Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kuntoro Boga
Direktur Hilirisasi Hasil Perkebunan, Kementan

Praktisi, Peneliti dan Pengamat Pertanian

Kecubung: Antara Stigma dan Kekayaan Hayati Nusantara

Kompas.com, 13 April 2026, 12:25 WIB

Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.

Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

DI BANYAK sudut lahan Indonesia, kecubung (Datura sp.) tumbuh diam-diam sebagai bagian dari kekayaan flora yang kerap luput dari perhatian. Bunganya besar, menjuntai anggun, dan mengeluarkan aroma khas pada malam hari.

Namun, keindahan itu jarang mendapat apresiasi. Sebaliknya, kecubung lebih sering disebut dengan nada waspada, bahkan ketakutan.

Ia dikenal sebagai “tanaman mabuk”, dilekatkan pada kisah keracunan, penyalahgunaan, hingga cerita mistis yang beredar dari mulut ke mulut.

Di sejumlah desa, tanaman ini bahkan dianjurkan untuk ditebang. Dalam imajinasi publik, kecubung bukanlah aset hayati, melainkan ancaman yang harus dijauhkan.

Fenomena ini mencerminkan persoalan yang lebih luas dalam cara kita memandang keanekaragaman hayati.

Indonesia memang dikenal sebagai salah satu negara dengan biodiversitas tertinggi di dunia, tetapi tidak semua kekayaan itu dipahami secara utuh.

Kecubung menjadi contoh bagaimana minimnya literasi sains dan lingkungan mendorong respons yang serba instan, berupa melarang, membasmi, dan menghindari, tanpa upaya memahami.

Padahal, di balik stigma yang melekat, setiap spesies menyimpan potensi ekologis, bahkan kemungkinan manfaat ilmiah yang belum sepenuhnya tergali.

Ketika ketakutan lebih dominan daripada pengetahuan, maka yang hilang bukan hanya satu tanaman, tetapi juga peluang untuk memanfaatkannya secara bijak.

Memang kecubung mengandung senyawa berbahaya. Alkaloid tropan seperti atropin, skopolamin, dan hiosiamin yang terdapat di dalamnya dapat memicu halusinasi, disorientasi, hingga gangguan serius pada sistem saraf.

Penyalahgunaan tanaman ini untuk tujuan rekreasional telah menimbulkan berbagai kasus keracunan, gangguan kejiwaan, bahkan kematian.

Seluruh bagian tanaman bersifat toksik dan berisiko tinggi jika tidak ditangani dengan benar. Namun, persoalannya menjadi lebih kompleks ketika realitas ini disederhanakan menjadi logika hitam-putih, beracun berarti tidak berguna.

Cara pandang semacam ini tidak hanya menutup ruang pemanfaatan berbasis ilmu pengetahuan, tetapi juga bertentangan dengan kebutuhan Indonesia untuk membangun ekonomi berbasis biodiversitas secara cerdas, hati-hati, dan berkelanjutan.

Antara Racun dan Ilmu Pengetahuan

Kecubung berasal dari genus Datura dan Brugmansia. Tanaman ini mengandung alkaloid tropan seperti atropin dan skopolamin.

Senyawa ini berbahaya bila digunakan sembarangan, tetapi bernilai tinggi dalam dunia medis.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memasukkan atropin ke dalam daftar obat esensial karena perannya dalam anestesi, oftalmologi, dan penanganan kondisi darurat.

Dengan kata lain, zat yang sama bisa menjadi racun atau obat. Perbedaannya bukan pada tanamannya, melainkan pada pengetahuan, dosis, dan tata kelola.

Kasus keracunan kecubung yang kerap muncul di media hampir selalu terkait penyalahgunaan di luar konteks medis.

Namun, menarik kesimpulan bahwa kecubung harus dimusnahkan karena itu sama saja dengan menolak seluruh obat keras karena berisiko disalahgunakan.

Negara-negara dengan tradisi sains yang kuat tidak merespons risiko dengan penghapusan, melainkan dengan pengaturan. Di sinilah kita tertinggal.

Dari sudut pandang ekologi, kecubung bukan tanaman sembarangan. Ia termasuk tanaman pionir yang mampu tumbuh di lahan terganggu, tanah miskin hara, dan area bekas pembukaan lahan.

Dalam konteks Indonesia yang menurut Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan masih menghadapi jutaan hektare lahan kritis, tanaman pionir justru berperan sebagai penyangga awal pemulihan ekosistem.

Sistem perakarannya membantu menahan tanah dan mengurangi erosi. Daunnya yang gugur menambah bahan organik tanah.

Bunganya yang mekar pada malam hari menyediakan nektar bagi penyerbuk nokturnal, seperti ngengat, yang selama ini luput dari perhatian kebijakan konservasi.

Ekologi tidak selalu bekerja secara kasat mata. Tanaman seperti kecubung menjalankan fungsi penting tanpa suara, tanpa sorotan. Ketika ia dibasmi, dampaknya sering baru terasa belakangan, ketika keseimbangan lingkungan mulai terganggu.

Keanekaragaman Hayati sebagai Modal Ekonomi

Lebih dari sekadar isu lingkungan, kecubung membawa kita pada pertanyaan strategis, yaitu bagaimana Indonesia memandang keanekaragaman hayati sebagai modal ekonomi nasional.

Selama ini, biodiversitas sering dibicarakan dalam bahasa moral, harus dijaga karena warisan alam. Padahal di banyak negara, biodiversitas juga dipandang sebagai natural capital yang mendorong inovasi industri, farmasi, dan pertanian.

India, misalnya, mengelola tanaman beralkaloid tinggi secara ketat untuk kebutuhan industri farmasi.

China memadukan pengetahuan tradisional dan riset modern untuk mengembangkan bahan obat dari tanaman yang secara alami bersifat toksik.

Di Eropa, tanaman beracun seperti Atropa belladonna tidak dimusnahkan, melainkan dibudidayakan terbatas untuk kebutuhan medis.

Indonesia justru cenderung mengambil jalan pintas, tindakan menghindari risiko dengan melarang. Akibatnya, kita kehilangan peluang menjadi produsen bahan baku bernilai tinggi dan hanya menjadi pasar produk jadi.

Kecubung juga memiliki potensi sebagai bahan pengendali hayati. Kandungan alkaloidnya tidak disukai banyak serangga perusak tanaman. Dalam praktik tradisional, ekstrak kecubung digunakan secara terbatas untuk mengusir hama.

Di tengah kekhawatiran global terhadap dampak pestisida sintetis, berupa resistensi hama, pencemaran air dan tanah, hingga risiko Kesehatan, banyak negara mulai beralih ke pestisida nabati.

FAO dan WHO mendorong pengurangan ketergantungan pada bahan kimia berbahaya dan pengembangan solusi berbasis alam.

Brasil, misalnya, telah mengembangkan biopestisida dari tanaman lokal sebagai bagian dari strategi pertanian berkelanjutan.

Pendekatan serupa berpotensi diterapkan di Indonesia. Namun, peluang ini hanya mungkin jika tanaman seperti kecubung dipandang sebagai objek riset, bukan sekadar tanaman bermasalah.

Tradisi, Sains, dan Batas yang Tegas

Dalam pengobatan tradisional Nusantara, kecubung dikenal dengan kehati-hatian, terutama untuk penggunaan luar seperti pereda nyeri. Pengetahuan ini diwariskan secara terbatas, tidak untuk konsumsi bebas.

Di sisi lain, farmasi modern memanfaatkan senyawa sejenis kecubung melalui proses panjang, terstandar, dan diawasi ketat.

Batas ini harus ditegaskan. Kecubung bukan tanaman obat rumahan. Namun, menghapusnya dari lingkungan tanpa pemahaman juga bukan solusi.

Tentunya kedepan, yang dibutuhkan adalah kehadiran negara melalui riset, regulasi, dan edukasi publik yang jujur untuk menjelaskan risiko sekaligus potensi.

