
Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.
Produksi gula kelapa atau gula semut di Banyumas telah berlangsung turun-temurun. Pohon kelapa yang tumbuh di kebun-kebun kelapa dan pekarangan rumah penduduk di desa menjadi bagian integral kehidupan masyarakat.
Baca juga: Kedaulatan dari Sebatang Cokelat
Dari sisi ekonomi, kontribusi gula kelapa terhadap kesejahteraan masyarakat sangat signifikan. Ribuan rumah tangga di Banyumas dan sekitarnya menggantungkan hidup dari usaha penyadapan nira dan produksi gula.
Menurut data resmi, sepanjang tahun 2024, Kabupaten Banyumas berhasil mengekspor 5.342 ton gula semut ke berbagai negara tujuan, menegaskan posisinya sebagai basis industri gula kelapa nasional.
Jika dikonversi dengan harga rata-rata Rp 30.000 per kilogram di pasar ekspor, nilai ekonomi dari ekspor tersebut bisa mencapai lebih dari Rp 160 miliar dalam setahun.
Secara lebih luas, kinerja ekspor gula kelapa Indonesia memang menunjukkan tren yang konsisten meningkat.
Data dari International Coconut Community mencatat bahwa ekspor gula kelapa Indonesia tumbuh dari 25.365 ton (42,68 juta dollar AS) pada 2017 menjadi 41.177 ton (73,86 juta dollar AS) pada 2021.
Peningkatan hampir dua kali lipat ini diperkuat pula oleh pasar Amerika Serikat yang melonjak dari 20.703 ton (2012) ke 45.909 ton (2021).
Angka-angka tersebut mencerminkan peluang yang semakin manis bagi produsen lokal, terutama Banyumas sebagai episentrum gula kelapa nasional.
Skala produksi gula kelapa atau gula semut di Indonesia juga terus berkembang. Statistik Terkini Pertanian (Maret 2024) mencatat produksi gula semut nasional sebesar 45.130 ton, naik 3,26 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Bahkan, beberapa sumber data dari kementerian dan lembaga penelitian menyebut bahwa kontribusi Banyumas terhadap produksi gula kelapa total secara nasional berkisar antara 40–50 persen, meneguhkan status wilayah ini sebagai lumbung utama komoditas.
Meski demikian, data perdagangan menunjukkan Indonesia masih tercatat sebagai net-importir gula semut, dengan ekspor baru mencapai sekitar 83 persen dari volume impor.
Padahal, dari sisi daya saing, analisis Revealed Comparative Advantage (RCA) menunjukkan Indonesia memiliki rata-rata nilai 2,55, menandakan posisi kompetitif di pasar global.
Baca juga: Menembus Pasar Premium Organik
Bahkan, di pasar Arab Saudi nilai RCA Indonesia mencapai 36,92, sementara di Singapura 11,90. Kondisi ini menunjukkan potensi besar yang masih bisa digarap melalui peningkatan produksi dan penguatan hilirisasi.
Kabar baik datang dari upaya hilirisasi yang mulai memberi hasil konkret. Sejak beberapa tahun terakhir, Kementerian Pertanian bersama pemerintah daerah Kabupaten Banyumas, Purbalingga dan Banjarnegara membantu benih dan memfasilitasi pengembangan Kelapa Genjah Entok dan Kelapa Genjah Bali Kuning sebgai sumber bahan baku nira di kabupaten-kabupaten ini.
Sebagai gambaran, pada Maret 2025, Koperasi Induk Nira Lestari di Kulon Progo berhasil mengekspor 20 ton gula semut ke Kanada senilai Rp 800 juta dan 2 ton ke Malaysia senilai Rp 300 juta.
Artikel ini telah masuk Arsip. Berlangganan untuk membacanya kembali kapan saja.