
Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.
CENGKEH (Syzygium aromaticum) merupakan salah komoditas paling kuat dalam sejarah ekonomi Indonesia.
Sejak era perdagangan rempah yang menjadikan Nusantara pusat perhatian dunia hingga masa kini ketika menjadi bahan baku utama industri rokok kretek, komoditas ini selalu memegang posisi strategis.
Peran cengkeh tidak hanya historis, tetapi juga ekonomis, karena menyangkut jutaan petani dan rantai industri yang luas di dalam negeri.
Pasar cengkeh Indonesia sesungguhnya sangat besar, dengan konsumsi domestik, terutama untuk industri rokok kretek yang menyerap sebagian besar produksi nasional.
Indonesia bahkan dikenal sebagai konsumen sekaligus produsen cengkeh terbesar dunia, dengan pangsa sekitar 70 persen dan produksi tahunan berkisar 130.000–140.000 ton.
Namun, ironi muncul ketika di tengah dominasi tersebut Indonesia masih melakukan impor. Pada 2022, nilai impor cengkeh mencapai sekitar Rp 222 miliar, sementara ekspor hanya sekitar 9.5000 ton dengan nilai 138 juta dollar AS (sekitar Rp 2,3 triliun), bahkan volumenya turun lebih dari separuh dibandingkan tahun sebelumnya.
Data Kementerian Pertanian menunjukkan bahwa produksi cengkeh nasional pada 2022 mencapai sekitar 133.960 ton bunga kering.
Sebanyak 98 persen berasal dari perkebunan rakyat, yang umumnya berskala kecil, sekitar 1–2 hektar per petani.
Sentra produksi utama berada di Maluku, Sulawesi Selatan, dan Sulawesi Utara, wilayah yang secara historis menjadi pusat rempah dunia.
Dalam periode 2014–2022, produksi cengkeh meningkat dari sekitar 122.100 ton menjadi 133.900 ton.
Namun, peningkatan ini tidak diikuti oleh kenaikan produktivitas yang signifikan. Produktivitas cenderung stagnan di kisaran 400–430 kilogram per hektar.
Artinya, pertumbuhan produksi lebih banyak ditopang oleh faktor luas lahan dan kondisi musim, bukan oleh efisiensi budidaya.
Di sisi perdagangan, tantangan semakin nyata. Ekspor cengkeh Indonesia mengalami penurunan tajam dalam beberapa tahun terakhir.
Dari puncaknya pada 2020 sebesar 47.770 ton, ekspor anjlok menjadi hanya 9.480 ton pada 2022. Penurunan ini mencerminkan dua hal, yaitu meningkatnya konsumsi domestik dan melemahnya daya saing ekspor.
Padahal, dalam jangka panjang, nilai ekspor sebenarnya menunjukkan tren meningkat, dari sekitar 25,4 juta dollar AS pada 2013 menjadi 138 juta dollar AS pada 2022. Namun, kenaikan nilai ini tidak mampu menutupi defisit perdagangan akibat impor yang terus meningkat.