
Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.
Produktivitas ini sangat dipengaruhi oleh teknik budidaya, varietas tanaman, dan teknologi penyulingan. Di banyak daerah, penyulingan masih dilakukan secara tradisional sehingga rendemen minyak relatif rendah.
Kedua adalah masalah keberlanjutan. Di beberapa wilayah, ekspansi budidaya nilam bahkan dikaitkan dengan pembukaan lahan baru, termasuk di daerah hutan, karena tanaman ini dapat memberikan pendapatan cepat bagi petani. Jika tidak dikelola secara hati-hati, dinamika ini dapat menimbulkan tekanan baru terhadap lingkungan.
Ketiga adalah regenerasi petani dan kelembagaan usaha. Banyak petani nilam masih bekerja secara individual dengan skala kecil. Kelembagaan koperasi, standar kualitas, dan akses pasar yang lebih kuat masih menjadi pekerjaan rumah yang besar.
Baca juga: Minyak Nilam Aceh Tembus Pasar Eropa
Melihat besarnya permintaan global, sebenarnya peluang nilam masih sangat terbuka. Industri parfum, kosmetik, aromaterapi, hingga produk kesehatan terus berkembang, dan minyak nilam tetap menjadi bahan penting yang sulit digantikan. Namun untuk benar-benar menjadikan nilam sebagai “primadona” dalam arti yang lebih luas, Indonesia tidak bisa hanya berhenti pada produksi bahan mentah. Penguatan industri hilir menjadi kunci.
Hilirisasi minyak atsiri—mulai dari fraksinasi minyak, produksi bahan aroma turunan, hingga pengembangan industri parfum lokal—dapat meningkatkan nilai tambah secara signifikan. Di saat yang sama, peningkatan kualitas budidaya dan teknologi penyulingan perlu diperkuat agar produk yang dihasilkan konsisten dan memenuhi standar internasional.
Jika langkah-langkah ini berhasil dilakukan, nilam tidak hanya akan harum di pasar dunia, tetapi juga membawa manfaat ekonomi yang lebih besar bagi daerah-daerah penghasilnya.
Baca juga: Nilam dan Akar Wangi, Aroma Woody Indonesia yang Bukan dari Kayu
Dalam sejarah panjang komoditas tropis, banyak tanaman pernah disebut primadona—kopi, karet, lada, bahkan rempah-rempah yang dahulu mengubah peta dunia. Namun waktu selalu menguji satu hal: apakah kejayaan komoditas itu juga menjadi kejayaan bagi mereka yang menanamnya.
Indonesia boleh saja menjadi penguasa bahan baku nilam dunia. Namun selama nilai tambah terbesar tetap diproduksi di tempat lain, dominasi itu lebih menyerupai kebanggaan statistik daripada kekuatan ekonomi.
Jika nilam masih disebut primadona, pertanyaan yang layak diajukan sebenarnya sederhana: apakah ia benar-benar memuliakan petaninya, atau hanya mengharumkan industri di tempat lain?
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com. Download sekarang