
Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.
DI banyak desa di Sulawesi Utara dan Gorontalo, kebangkitan ekonomi tidak dimulai dari pembangunan infrastruktur skala besar atau dari proyek industri berskala raksasa. Ekonomi dua propinsi di ujung utara pulau Sulawesi ini ditopang oleh keputusan para pelaku ekonomi akar rumput, yaitu menanam komoditas jagung dan kelapa, serta tumpangsari jagung di bawah tegakan kelapa.
Di sela batang-batang tinggi yang selama puluhan tahun menjadi simbol perkebunan rakyat, kini juga tumbuh hamparan jagung yang menguning. Dari kombinasi itu, denyut ekonomi desa kembali berdegup lebih kencang.
Sulawesi Utara (Sulut) dan Gorontalo berada dalam satu koridor ekonomi yang saling melengkapi. Sulut kuat pada basis perkebunan kelapa dan dukungan logistik Pelabuhan Bitung yang menjadi gerbang perdagangan kawasan timur Indonesia. Gorontalo menonjol sebagai sentra jagung nasional dengan jejaring pemasaran antar pulau dan atar negara yang telah teruji.
Dengan jumlah penduduk gabungan hampir empat juta jiwa pada 2025, struktur ekonomi di kedua provinsi ini masih ditopang sektor primer pertanian, kehutanan, dan perikanan. Di Gorontalo, sektor ini bahkan menyumbang lebih dari sepertiga struktur ekonominya.
Baca juga: Produksi Jagung Melimpah, Amran: Kita Siap-siap Ekspor
Jagung dan kelapa memiliki karakter ekonomi yang berbeda. Jagung adalah “uang tunai” yang berputar cepat. Siklus tanamnya relatif singkat, hasilnya bisa dipanen dalam hitungan bulan, dan langsung masuk ke pasar. Sebaliknya, kelapa adalah “aset tahunan” yang lebih stabil, tetapi berkelanjutan. Pohonnya bisa produktif puluhan tahun, dengan panen berulang, meski harga dan produktivitas sering naik turun.
Data produksi beberapa tahun terakhir memperlihatkan dinamika tersebut. Gorontalo secara konsisten memproduksi jagung dan kelapa dalam skala besar; pada 2025 produksi jagung pipilan kering diperkirakan mencapai lebih dari 650 ribu ton, sementara produksi kelapa tahunannya berada di kisaran 65–66 ribu ton.
Di sisi lain, Sulawesi Utara termasuk sentra utama nasional untuk komoditas kelapa dengan produksi stabil di kisaran 260–270 ribu ton per tahun, sedangkan produksi jagungnya pada 2025 diperkirakan sekitar 108 ribu ton. Kombinasi keduanya menciptakan pola pendapatan yang saling mengisi.
Ketika harga kopra melemah atau pohon kelapa menua dan butuh peremajaan, jagung menjadi penopang arus kas. Sebaliknya, ketika musim atau harga jagung berfluktuasi, kelapa tetap berdiri sebagai sumber pendapatan rutin.
Diversifikasi ini bukan sekadar pilihan teknis, melainkan strategi manajemen risiko di tingkat rumah tangga tani. Lebih jauh lagi, praktik tumpangsari menjawab satu persoalan klasik perkebunan rakyat, ketersediaan lahan dan ruang kosong yang kurang produktif.
Sejumlah kajian menunjukkan bahwa sekitar 80 persen lahan di bawah tegakan kelapa berpotensi dimanfaatkan untuk tanaman sela. Artinya, selama ini ada ruang ekonomi yang belum sepenuhnya dioptimalkan.
Tentu saja, menanam jagung di bawah kelapa bukan berarti sekadar menebar benih. Naungan sekitar 30–40 persen menuntut pemilihan varietas yang toleran serta manajemen pemupukan yang tepat. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa dengan varietas tertentu dan paket budidaya yang sesuai, jagung di bawah kelapa mampu menghasilkan sekitar 4,7 hingga 5,5 ton per hectare, angka yang tidak jauh berbeda dengan lahan terbuka.
Jarak tanam, pemupukan organik dan anorganik secara bertahap, serta pengelolaan air di lahan kering menjadi kunci. Lahan di banyak wilayah Sulut dan Gorontalo adalah lahan kering yang sangat dipengaruhi pola curah hujan. Dalam situasi perubahan iklim dan ketidakpastian musim, disiplin budidaya menjadi semakin penting. Namun justru di situlah kekuatan pendekatan ini.
Tumpangsari bukan praktik coba-coba, melainkan sistem yang bisa distandardisasi. Ketika petani didampingi dengan prinsip Good Agricultural Practices (GAP), hasilnya tidak sekadar tambahan panen, melainkan peningkatan efisiensi lahan dan stabilitas pendapatan. Secara ilustratif, dengan produktivitas sekitar lima ton per hektare dan harga yang wajar, jagung dapat memberikan tambahan pendapatan bersih jutaan rupiah per musim tanam.
Uang ini berputar di desa, membayar tenaga kerja, membeli pupuk, memperbaiki rumah, membiayai sekolah anak. Inilah efek pengganda yang sering luput dari sorotan.
Kebangkitan ekonomi sejati tidak berhenti di kebun. Nilai tambah harus diperpanjang hingga ke hilir. Di sinilah jagung dan kelapa memiliki potensi sinergi yang lebih besar. Jagung merupakan sumber energi utama dalam industri pakan ternak, sementara bungkil kelapa menyumbang protein dan serat. Di Gorontalo tersedia pula dedak dan tepung ikan sebagai bahan pelengkap.
Jika bahan baku ini diolah dalam industri pakan lokal, maka tercipta ekosistem agroindustri yang menyerap tenaga kerja dan memperkuat daya tawar petani.
Selama ini, sebagian jagung Gorontalo dikirim ke luar daerah dalam bentuk bahan mentah. Pengiriman ribuan ton ke Jakarta dan Padang, hingga ekspor ke Philipina dan Malaysia menunjukkan kekuatan produksi, tetapi juga menyiratkan peluang yang belum sepenuhnya ditangkap, yaitu berupa hilirisasi komoditas lokal.
Di Sulut, keunggulan logistik melalui Pelabuhan Bitung memberi peluang lebih besar. Dengan kebijakan direct call dan penguatan peran Bitung sebagai gerbang Asia Pasifik, komoditas kelapa dan turunannya memiliki akses pasar yang luas. Namun agar pelabuhan menjadi mesin pertumbuhan yang inklusif, pasokan dari hulu harus stabil dan berkelanjutan. Tumpangsari kelapa dan jagung tentunya menjaga pendapatan petani adalah bagian dari stabilitas itu.
Program penguatan kawasan berbasis korporasi petani dan pelatihan teknis, hingga dukungan pembiayaan investasi peralatan yang difasilitasi pemerintah juga menunjukkan pendekatan baru pembangunan pertanian. Petani tidak lagi hanya diposisikan sebagai penerima bantuan semata, melainkan sebagai pelaku usaha yang terorganisasi dalam berbisnis.
Di tengah perubahan pola musim dan meningkatnya risiko cuaca ekstrem, strategi diversifikasi bukan lagi pilihan tambahan, melainkan kebutuhan. Gangguan pasokan akibat musim yang tak menentu kerap memicu tekanan inflasi pangan dan mengguncang pendapatan petani. Dalam konteks itulah kelapa dan jagung menemukan makna barunya, bukan sekadar komoditas, melainkan instrumen ketahanan.
Ketika satu terpukul harga atau produksi, yang lain menopang. Ketika musim bergeser, siklus tanam dapat disesuaikan. Diversifikasi ini memberi bantalan sosial-ekonomi bagi rumah tangga tani sekaligus menumbuhkan rasa percaya diri. Lahan yang lebih produktif dan pendapatan yang lebih stabil mendorong petani berani berinvestasi memperbaiki kebun, membeli alat, bahkan mengakses pembiayaan formal.
Sulawesi Utara dan Gorontalo menunjukkan bahwa transformasi ekonomi tidak selalu harus dimulai dari proyek besar, namun bisa tumbuh dari aset lama yang dioptimalkan dengan cara baru. Kelapa yang telah puluhan tahun berdiri kini memberi ruang bagi jagung, dan jagung yang dipanen hari ini memperkuat daya tahan kebun kelapa esok hari.
Dari kebun-kebun itulah kebangkitan bersemi perlahan, tetapi pasti dan menegaskan bahwa masa depan ekonomi kawasan timur Indonesia bertumpu pada sumberdaya dan lahan sendiri yang dikelola dengan cerdas dan berani berubah.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com. Download sekarang