Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Steph Subanidja
Dosen

Guru Besar Ilmu Manajemen, Dosen Program Studi Doktor Manajemen Berkelanjutan Institut Perbanas

Surplus Pangan, Mengapa Impor?

Kompas.com, 23 Februari 2026, 09:03 WIB

Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.

Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini
Editor Wisnubrata

KABAR tentang kemungkinan impor beras dan jagung dari Amerika Serikat (AS) membuat publik bertanya-tanya: bukankah Indonesia sedang surplus? Bukankah pemerintah menyatakan kita telah swasembada beras dan jagung? Jika produksi cukup, bahkan berlebih, mengapa tetap membuka keran impor?

Pertanyaan ini wajar. Pangan menyangkut hajat hidup orang banyak. Namun untuk memahami duduk persoalannya, kita perlu melihat angka dan konteks perdagangan secara utuh—bukan hanya satu komoditas.

Surplus itu nyata, bukan sekadar narasi

Data produksi menunjukkan posisi Indonesia relatif kuat. Produksi beras nasional tahun 2025 berada di kisaran 34,7 juta ton, sementara kebutuhan konsumsi nasional sekitar 31 juta ton per tahun. Artinya terdapat surplus sekitar 3–3,5 juta ton. Stok beras nasional pada awal 2026 bahkan melampaui 12 juta ton, cukup untuk menopang kebutuhan beberapa bulan ke depan.

Untuk jagung, produksi nasional 2025 sekitar 16,1 juta ton, dengan kebutuhan domestik kurang lebih 15,6 juta ton. Surplusnya mendekati 0,5 juta ton. Stok awal 2026 sekitar 4,5 juta ton, menandakan pasokan relatif aman.

Secara matematis, Indonesia tidak membutuhkan impor besar untuk memenuhi konsumsi rumah tangga maupun kebutuhan pakan ternak. Program peningkatan produktivitas pertanian dalam beberapa tahun terakhir memang mulai menunjukkan hasil. Karena itu, jika muncul kabar soal impor beras sekitar 1.000 ton dari AS, masyarakat perlu melihat skalanya.

Dibandingkan produksi 34,7 juta ton, angka tersebut sangat kecil—bahkan kurang dari 0,01 persen. Secara struktural, jumlah itu tidak mengubah neraca pangan nasional.

Baca juga: Prabowo: Tahun 2025, Kita Tidak Impor Beras Sama Sekali

Impor dalam kerangka dagang yang lebih luas

Lalu mengapa tetap ada akses impor? Jawabannya ada pada konteks perjanjian perdagangan bilateral. Hubungan dagang Indonesia–AS tidak hanya menyangkut beras atau jagung. Dalam beberapa waktu terakhir, Indonesia juga meningkatkan impor dari AS untuk berbagai komoditas lain seperti kedelai, gandum, kapas, daging sapi, produk susu, hingga energi seperti LPG dan minyak mentah.

Bahkan Indonesia juga membeli pesawat terbang dan produk teknologi tinggi dari AS sebagai bagian dari hubungan ekonomi strategis.

Kedelai, misalnya, memang masih sangat bergantung pada impor karena produksi dalam negeri belum mencukupi kebutuhan industri tahu dan tempe. Kebutuhan kedelai nasional berada di atas 2 juta ton per tahun, sementara produksi lokal hanya sebagian kecilnya. Demikian pula gandum—Indonesia hampir sepenuhnya mengimpor karena kondisi agroklimat tidak mendukung produksi dalam negeri.

Artinya, dalam struktur perdagangan, Indonesia memang mengimpor beberapa komoditas strategis dari AS dan negara lain, sementara di sisi lain Indonesia mengekspor produk seperti tekstil, alas kaki, elektronik, karet, sawit, dan produk manufaktur lainnya.

Dalam konteks itu, pembukaan akses impor beras dan jagung—terutama dalam jumlah sangat terbatas atau untuk kebutuhan industri tertentu—bisa menjadi bagian dari paket hubungan dagang yang lebih luas. Ini sering disebut sebagai reciprocal trade atau perdagangan timbal balik.

Jadi, impor beras dan jagung tidak berdiri sendiri. Ia berada dalam satu kerangka besar hubungan ekonomi bilateral.

Baca juga: Kemenko Perekonomian: Impor Jagung dari AS Tak Ganggu Produksi Lokal

Swasembada bukan isolasi

Swasembada sering dipahami sebagai kondisi tanpa impor sama sekali. Padahal dalam praktik ekonomi modern, swasembada berarti kemampuan memenuhi kebutuhan utama dari produksi sendiri—bukan menutup diri dari perdagangan global. Bahkan negara dengan produksi pertanian raksasa seperti AS tetap melakukan impor komoditas tertentu untuk kebutuhan industri atau menjaga stabilitas harga.

Perdagangan global bekerja berdasarkan keunggulan komparatif dan efisiensi. Yang menjadi persoalan bukan ada atau tidaknya impor, melainkan tingkat ketergantungan dan dampaknya terhadap petani lokal. Selama impor sangat kecil dibanding produksi nasional, tidak terjadi dumping harga, dan tidak merusak insentif produksi petani, maka ketahanan pangan tetap terjaga.

Dalam kasus Indonesia, produksi beras dan jagung saat ini berada dalam posisi surplus. Itu berarti fondasi swasembada relatif kuat. Impor terbatas dalam konteks perdagangan bilateral tidak otomatis menggugurkan capaian tersebut. Yang harus dijaga: harga dan keseimbangan

Halaman:

Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Masa Depan Cerah Kakao Indonesia
Masa Depan Cerah Kakao Indonesia
Varietas Tanaman
Kelapa Genjah Kopyor: Agronomi, Rantai Nilai, dan Pengembangan
Kelapa Genjah Kopyor: Agronomi, Rantai Nilai, dan Pengembangan
Varietas Tanaman
Meremajakan Kebun Kelapa untuk Industri Bernilai Tinggi
Meremajakan Kebun Kelapa untuk Industri Bernilai Tinggi
Varietas Tanaman
Dari Rempah Dunia ke Kebun yang Rentan
Dari Rempah Dunia ke Kebun yang Rentan
Varietas Tanaman
Aren Minahasa: Akar Tradisi dan Ekonomi Rakyat
Aren Minahasa: Akar Tradisi dan Ekonomi Rakyat
Varietas Tanaman
Aroma Cengkeh dan Perjuangan Petani Menembus Pasar
Aroma Cengkeh dan Perjuangan Petani Menembus Pasar
Varietas Tanaman
Kopi Indonesia Naik Kelas: Inovasi, Entrepreneur, dan Nilai Tambah
Kopi Indonesia Naik Kelas: Inovasi, Entrepreneur, dan Nilai Tambah
Varietas Tanaman
Cokelat Specialty: Mendorong Kakao Berdaya Saing
Cokelat Specialty: Mendorong Kakao Berdaya Saing
Varietas Tanaman
Saatnya Kayu Manis Indonesia Laris di Pasar Global
Saatnya Kayu Manis Indonesia Laris di Pasar Global
Varietas Tanaman
Gambir dan Nilai Tambah yang Harus Diwujudkan
Gambir dan Nilai Tambah yang Harus Diwujudkan
Varietas Tanaman
Ketika Vanili Menjadi Harapan Petani
Ketika Vanili Menjadi Harapan Petani
Varietas Tanaman
Kayu Manis Kerinci dan Peluang Rempah Indonesia di Pasar Dunia
Kayu Manis Kerinci dan Peluang Rempah Indonesia di Pasar Dunia
Varietas Tanaman
Mengapa Anak Muda Enggan Menjadi Petani?
Mengapa Anak Muda Enggan Menjadi Petani?
Tips
Mengembalikan Daya Saing Teh di Pasar Global
Mengembalikan Daya Saing Teh di Pasar Global
Varietas Tanaman
Nilam, Masihkah Primadona?
Nilam, Masihkah Primadona?
Varietas Tanaman
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau