Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kuntoro Boga
Direktur Hilirisasi Hasil Perkebunan, Kementan

Praktisi, Peneliti dan Pengamat Pertanian

Swasembada Pangan dan Pertanian yang Berkelanjutan

Kompas.com, 30 April 2026, 14:35 WIB

Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.

Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

PADA 2025, produksi padi Indonesia mencapai 60,21 juta ton gabah kering giling, naik 13,29 persen dibanding 2024. Sementara produksi beras untuk konsumsi mencapai 34,69 juta ton.

Optimisme juga tercermin di sektor perkebunan yang tetap menjadi penopang penting ekonomi nasional, dengan tren konsumsi domestik dan ekspor yang terus menguat, bahkan nilai ekspor sawit menembus ratusan triliun rupiah dan menyerap jutaan tenaga kerja.

Sampai saat ini, Indonesia tetap berada di jajaran produsen perkebunan terbesar dunia.

Dengan fondasi produksi yang kuat dan kontribusi besar sektor perkebunan terhadap devisa serta lapangan kerja, Indonesia sesungguhnya memiliki modal yang cukup untuk membangun swasembada yang bukan hanya tinggi secara angka, tetapi juga adil dan berkelanjutan.

Pemerintah kini menempatkan swasembada pangan sebagai agenda strategis dalam tiga tahun ke depan dan menegaskan bahwa petani harus menjadi pusat dari ekosistem itu.

Justru karena itu, definisi swasembada perlu diperluas. Swasembada abad ini tidak cukup dimaknai sebagai kemampuan memproduksi komoditas pangan di dalam negeri. Ia harus berarti tiga hal sekaligus, yaitu produksi yang cukup, petani lebih sejahtera, dan bentang alam yang tetap sehat lestari.

Fondasi di Balik Angka Produksi

Fondasi pertanian Indonesia memang bertumpu pada pelaku yang skalanya kecil. Sensus Pertanian 2023 mencatat 27,80 juta petani pengguna lahan pertanian.

Dari jumlah itu, 17,25 juta adalah petani gurem, yakni petani dengan penguasaan lahan kurang dari 0,5 hektar.

Artinya, sekitar enam dari sepuluh petani pengguna lahan berada pada skala yang sangat rentan terhadap gejolak harga, perubahan iklim, dan mahalnya biaya produksi.

Karena itu, menaikkan produksi tanpa sekaligus memperkuat posisi petani kecil sama saja dengan membangun rumah pangan nasional di atas fondasi yang rapuh. Angka ini juga mengoreksi kecenderungan kita untuk menyepelekan soal struktur pelaku.

Di sinilah pendekatan Food Systems, Land Use, and Restoration atau FOLUR menjadi relevan. Yang menarik dari pendekatan ini bukan sekadar statusnya sebagai proyek global, melainkan keberaniannya menata ulang cara kita memandang pertanian.

Kemenko Pangan menegaskan bahwa FOLUR Indonesia mendorong transformasi sektor pangan melalui pengelolaan lanskap terpadu.

Dengan kerangka semacam ini, pertanian tidak dibaca semata sebagai urusan tanam dan panen, tetapi sebagai simpul yang menghubungkan pangan, konservasi, restorasi, keanekaragaman hayati, dan daya tahan iklim.

Itulah bahasa kebijakan yang seharusnya diterjemahkan menjadi bahasa publik, produksi harus berdamai dengan ekologi, bukan memenangkan satu dengan mengorbankan yang lain.

Luwu layak dipakai sebagai contoh karena ia menghadirkan wajah konkret dari perdebatan itu.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of

Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Swasembada Pangan dan Pertanian yang Berkelanjutan
Swasembada Pangan dan Pertanian yang Berkelanjutan
Varietas Tanaman
Reformasi Rantai Pasok Kakao
Reformasi Rantai Pasok Kakao
Varietas Tanaman
Menjaga Momentum Kopi Indonesia di Tengah Gejolak Global
Menjaga Momentum Kopi Indonesia di Tengah Gejolak Global
Varietas Tanaman
Nilai Tinggi Kelapa Aromatik di Pasar Global Premium
Nilai Tinggi Kelapa Aromatik di Pasar Global Premium
Varietas Tanaman
Kecubung: Antara Stigma dan Kekayaan Hayati Nusantara
Kecubung: Antara Stigma dan Kekayaan Hayati Nusantara
Varietas Tanaman
Era Keemasan Baru Rempah Indonesia
Era Keemasan Baru Rempah Indonesia
Varietas Tanaman
Masa Depan Cerah Kakao Indonesia
Masa Depan Cerah Kakao Indonesia
Varietas Tanaman
Kelapa Genjah Kopyor: Agronomi, Rantai Nilai, dan Pengembangan
Kelapa Genjah Kopyor: Agronomi, Rantai Nilai, dan Pengembangan
Varietas Tanaman
Meremajakan Kebun Kelapa untuk Industri Bernilai Tinggi
Meremajakan Kebun Kelapa untuk Industri Bernilai Tinggi
Varietas Tanaman
Dari Rempah Dunia ke Kebun yang Rentan
Dari Rempah Dunia ke Kebun yang Rentan
Varietas Tanaman
Aren Minahasa: Akar Tradisi dan Ekonomi Rakyat
Aren Minahasa: Akar Tradisi dan Ekonomi Rakyat
Varietas Tanaman
Aroma Cengkeh dan Perjuangan Petani Menembus Pasar
Aroma Cengkeh dan Perjuangan Petani Menembus Pasar
Varietas Tanaman
Kopi Indonesia Naik Kelas: Inovasi, Entrepreneur, dan Nilai Tambah
Kopi Indonesia Naik Kelas: Inovasi, Entrepreneur, dan Nilai Tambah
Varietas Tanaman
Cokelat Specialty: Mendorong Kakao Berdaya Saing
Cokelat Specialty: Mendorong Kakao Berdaya Saing
Varietas Tanaman
Saatnya Kayu Manis Indonesia Laris di Pasar Global
Saatnya Kayu Manis Indonesia Laris di Pasar Global
Varietas Tanaman
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau