan Kelapa di Negeri Nyiur Melambai
Masa Depan Kelapa di Negeri Nyiur Melambai
Varietas Tanaman
Saat Kita Terlalu Bergantung pada Beras
Saat Kita Terlalu Bergantung pada Beras
Varietas Tanaman
Meraup Keuntungan dari Lada Lampung
Meraup Keuntungan dari Lada Lampung
Varietas Tanaman
Surplus Pangan, Mengapa Impor?
Surplus Pangan, Mengapa Impor?
Varietas Tanaman
Kopi dan Kakao Indonesia: Komoditas Ekspor yang Paling Dicari Dunia
Kopi dan Kakao Indonesia: Komoditas Ekspor yang Paling Dicari Dunia
Varietas Tanaman
Gula Aren dan Kebangkitan Ekonomi Desa Berbasis Agroforestri
Gula Aren dan Kebangkitan Ekonomi Desa Berbasis Agroforestri
Varietas Tanaman
Mete Indonesia Makin Berjaya di Pasar Internasional
Mete Indonesia Makin Berjaya di Pasar Internasional
Varietas Tanaman
Dari Kebun Kelapa dan Ladang Jagung Mereka Bangkit
Dari Kebun Kelapa dan Ladang Jagung Mereka Bangkit
Varietas Tanaman
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau