Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Budidaya Jahe Emprit yang Benar agar Panennya Maksimal

Kompas.com, 16 November 2022, 12:00 WIB
Siti Nur Aeni

Penulis

JAKARTA, KOMPAS.com - Tanaman jahe atau Zingiber officinale masuk ke dalam keluarga rimpang-rimpangan. Jahe disebut juga empon-empon, karena sering digunakan untuk campuran jamu tradisional.

Terdapat berbagai macam jenis jahe, antara lain; jahe gajah, jahe merah, dan jahe emprit. Dari semua jenis jahe, jahe emprit memiliki ukuran yang paling kecil.

Namun rasa jahe emprit lebih pedas dan bisa menghangatkan badan. Oleh karena itu, banyak orang mencari rempah-rempah ini.

Baca juga: Mudah, Cara Menanam Jahe di Pekarangan Rumah

Peminat yang tinggi membuat banyak petani tertarik menanam jahe emprit. Selain karena peminat yang tinggi, alasan lain banyak petani menanam tanaman ini yaitu karena cara menanam dan perawatannya cukup mudah.

Ilustrasi jahe. PIXABAY/WEBTECHEXPERTS Ilustrasi jahe.

Dilansir dari Cybext Kementerian Pertanian, Rabu (16/11/2022), berikut ini tata cara budidaya jahe emprit yang benar agar panennya melimpah.

Pemilihan bibit

Perbanyakan tanaman jahe bisa menggunakan rimpang hasil panen. Oleh sebab itu, pemilihan bibit jahe harus memperhatikan kualitas rimpang.

Induk tanaman yang akan diambil rimpangnya, harus memiliki pertumbuhan yang baik, bebas penyakit, dan menghasilkan rimpang jahe yang melimpah.

Baca juga: Cara Menanam Jahe Merah Metode Vertikultur, Cocok untuk Lahan Sempit

Pengolahan lahan

Tanaman jahe suka terhadap tanah yang gembur dan sedikit berpasir. Oleh karena itu, sebelum melakukan penanaman, perlu dilakukan pengolahan terlebih dahulu. Berikut ini cara pengolahan lahan untuk menanam jahe:

  • Bersihkan lahan dari gulma/rumput liar menggunakan herbisida atau sabit.
  • Gemburkan lahan menggunakan cangkul maupun traktor.
  • Buatlah bedengan dengan lebar 100 hingga 120 cm.
  • Jarak antar bedengan 30 sampai 50 cm.
  • Berikan pupuk kandang sebagai pupuk dasar sebanyak 20 sampai 40 ton/ha.

Ilustras cara menanam jaheShutterstock/Supachai Rattanarueangdech Ilustras cara menanam jahe

Cara penanaman

Setelah semua persiapan selesai, langkah selanjutnya yaitu penanaman jahe dengan langkah-langkah, seperti berikut:

  1. Pilihlah bibit jahe emprit yang sehat dan sudah memiliki bakal tunas.
  2. Buatlah lubang tanam pada bedengan sedalam 3 sampai 5 cm dengan jarak tanam 30 sampai 50 cm.
  3. Tanam jahe emprit yang memiliki 2 hingga 3 bakal tunas.
  4. Masukan ke dalam lubang tanam, kemudian tutup dengan tanah.

Baca juga: Cara Menanam Jahe agar Hasilnya Berlimpah

Pemeliharaan

Tanaman jahe emprit akan menghasilkan rimpang yang banyak jika dipelihara dengan baik. Pemeliharaan yang perlu dilakukan yaitu:

  • Pembersihan rumput liar disekitar tanam.
  • Pemberian pupuk sesuai kebutuhan tanaman.
  • Penyiraman harus dilakukan apabila menanam pada musim kemarau.
  • Pengendalian hama dan penyakit yang menyerang tanaman.

Pemanenan

Tanaman jahe emprit dapat dipanen setelah berumur 8 sampai 12 bulan. Cara panen jahe sangat mudah, cukup menggali pada bagian akar jahe, karena rimpang mengumpul di bagian akar. Kemudian, bersihkan rimpang jahe dari tanah yang masih menempel.

Baca juga: Cara Menanam Jahe di Polybag, Mudah Dilakukan di Rumah

Itulah penjelasan mengenai cara budidaya jahe emprit. Lakukan langkah-langkah di atas supaya tanaman jahe yang ditanam menghasilkan rimpang yang banyak.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang


Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Masa Depan Cerah Kakao Indonesia
Masa Depan Cerah Kakao Indonesia
Varietas Tanaman
Kelapa Genjah Kopyor: Agronomi, Rantai Nilai, dan Pengembangan
Kelapa Genjah Kopyor: Agronomi, Rantai Nilai, dan Pengembangan
Varietas Tanaman
Meremajakan Kebun Kelapa untuk Industri Bernilai Tinggi
Meremajakan Kebun Kelapa untuk Industri Bernilai Tinggi
Varietas Tanaman
Dari Rempah Dunia ke Kebun yang Rentan
Dari Rempah Dunia ke Kebun yang Rentan
Varietas Tanaman
Aren Minahasa: Akar Tradisi dan Ekonomi Rakyat
Aren Minahasa: Akar Tradisi dan Ekonomi Rakyat
Varietas Tanaman
Aroma Cengkeh dan Perjuangan Petani Menembus Pasar
Aroma Cengkeh dan Perjuangan Petani Menembus Pasar
Varietas Tanaman
Kopi Indonesia Naik Kelas: Inovasi, Entrepreneur, dan Nilai Tambah
Kopi Indonesia Naik Kelas: Inovasi, Entrepreneur, dan Nilai Tambah
Varietas Tanaman
Cokelat Specialty: Mendorong Kakao Berdaya Saing
Cokelat Specialty: Mendorong Kakao Berdaya Saing
Varietas Tanaman
Saatnya Kayu Manis Indonesia Laris di Pasar Global
Saatnya Kayu Manis Indonesia Laris di Pasar Global
Varietas Tanaman
Gambir dan Nilai Tambah yang Harus Diwujudkan
Gambir dan Nilai Tambah yang Harus Diwujudkan
Varietas Tanaman
Ketika Vanili Menjadi Harapan Petani
Ketika Vanili Menjadi Harapan Petani
Varietas Tanaman
Kayu Manis Kerinci dan Peluang Rempah Indonesia di Pasar Dunia
Kayu Manis Kerinci dan Peluang Rempah Indonesia di Pasar Dunia
Varietas Tanaman
Mengapa Anak Muda Enggan Menjadi Petani?
Mengapa Anak Muda Enggan Menjadi Petani?
Tips
Mengembalikan Daya Saing Teh di Pasar Global
Mengembalikan Daya Saing Teh di Pasar Global
Varietas Tanaman
Nilam, Masihkah Primadona?
Nilam, Masihkah Primadona?
Varietas Tanaman
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau