Penulis
JAKARTA, KOMPAS.com — Pemerintah Indonesia terus mengupayakan percepatan tindak lanjut kerja sama investasi di sektor fosfat bersama perusahaan asal Aljazair, Somiphos.
Langkah strategis ini diambil guna memperkuat ketersediaan bahan baku pupuk serta menjamin keberlanjutan industri pertanian nasional.
Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Muhammad Saleh Mustafa mendorong agar PT Pupuk Indonesia (Persero) dan Somiphos segera menyepakati joint study agreement (perjanjian studi bersama) sebagai pijakan konkret sebelum memasuki tahap investasi.
Dukungan tersebut disampaikan Wamentan Saleh seusai menggelar pertemuan dengan Duta Besar Republik Indonesia untuk Aljazair, Yusron Bahauddin Ambary, di Jakarta, Kamis (15/10/2026).
Baca juga: Cara Membuat Pupuk Cair dari Air Kelapa dan Manfaatnya
“Harapannya, kita bisa sampai pada joint study agreement,” ujar Saleh, dikutip Kompas.com, Minggu (18/10/2026).
Saleh menjelaskan, studi bersama ini krusial untuk memperjelas ruang lingkup serta mengkaji secara mendalam potensi investasi yang saling menguntungkan kedua belah pihak.
Kendati demikian, rencana ini masih dalam tahap pembahasan awal dan belum memasuki fase pembangunan fisik.
Duta Besar RI untuk Aljazair, Yusron Bahauddin Ambary, mengungkapkan bahwa Pemerintah Aljazair membuka pintu selebar-lebarnya bagi BUMN maupun perusahaan swasta Indonesia untuk menggarap potensi fosfat di negaranya.
Bahkan, Aljazair memberikan garansi berupa akses prioritas bagi investor asal Indonesia.
Yusron menyebutkan, komitmen tersebut disampaikan langsung oleh Presiden Aljazair Abdelmadjid Tebboune saat dirinya menyerahkan surat kepercayaan sebagai Duta Besar RI.
Baca juga: Manfaat Kulit Jeruk sebagai Pupuk Tanaman dan Cara Menggunakannya
“Pemerintah Aljazair mengundang pengusaha Indonesia, baik BUMN maupun swasta, untuk berinvestasi, terutama di sektor fosfat. Mereka juga menyampaikan bahwa investor Indonesia akan mendapatkan prioritas,” kata Yusron.
Saat ini, Aljazair membidik target produksi fosfat mencapai 10 juta ton per tahun. Tingginya target produksi ini menjadi peluang masif bagi Indonesia untuk masuk ke dalam industri penambangan dan pengolahan fosfat secara langsung dari hulu.
Langkah diplomasi ekonomi ini merupakan kelanjutan dari nota kesepahaman yang sebelumnya telah ditandatangani oleh PT Pupuk Indonesia dan Somiphos pada 20 Januari 2026.
Kesepahaman tersebut mencakup penjajakan pasokan fosfat, peluang investasi tambang, hingga pengembangan industri pupuk berbasis fosfat.
Baca juga: Transformasi Digital Petrokimia Gresik untuk Penyaluran Pupuk Bersubsidi
Langkah memperluas dan mendiversifikasi sumber pasokan impor batuan fosfat dipandang sebagai strategi krusial.
Dengan mengamankan rantai pasok dari Aljazair, industri pupuk dalam negeri diharapkan tidak lagi rentan terhadap gejolak pasokan global, sehingga distribusi pupuk bagi petani di Tanah Air tetap terjaga demi mendukung ketahanan pangan nasional.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.
Artikel ini telah masuk Arsip. Berlangganan untuk membacanya kembali kapan saja.