Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Patimah Anjelina
Dosen

Patimah Anjelina adalah akademisi di Fakultas Pertanian Universitas Andalas (Kampus III Dharmasraya) dan penulis yang aktif mengulas isu pertanian, lingkungan, dan pengelolaan sumber daya alam dari perspektif ilmiah yang aplikatif dan mudah dipahami publik

Nilam, Masihkah Primadona?

Kompas.com, 8 Maret 2026, 18:26 WIB

Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.

Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini
Editor Wisnubrata

AROMA itu mungkin tidak pernah benar-benar kita sadari. Ia hadir diam-diam dalam botol parfum mahal, sabun premium, hingga kosmetik yang dijual di butik-butik dunia. Namun, di balik keharuman yang elegan itu, ada daun kecil dari ladang-ladang tropis Nusantara: nilam.

Selama puluhan tahun, tanaman bernama ilmiah Pogostemon cablin ini disebut sebagai salah satu “primadona” perkebunan Indonesia. Bukan tanpa alasan. Indonesia memasok sekitar 80–90 persen kebutuhan minyak nilam dunia, menjadikannya produsen sekaligus pemain utama dalam rantai industri wewangian global.

Di pusat industri parfum dunia seperti Grasse, Perancis, minyak nilam menjadi bahan penting yang hampir tidak tergantikan. Senyawa utama dalam minyak ini—patchouli alcohol—berfungsi sebagai fixative, pengikat aroma yang membuat parfum bertahan lama di kulit. Tanpa nilam, banyak parfum terkenal tidak akan memiliki karakter wangi yang sama.

Namun pertanyaannya kini menjadi semakin relevan: di tengah dominasi pasar global itu, apakah nilam masih benar-benar menjadi primadona—terutama bagi petani yang menanamnya?

Baca juga: Nilam dan Kemenyan, Sumber Wewangian Indonesia yang Mendunia

Harum yang Menguasai Pasar Dunia

Dalam sejarah perdagangan minyak atsiri, nilam memiliki posisi yang istimewa. Tanaman ini telah lama dibudidayakan di Sumatera—terutama Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat—sejak masa kolonial. Dari wilayah-wilayah inilah minyak nilam kemudian mengalir ke pasar dunia.

Hingga kini, Indonesia tetap menjadi pemasok utama. Data menunjukkan ekspor minyak nilam Indonesia mencapai sekitar 1.200–1.500 ton per tahun, dengan tujuan pasar antara lain Singapura, Amerika Serikat, Perancis, Swiss, dan Inggris.

Dalam perdagangan minyak atsiri nasional, nilam juga menjadi komoditas utama. Nilai ekspor minyak atsiri Indonesia pada 2024 mencapai sekitar USD 259,54 juta, dan minyak nilam menjadi komoditas utama dengan kontribusi sekitar 54% dari total nilai tersebut. Dominasi ini tidak hanya ditentukan oleh luasnya areal budidaya, tetapi juga kualitas.

Minyak nilam Indonesia dikenal memiliki kadar patchouli alcohol tinggi—sering kali di atas 30 persen—lebih tinggi dari standar internasional sekitar 25 persen. Kualitas inilah yang membuat industri parfum dunia sangat bergantung pada pasokan dari Indonesia.

Dengan fakta-fakta tersebut, tidak berlebihan jika nilam selama ini disebut sebagai salah satu komoditas aromatik paling penting bagi Indonesia. Namun dominasi pasar global tidak selalu sejalan dengan kesejahteraan di tingkat lokal.

Baca juga: Minyak Nilam Indonesia yang Mengharumkan Dunia

Ketika Primadona Tidak Selalu Menyejahterakan

Bagi petani, cerita tentang nilam sering kali tidak semanis aromanya. Harga minyak nilam dikenal sangat fluktuatif dan dapat berubah tajam mengikuti dinamika pasar global minyak atsiri, juga tergantung kualitas dan kadar patchouli alcohol.

Fluktuasi ini menciptakan siklus yang tidak stabil. Ketika harga tinggi, petani berbondong-bondong menanam nilam. Namun ketika harga jatuh, banyak yang meninggalkannya dan beralih ke komoditas lain.

Masalah lainnya adalah struktur rantai nilai. Sebagian besar minyak nilam Indonesia masih diekspor dalam bentuk bahan mentah atau setengah olahan. Nilai tambah terbesar justru dinikmati oleh industri parfum, kosmetik, dan wewangian di negara lain.

Ironisnya, meskipun Indonesia menguasai mayoritas pasokan bahan baku, industri hilir global—yang menghasilkan nilai ekonomi jauh lebih besar—didominasi oleh perusahaan-perusahaan di Eropa dan Amerika. Dengan kata lain, Indonesia adalah raja bahan baku, tetapi bukan pemain utama dalam industri produk akhir.

Situasi ini mencerminkan pola yang sering terjadi dalam ekonomi komoditas: negara penghasil bahan mentah menjadi pemasok, sementara keuntungan terbesar mengalir ke industri pengolahan di negara lain.

Baca juga: Jenis Hama Tanaman Nilam dan Cara Mengendalikannya

Tantangan yang Muncul dari Dalam

Selain persoalan rantai nilai, sektor nilam juga menghadapi berbagai tantangan struktural. Pertama adalah produktivitas. Pada tingkat budidaya, produksi daun nilam biasanya berkisar 200–300 kilogram daun kering per hektare, yang kemudian menghasilkan sekitar 15–20 liter minyak setelah proses penyulingan.

Halaman:

Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Nilam, Masihkah Primadona?
Nilam, Masihkah Primadona?
Varietas Tanaman
Gambir: Komoditas Tua dari Sumatera yang Diam-Diam Diburu Industri Dunia
Gambir: Komoditas Tua dari Sumatera yang Diam-Diam Diburu Industri Dunia
Varietas Tanaman
Kakao Indonesia 2026: Menguatkan Hulu dan Menjaga Hilir
Kakao Indonesia 2026: Menguatkan Hulu dan Menjaga Hilir
Varietas Tanaman
Aren, Pohon Liar yang Menyimpan Masa Depan
Aren, Pohon Liar yang Menyimpan Masa Depan
Varietas Tanaman
Masa Depan Kelapa di Negeri Nyiur Melambai
Masa Depan Kelapa di Negeri Nyiur Melambai
Varietas Tanaman
Saat Kita Terlalu Bergantung pada Beras
Saat Kita Terlalu Bergantung pada Beras
Varietas Tanaman
Meraup Keuntungan dari Lada Lampung
Meraup Keuntungan dari Lada Lampung
Varietas Tanaman
Surplus Pangan, Mengapa Impor?
Surplus Pangan, Mengapa Impor?
Varietas Tanaman
Kopi dan Kakao Indonesia: Komoditas Ekspor yang Paling Dicari Dunia
Kopi dan Kakao Indonesia: Komoditas Ekspor yang Paling Dicari Dunia
Varietas Tanaman
Gula Aren dan Kebangkitan Ekonomi Desa Berbasis Agroforestri
Gula Aren dan Kebangkitan Ekonomi Desa Berbasis Agroforestri
Varietas Tanaman
Mete Indonesia Makin Berjaya di Pasar Internasional
Mete Indonesia Makin Berjaya di Pasar Internasional
Varietas Tanaman
Dari Kebun Kelapa dan Ladang Jagung Mereka Bangkit
Dari Kebun Kelapa dan Ladang Jagung Mereka Bangkit
Varietas Tanaman
Menguatkan Akar dan Menjahit Masa Depan: Arah Baru Perkebunan Nasional
Menguatkan Akar dan Menjahit Masa Depan: Arah Baru Perkebunan Nasional
Varietas Tanaman
Kopi dan Kayu Manis di Kerinci: Praktik Tumpangsari yang Menjaga Kebun Tetap Hidup
Kopi dan Kayu Manis di Kerinci: Praktik Tumpangsari yang Menjaga Kebun Tetap Hidup
Varietas Tanaman
Secangkir Optimisme Teh Indonesia
Secangkir Optimisme Teh Indonesia
Varietas Tanaman
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau