
Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.
SAWAH masih terbentang luas di banyak desa. Namun petaninya semakin menua. Anak-anak petani yang tumbuh di rumah yang sama justru lebih memilih bekerja di kota atau di sektor lain yang dianggap lebih menjanjikan. Sawah tetap ada, tetapi pewarisnya semakin sedikit.
Data Sensus Pertanian 2023 menggambarkan situasi itu dengan cukup jelas. Sekitar 42,4 persen petani Indonesia berada pada kelompok usia menengah, 43–58 tahun. Sementara petani milenial berusia 19–39 tahun hanya sekitar 21,9 persen dari total. Sisanya bahkan sudah berada pada kelompok usia lanjut.
Ironisnya, sektor pertanian tetap memegang peran strategis dalam perekonomian nasional. Sektor ini menyerap hampir sepertiga tenaga kerja dan menyumbang sekitar 12–13 persen terhadap Produk Domestik Bruto. Dari sawah dan kebun inilah kebutuhan pangan nasional dipasok sekaligus ekonomi desa ditopang.
Kontradiksi itu memperlihatkan satu kenyataan: sektor yang sangat penting justru menghadapi masalah regenerasi yang serius. Namun menyederhanakan persoalan ini sebagai “anak muda tidak mau bertani” jelas terlalu dangkal. Generasi muda tidak serta-merta menolak tanah dan sawah. Mereka hanya menimbang pilihan secara rasional.
Di tengah ekonomi yang semakin terbuka, pertanian harus bersaing dengan sektor jasa, industri kreatif, hingga ekonomi digital yang menawarkan pendapatan lebih pasti dan mobilitas sosial yang lebih cepat. Pada akhirnya, masalah regenerasi petani bukan soal minat generasi muda. Ia adalah soal rasionalitas ekonomi.
Baca juga: BPS: Nilai Tukar Petani Naik, Pemasukan Lebih Besar
Bagi banyak keluarga petani kecil, bertani identik dengan margin tipis dan ketidakpastian. Harga komoditas mentah mudah berfluktuasi, sementara posisi tawar petani kerap lemah di hadapan pedagang perantara.
Di sisi lain, biaya produksi terus meningkat—mulai dari pupuk, benih, hingga tenaga kerja. Risiko juga tidak kecil. Perubahan iklim membuat ancaman gagal panen semakin nyata. Bahkan ketika panen berhasil, harga belum tentu berpihak kepada petani. Dalam situasi seperti ini, sulit berharap generasi muda melihat pertanian sebagai jalur karier yang menjanjikan.
Generasi muda tumbuh dengan logika yang berbeda. Mereka terbiasa menghitung margin, membaca pasar, dan melihat peluang usaha. Pertanyaan mereka sederhana: seberapa besar nilai tambah yang bisa dihasilkan dan seberapa stabil pendapatan yang dapat diperoleh. Jika pertanian berhenti pada penjualan bahan mentah, daya tarik ekonominya akan terus kalah bersaing.
Regenerasi tidak lahir dari kampanye moral atau romantisasi desa. Ia harus dibangun di atas model usaha yang masuk akal.
Baca juga: Cerita Petani Lampung, Olah Tanah Asam Jadi Kebun Kopi Rendah Emisi
Di sinilah pentingnya hilirisasi. Ketika komoditas tidak lagi dijual dalam bentuk mentah, tetapi diolah, dikemas, dan dipasarkan dengan identitas yang jelas, struktur ekonominya berubah.
Ambil contoh gula aren. Selama bertahun-tahun, aren sering dipandang hanya sebagai tanaman pelengkap di kebun campuran. Ia tumbuh bersama berbagai tanaman lain dalam sistem agroforestri dan produksinya banyak dilakukan oleh industri rumah tangga di desa. Namun tren konsumsi global terhadap gula alami dan produk pangan minim proses mulai mengubah situasi.
Data Badan Pusat Statistik yang diolah Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia menunjukkan nilai ekspor gula aren Indonesia meningkat sekitar 9,8 persen menjadi sekitar 58 juta dolar AS dengan volume lebih dari 31 ribu ton sepanjang Januari–Oktober 2024.
Angka itu memang belum sebesar komoditas perkebunan besar. Tetapi ia menunjukkan satu hal penting: produk tradisional yang diolah dengan nilai tambah dapat berkembang menjadi komoditas ekspor yang kompetitif.
Yang menarik, sebagian besar proses produksinya masih berbasis rumah tangga. Artinya, nilai ekonomi yang tercipta tidak sepenuhnya terserap oleh industri besar, tetapi mengalir langsung ke dapur-dapur produksi di desa. Ketika nira aren diolah menjadi gula semut dengan kemasan modern, dilengkapi sertifikasi pangan, dan dipasarkan melalui platform digital, nilai produknya meningkat tajam.
Perubahan ini juga membuka ruang baru bagi generasi muda—mulai dari pengemasan, desain merek, pemasaran digital, hingga pengelolaan usaha. Model transformasi seperti ini dapat dilihat di sejumlah sentra aren, salah satunya di Kecamatan Lareh Sago Halaban, Kabupaten Lima Puluh Kota.
Di sana, kelompok tani Mutiara memproduksi nira dengan harga sekitar Rp4.000 per liter, gula aren Rp22.000 per kilogram, dan gula semut sekitar Rp40.000 per kilogram. Pertanian tidak lagi sekadar aktivitas produksi primer, tetapi mulai bergerak menjadi bagian dari ekosistem bisnis.
Baca juga: Kisah Petani Muda Aceh Utara Bangun Miharu Farm, Terapkan Smart Farming dan Agrowisata Melon Premium
Namun keberhasilan seperti itu tidak lahir secara spontan. Regenerasi petani bukan sekadar persoalan individu yang “dipanggil pulang ke desa”. Ia sangat bergantung pada ekosistem yang memungkinkan pertanian berkembang sebagai usaha yang layak.
Pertama, akses pembiayaan. Petani muda sering menghadapi kendala agunan dan rekam jejak usaha. Tanpa skema pembiayaan yang adaptif, sulit bagi mereka mengembangkan usaha bernilai tambah.
Kedua, kepastian akses lahan. Fragmentasi lahan dan alih fungsi tanah menjadi tantangan serius. Tanpa kepastian ruang produksi, investasi jangka panjang menjadi berisiko.
Ketiga, kelembagaan ekonomi. Koperasi modern atau agregator yang profesional dapat memperkuat posisi tawar petani dalam rantai pasok. Tanpa kelembagaan yang kuat, skala usaha sulit berkembang.
Keempat, dukungan riset dan inovasi. Teknologi pengolahan, efisiensi energi, hingga standardisasi mutu menjadi faktor penting untuk meningkatkan daya saing produk pertanian. Di sinilah peran perguruan tinggi dan lembaga riset menjadi strategis.
Jika ekosistem ini terbentuk, pertanian dapat bergerak dari pola subsisten menuju model usaha yang terintegrasi.
Baca juga: Bagaimana Teknologi Menarik Petani Muda dan Mendorong Swasembada Pangan?
Regenerasi petani juga tidak bisa dilepaskan dari agenda yang lebih luas: ketahanan pangan dan pembangunan ekonomi desa. Ketahanan pangan bukan hanya soal produksi dalam jumlah besar, tetapi juga soal keberlanjutan dan distribusi nilai ekonomi. Desa yang kuat secara ekonomi akan menjadi fondasi sistem pangan yang tangguh.
Di sisi lain, tren global menuju ekonomi hijau membuka peluang baru. Sistem agroforestri seperti kebun campuran aren menunjukkan bahwa produksi pangan dapat berjalan seiring dengan pelestarian lingkungan.
Tajuk pohon menjaga kelembapan tanah, akar membantu konservasi air, dan keberagaman tanaman meningkatkan ketahanan terhadap perubahan cuaca ekstrem. Ketika sistem seperti ini dikombinasikan dengan hilirisasi dan penguatan usaha kecil di desa, pertanian dapat menjadi bagian dari strategi ekonomi hijau yang lebih luas.
Pada akhirnya, regenerasi petani bukan soal membujuk anak muda dengan narasi romantik tentang kembali ke desa. Yang mereka butuhkan adalah kepastian bahwa bekerja di sektor pertanian dapat menghadirkan masa depan yang layak.
Anak muda tidak menolak tanah. Mereka hanya menolak sistem yang tidak memberi kepastian. Jika pertanian mampu menghadirkan nilai tambah yang jelas, akses pasar yang terbuka, dan dukungan kebijakan yang konsisten, regenerasi tidak lagi menjadi persoalan pelik. Ia akan terjadi secara alami.
Tanah tidak pernah kehilangan daya hidupnya. Yang sering hilang adalah keyakinan bahwa mengelolanya dapat menghadirkan masa depan. Ketika alasan ekonomi menjadi terang dan terukur, regenerasi petani bukan lagi slogan kebijakan—melainkan konsekuensi logis dari sistem pertanian yang sehat dan berdaya saing.
Baca juga: Petani Muda Kian Tergerus, FAO Dorong Lewat Program Petani Keren
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com. Download sekarang