Stigma terhadap kecubung sejatinya adalah cermin krisis atas ketidaktahuan dan rendahnya literasi lingkungan.

Kita lebih nyaman dengan larangan daripada penjelasan, lebih tenang dengan pembasmian daripada pengelolaan. Pendekatan ini mungkin terasa aman dalam jangka pendek, tetapi merugikan dalam jangka panjang.

Alam tidak bekerja dalam dikotomi baik-buruk. Ia bekerja dalam spektrum risiko dan manfaat. Negara-negara yang maju dalam pengelolaan sumber daya hayati memahami hal ini. Mereka mengelola risiko, bukan menghindarinya secara membabi buta.

Kecubung bukanlah musuh masyarakat, tetapi juga bukan tanaman yang bisa diperlakukan sembarangan. Ia adalah simbol bagaimana bangsa ini memperlakukan keanekaragaman hayatinya sendiri, berupa dengan rasa ingin tahu, atau dengan ketakutan.

Di tengah krisis lingkungan dan kebutuhan transformasi ekonomi berbasis sumber daya hayati, Indonesia membutuhkan cara pandang yang lebih matang. Bukan dengan menakuti, tetapi memahami. Bukan dengan memusnahkan, tetapi mengelola.

Kecubung mengingatkan kita bahwa pengetahuan dan bukan stigma adalah fondasi utama untuk menjadikan keanekaragaman hayati sebagai kekuatan ekologis sekaligus modal ekonomi bangsa.

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com. Download sekarang


Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Kecubung: Antara Stigma dan Kekayaan Hayati Nusantara
Kecubung: Antara Stigma dan Kekayaan Hayati Nusantara
Varietas Tanaman
Era Keemasan Baru Rempah Indonesia
Era Keemasan Baru Rempah Indonesia
Varietas Tanaman
Masa Depan Cerah Kakao Indonesia
Masa Depan Cerah Kakao Indonesia
Varietas Tanaman
Kelapa Genjah Kopyor: Agronomi, Rantai Nilai, dan Pengembangan
Kelapa Genjah Kopyor: Agronomi, Rantai Nilai, dan Pengembangan
Varietas Tanaman
Meremajakan Kebun Kelapa untuk Industri Bernilai Tinggi
Meremajakan Kebun Kelapa untuk Industri Bernilai Tinggi
Varietas Tanaman
Dari Rempah Dunia ke Kebun yang Rentan
Dari Rempah Dunia ke Kebun yang Rentan
Varietas Tanaman
Aren Minahasa: Akar Tradisi dan Ekonomi Rakyat
Aren Minahasa: Akar Tradisi dan Ekonomi Rakyat
Varietas Tanaman
Aroma Cengkeh dan Perjuangan Petani Menembus Pasar
Aroma Cengkeh dan Perjuangan Petani Menembus Pasar
Varietas Tanaman
Kopi Indonesia Naik Kelas: Inovasi, Entrepreneur, dan Nilai Tambah
Kopi Indonesia Naik Kelas: Inovasi, Entrepreneur, dan Nilai Tambah
Varietas Tanaman
Cokelat Specialty: Mendorong Kakao Berdaya Saing
Cokelat Specialty: Mendorong Kakao Berdaya Saing
Varietas Tanaman
Saatnya Kayu Manis Indonesia Laris di Pasar Global
Saatnya Kayu Manis Indonesia Laris di Pasar Global
Varietas Tanaman
Gambir dan Nilai Tambah yang Harus Diwujudkan
Gambir dan Nilai Tambah yang Harus Diwujudkan
Varietas Tanaman
Ketika Vanili Menjadi Harapan Petani
Ketika Vanili Menjadi Harapan Petani
Varietas Tanaman
Kayu Manis Kerinci dan Peluang Rempah Indonesia di Pasar Dunia
Kayu Manis Kerinci dan Peluang Rempah Indonesia di Pasar Dunia
Varietas Tanaman
Mengapa Anak Muda Enggan Menjadi Petani?
Mengapa Anak Muda Enggan Menjadi Petani?
Tips
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau