Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kebutuhan Kelapa China 4 Miliar Butir, Halmahera Utara Siap Jadi Pemasok

Kompas.com, 5 Juni 2026, 07:30 WIB
Aisyah Sekar Ayu Maharani,
Hilda B Alexander

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Kebutuhan kelapa di China mencapai sekitar 4 miliar butir per tahun. Namun, produksi domestik negara tersebut hanya mampu memenuhi sekitar 1 miliar butir.

Menteri Transmigrasi M. Iftitah Sulaiman Suryanagara mengatakan, masih terdapat kebutuhan sekitar 3 miliar butir kelapa yang harus dipenuhi melalui impor.

Menurut dia, peluang tersebut dapat dimanfaatkan oleh daerah penghasil kelapa di Indonesia, termasuk Kabupaten Halmahera Utara, Maluku Utara.

Baca juga: Benarkah Makan Durian Bikin Kolesterol Melonjak? Ini Penjelasan Pakar IPB

"Kebutuhan kelapa di Tiongkok sangat besar, mencapai sekitar 4 miliar butir per tahun. Sementara yang bisa dipenuhi dari dalam negeri mereka hanya sekitar 1 miliar butir. Artinya masih ada kebutuhan sekitar 3 miliar butir yang menjadi peluang besar bagi Indonesia, termasuk Halmahera Utara," kata Iftitah saat mengunjungi PT Natural Indococonut Organik (NICO) di Halmahera Utara, Rabu (03/06/2026), dikutip dari keterangan resmi.

Kunjungan tersebut dilakukan bersama Duta Besar China untuk Indonesia Wang Lutong untuk meninjau perkembangan industri dan hilirisasi kelapa di kawasan transmigrasi setempat.

Iftitah mengatakan, pengembangan industri pengolahan kelapa menjadi bagian dari upaya pemerintah mendorong transformasi kawasan transmigrasi menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru berbasis potensi unggulan daerah.

Harga Kelapa Naik

Menurut Iftitah, kehadiran industri pengolahan kelapa telah memberikan dampak langsung terhadap peningkatan kesejahteraan petani di Halmahera Utara.

Ia menyebutkan, harga kelapa di tingkat petani yang sebelumnya hanya berkisar Rp 500 hingga Rp 700 per butir kini meningkat menjadi Rp 2.500 hingga Rp 3.000 per butir seiring meningkatnya permintaan dari industri.

Selain itu, industri kelapa juga membuka lapangan kerja bagi masyarakat sekitar. Saat ini sekitar 85 persen tenaga kerja di industri tersebut berasal dari masyarakat lokal.

Baca juga: Panen Durian di Lumajang Menurun, Diduga Imbas Abu Vulkanik Semeru

"Dengan adanya industri, permintaan terhadap kelapa meningkat sehingga harga di tingkat petani naik berkali-kali lipat. Selain itu, industri ini juga membuka lapangan kerja yang luas. Hampir 85 persen tenaga kerjanya merupakan masyarakat lokal dengan pendapatan yang berada di atas UMR," ujarnya.

Iftitah menambahkan, kawasan transmigrasi kini tidak lagi hanya berfungsi sebagai lokasi produksi komoditas primer, tetapi telah berkembang menjadi ekosistem ekonomi yang menciptakan nilai tambah dan peluang kerja.

Pabrik Baru Diproyeksikan Serap 20.000 Tenaga Kerja

Peluang ekspor kelapa dari Halmahera Utara diperkirakan semakin besar dengan rencana pengembangan pabrik baru oleh PT NICO. Pabrik tersebut diproyeksikan mampu menggandakan kapasitas produksi perusahaan.

Jika terealisasi, pabrik baru itu diperkirakan menghasilkan sekitar 570 juta butir kelapa per tahun dan menyerap hingga 20.000 tenaga kerja.

"Jika pabrik baru itu terealisasi, produktivitasnya bisa mencapai sekitar 570 juta butir kelapa per tahun dan membuka lapangan kerja hingga 20.000 orang. Dengan pasar yang besar di Tiongkok maupun negara-negara lain, kami optimistis pengembangan ini akan menjadi penggerak ekonomi baru di Halmahera Utara," kata Iftitah.

Baca juga: 7 Cara Memperlebat Durian agar Panennya Menguntungkan

Dalam kesempatan yang sama, Wang Lutong menyampaikan apresiasinya terhadap potensi industri kelapa Indonesia.

Menurut dia, Indonesia merupakan salah satu produsen kelapa terbesar di dunia sekaligus pemasok utama kebutuhan kelapa di China.

"Tiongkok masih sangat bergantung pada impor kelapa dari luar negeri dan Indonesia menjadi salah satu pemasok utama. Kami melihat peluang kerja sama yang sangat besar, tidak hanya dalam perdagangan tetapi juga pengembangan industri pengolahan dan investasi," ujar Wang.

Untuk mendukung pengembangan industri kelapa di kawasan tersebut, Kementerian Transmigrasi akan mendorong peningkatan infrastruktur pendukung, termasuk jalan produksi dan pelabuhan khusus ekspor guna memperlancar distribusi produk ke pasar internasional.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang


Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Kebutuhan Kelapa China 4 Miliar Butir, Halmahera Utara Siap Jadi Pemasok
Kebutuhan Kelapa China 4 Miliar Butir, Halmahera Utara Siap Jadi Pemasok
Varietas Tanaman
JIAT Rp 1,5 Miliar di Rote Ndao Layani 10 Hektar Lahan Pertanian
JIAT Rp 1,5 Miliar di Rote Ndao Layani 10 Hektar Lahan Pertanian
Varietas Tanaman
Ekspor Perkebunan Tumbuh Signifikan dan Dicari Pasar
Ekspor Perkebunan Tumbuh Signifikan dan Dicari Pasar
Varietas Tanaman
Swasembada Pangan dan Pertanian yang Berkelanjutan
Swasembada Pangan dan Pertanian yang Berkelanjutan
Varietas Tanaman
Reformasi Rantai Pasok Kakao
Reformasi Rantai Pasok Kakao
Varietas Tanaman
Menjaga Momentum Kopi Indonesia di Tengah Gejolak Global
Menjaga Momentum Kopi Indonesia di Tengah Gejolak Global
Varietas Tanaman
Nilai Tinggi Kelapa Aromatik di Pasar Global Premium
Nilai Tinggi Kelapa Aromatik di Pasar Global Premium
Varietas Tanaman
Kecubung: Antara Stigma dan Kekayaan Hayati Nusantara
Kecubung: Antara Stigma dan Kekayaan Hayati Nusantara
Varietas Tanaman
Era Keemasan Baru Rempah Indonesia
Era Keemasan Baru Rempah Indonesia
Varietas Tanaman
Masa Depan Cerah Kakao Indonesia
Masa Depan Cerah Kakao Indonesia
Varietas Tanaman
Kelapa Genjah Kopyor: Agronomi, Rantai Nilai, dan Pengembangan
Kelapa Genjah Kopyor: Agronomi, Rantai Nilai, dan Pengembangan
Varietas Tanaman
Meremajakan Kebun Kelapa untuk Industri Bernilai Tinggi
Meremajakan Kebun Kelapa untuk Industri Bernilai Tinggi
Varietas Tanaman
Dari Rempah Dunia ke Kebun yang Rentan
Dari Rempah Dunia ke Kebun yang Rentan
Varietas Tanaman
Aren Minahasa: Akar Tradisi dan Ekonomi Rakyat
Aren Minahasa: Akar Tradisi dan Ekonomi Rakyat
Varietas Tanaman
Aroma Cengkeh dan Perjuangan Petani Menembus Pasar
Aroma Cengkeh dan Perjuangan Petani Menembus Pasar
Varietas Tanaman
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau