Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Desfal Triati
Dosen

Desfal Triati, dosen Fakultas Pertanian Universitas Andalas (Kampus III Dharmasraya). Menaruh perhatian pada isu pertanian, perkebunan rakyat, dan pengembangan pangan lokal berbasis riset lapangan.

Kopi dan Kayu Manis di Kerinci: Praktik Tumpangsari yang Menjaga Kebun Tetap Hidup

Kompas.com, 10 Februari 2026, 10:20 WIB

Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.

Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini
Editor Wisnubrata

DI wilayah perbukitan Kerinci, kebun rakyat tidak selalu menunggu waktu panen untuk berfungsi. Di antara barisan kayu manis yang masih muda, tanaman kopi telah lebih dahulu tumbuh dan membentuk lapisan vegetasi awal. Tanah tertutup, kelembapan terjaga, dan kebun mulai bekerja sebagai ekosistem sejak tahap awal penanaman.

Bagi petani setempat, pola ini bukan sekadar pilihan teknis, melainkan bagian dari cara memahami ruang dan waktu dalam bertani.

Berdasarkan data statistik perkebunan, Kabupaten Kerinci merupakan salah satu sentra penting komoditas kopi dan kayu manis di Indonesia. Luas areal kayu manis rakyat di wilayah ini mencapai puluhan ribu hektare dan menjadi penyumbang utama produksi kayu manis nasional, dengan orientasi pasar ekspor.

Sementara itu, kopi rakyat—terutama kopi arabika—dikembangkan pada kawasan dataran tinggi dengan kondisi agroklimat yang sesuai, dan menjadi sumber pendapatan tahunan bagi rumah tangga petani.

Struktur usaha tani yang didominasi perkebunan rakyat membuat kedua komoditas ini umumnya dikelola dalam kebun campuran, sehingga produksi tidak hanya berfungsi sebagai output ekonomi, tetapi juga sebagai bagian dari sistem pengelolaan lahan yang berkelanjutan.

Kabupaten Kerinci dikenal sebagai salah satu sentra utama kopi dan kayu manis nasional. Data statistik menunjukkan bahwa Kerinci merupakan penghasil kayu manis terbesar di Indonesia, dengan kontribusi dominan terhadap pasokan ekspor dunia.

Baca juga: 5 Jenis Tanaman Pendamping untuk Tumpang Sari, Apa Saja?

Di sisi lain, kopi rakyat juga berkembang luas di kawasan dataran tinggi, terutama pada ketinggian yang sesuai untuk kopi arabika. Kombinasi dua komoditas ini tidak hanya mencerminkan potensi ekonomi daerah, tetapi juga menunjukkan praktik pengelolaan kebun yang adaptif terhadap kondisi ekologis wilayah pegunungan.

Dalam praktik tumpangsari kopi dan kayu manis, petani menempatkan kayu manis sebagai tanaman utama jangka panjang. Kayu manis membutuhkan waktu bertahun-tahun sebelum siap dipanen, sehingga pada fase awal pertumbuhannya lahan relatif terbuka. Kopi kemudian ditanam lebih dahulu untuk mengisi ruang tersebut.

Pola ini menciptakan struktur kebun berlapis: kopi tumbuh pada strata bawah, sementara kayu manis secara bertahap membentuk tajuk di atasnya. Kebun tidak dibiarkan kosong menunggu waktu, tetapi dibangun secara bertahap mengikuti ritme pertumbuhan tanaman.

Dari sisi ekologi, keberadaan kopi berperan penting dalam menjaga kondisi lahan. Tajuk kopi membantu melindungi tanah dari erosi, terutama di wilayah dengan curah hujan tinggi seperti Kerinci. Akar tanaman memperbaiki struktur tanah, sementara guguran daun menambah bahan organik. Dengan demikian, kebun telah menjalankan fungsi ekologisnya jauh sebelum kayu manis memasuki fase produktif.

Peran kopi juga terlihat dalam pembentukan mikroklimat kebun. Tanaman ini membantu menjaga kelembapan tanah dan mengurangi fluktuasi suhu di permukaan lahan. Ketika kayu manis masih muda dan belum membentuk naungan, kopi berfungsi sebagai peneduh awal.

Baca juga: Tumpang Sari, Cara Efektif Tanam Cabai di Tengah Tingginya Harga

Seiring waktu, ketika kayu manis tumbuh lebih tinggi dan kanopinya mulai menutup, kopi beradaptasi dengan kondisi cahaya yang lebih rendah. Transisi ini berlangsung secara gradual, mencerminkan dinamika kebun yang tumbuh bersama waktu, bukan berubah secara tiba-tiba.

Praktik tumpangsari ini tidak lahir dari perhitungan teknis yang rumit, melainkan dari pengalaman panjang petani dalam membaca kondisi alam. Seorang petani kopi dan kayu manis di Kerinci menuturkan bahwa pola tanam tersebut telah dilakukan sejak lama.

“Kalau kayu manis masih kecil, kopi membantu menutup kebun. Ada hasil yang bisa dipanen sambil menunggu kayu manis besar,” ujarnya.

Bagi petani, keberadaan kopi memberikan pemasukan rutin dalam rentang waktu menunggu panen kayu manis yang relatif panjang. Dalam perspektif sosial ekonomi pertanian, pola ini dapat dipahami sebagai bentuk diversifikasi sumber pendapatan. Diversifikasi merupakan strategi rasional petani kecil untuk meredam risiko ekonomi akibat fluktuasi harga dan ketidakpastian produksi.

Halaman:

Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Mengapa Anak Muda Enggan Menjadi Petani?
Mengapa Anak Muda Enggan Menjadi Petani?
Tips
Mengembalikan Daya Saing Teh di Pasar Global
Mengembalikan Daya Saing Teh di Pasar Global
Varietas Tanaman
Nilam, Masihkah Primadona?
Nilam, Masihkah Primadona?
Varietas Tanaman
Gambir: Komoditas Tua dari Sumatera yang Diam-Diam Diburu Industri Dunia
Gambir: Komoditas Tua dari Sumatera yang Diam-Diam Diburu Industri Dunia
Varietas Tanaman
Kakao Indonesia 2026: Menguatkan Hulu dan Menjaga Hilir
Kakao Indonesia 2026: Menguatkan Hulu dan Menjaga Hilir
Varietas Tanaman
Aren, Pohon Liar yang Menyimpan Masa Depan
Aren, Pohon Liar yang Menyimpan Masa Depan
Varietas Tanaman
Masa Depan Kelapa di Negeri Nyiur Melambai
Masa Depan Kelapa di Negeri Nyiur Melambai
Varietas Tanaman
Saat Kita Terlalu Bergantung pada Beras
Saat Kita Terlalu Bergantung pada Beras
Varietas Tanaman
Meraup Keuntungan dari Lada Lampung
Meraup Keuntungan dari Lada Lampung
Varietas Tanaman
Surplus Pangan, Mengapa Impor?
Surplus Pangan, Mengapa Impor?
Varietas Tanaman
Kopi dan Kakao Indonesia: Komoditas Ekspor yang Paling Dicari Dunia
Kopi dan Kakao Indonesia: Komoditas Ekspor yang Paling Dicari Dunia
Varietas Tanaman
Gula Aren dan Kebangkitan Ekonomi Desa Berbasis Agroforestri
Gula Aren dan Kebangkitan Ekonomi Desa Berbasis Agroforestri
Varietas Tanaman
Mete Indonesia Makin Berjaya di Pasar Internasional
Mete Indonesia Makin Berjaya di Pasar Internasional
Varietas Tanaman
Dari Kebun Kelapa dan Ladang Jagung Mereka Bangkit
Dari Kebun Kelapa dan Ladang Jagung Mereka Bangkit
Varietas Tanaman
Menguatkan Akar dan Menjahit Masa Depan: Arah Baru Perkebunan Nasional
Menguatkan Akar dan Menjahit Masa Depan: Arah Baru Perkebunan Nasional
Varietas Tanaman
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau