Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kuntoro Boga
Direktur Hilirisasi Hasil Perkebunan, Kementan

Praktisi, Peneliti dan Pengamat Pertanian

Revitalisasi Kebun Teh: Menyatukan Alam, Wisata, dan Harapan

Kompas.com, 9 November 2025, 13:24 WIB

Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.

Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

TEH mulai diperkenalkan ke Indonesia pada abad ke-19 oleh pemerintah kolonial Belanda sebagai komoditas perkebunan yang strategis.

Sejak itu, kebun teh menjamur di kawasan pegunungan yang sejuk, terutama di Jawa Barat, Jawa Tengah, Sumatera Utara, dan sebagian Sulawesi.

Hingga tahun 2024, luas areal perkebunan teh nasional mencapai sekitar 98.000 hektare yang tersebar di sepuluh provinsi, dengan Jawa Barat sebagai pusat utama yang menyumbang hampir 80 persen dari total lahan.

Warisan kolonial ini berkembang menjadi tulang punggung ekonomi di banyak daerah, dan kini menghadapi fase transformasi dari komoditas ekspor menjadi destinasi agrowisata.

Kebun teh kini tak hanya penghasil daun teh kering, tapi juga lanskap wisata yang menarik wisatawan dengan panorama hijau, udara sejuk, dan warisan budaya.

Lebih dari sekadar tanaman ekonomi, kebun teh adalah warisan hidup yang menyatukan aspek ekologi, budaya, dan ekonomi masyarakat.

Agrowisata menawarkan cara baru merawat warisan ini sambil membuka peluang ekonomi kreatif bagi warga sekitar.

Wisata kebun teh menjembatani masa lalu dan masa depan, memperkuat tradisi sambil menghadirkan pengalaman baru bagi wisatawan.

Untuk menjaga kelestarian ini, semua pihak, pemerintah, pelaku industri, komunitas lokal, dan wisatawan perlu bersinergi.

Dengan pengelolaan yang tepat dan berkelanjutan, kebun teh bisa menjadi ikon pariwisata hijau Indonesia yang menguntungkan semua pihak, termasuk industri bertumbuh, masyarakat sejahtera, dan alam tetap terjaga bagi generasi mendatang.

Destinasi agrowisata menarik

Kebun teh di Indonesia bukan sekadar bentangan hijau yang menenangkan mata, melainkan bagian dari lanskap sosial, ekonomi, dan budaya bangsa yang tumbuh di dataran tinggi sejak masa kolonial.

Di balik keindahan alamnya, kebun teh kini menemukan makna baru, bukan hanya penghasil bahan minuman, tetapi juga ruang pengalaman dan pengetahuan bagi publik.

Saat wisatawan berjalan di antara barisan pohon teh, mencium aroma pucuk segar, atau mencoba memetik daun muda sendiri, mereka sesungguhnya sedang berinteraksi dengan warisan agraris yang membentuk peradaban masyarakat pegunungan Nusantara.

Di tengah kejenuhan wisata modern yang serba buatan, agrowisata teh menawarkan keaslian dan ketenangan yang kian langka, sekaligus menghadirkan kesadaran ekologis dan kebanggaan terhadap warisan budaya alam Indonesia.

Transformasi kebun teh menjadi destinasi wisata alam kini terlihat di banyak daerah. Agrowisata Gunung Mas di Puncak, misalnya, beralih dari tempat peristirahatan menjadi magnet wisata keluarga dan edukasi, dengan lonjakan kunjungan dari 504.000 pada 2022 menjadi lebih dari 1,2 juta pengunjung pada 2024.

Di lereng Arjuno, Kebun Teh Wonosari menawarkan pemandangan indah dan tur edukatif tentang proses pengolahan teh.

Sementara Kebun Teh Kayu Aro di Jambi menghadirkan panorama spektakuler di kaki Gunung Kerinci.

Pertumbuhan agrowisata teh ini membawa dampak ekonomi nyata bagi masyarakat sekitar, baik warung, homestay, dan UMKM tumbuh subur.

Namun, kasus seperti di Kaligua, Brebes, memperlihatkan bahwa tanpa tata kelola inklusif, manfaat ekonomi belum sepenuhnya dirasakan oleh warga lokal.

Karena itu, keberhasilan agrowisata bukan hanya ditentukan oleh keindahan lanskap, tetapi juga oleh sejauh mana masyarakat menjadi pelaku utama dan penerima manfaat dari aktivitas wisata tersebut.

Lebih jauh, agrowisata teh membawa implikasi penting bagi keberlanjutan lingkungan dan masa depan industri teh nasional.

Nilai tambah dari pariwisata memberi insentif baru bagi pengelola untuk merawat kebun dan menjaga kelestarian alam.

Di Gunung Mas, misalnya, kegiatan replanting dan penghijauan dilakukan bukan hanya demi produksi, melainkan juga untuk menjaga estetika lanskap wisata.

Pendapatan dari wisata membantu menutup biaya perawatan kebun yang sering tertekan fluktuasi harga teh dunia.

Dalam jangka panjang, agrowisata menumbuhkan kesadaran publik dan rasa bangga terhadap teh lokal, energi sosial yang penting untuk menarik kembali minat generasi muda menggeluti industri ini.

Jika dikelola dengan visi jangka panjang dan sinergi antara pemerintah, BUMN, dan masyarakat, agrowisata teh dapat menjadi model pembangunan pedesaan berkelanjutan yang menyatukan kesejahteraan ekonomi, konservasi lingkungan, dan revitalisasi budaya agraris Indonesia.

Warisan ekonomi, ekologi, dan budaya

Untuk memaksimalkan potensi agrowisata teh, kolaborasi erat antarpemangku kepentingan menjadi keharusan.

Pelaku industri, baik BUMN seperti PTPN maupun perusahaan swasta, perlu merangkul pemerintah daerah, komunitas lokal, dan pelaku wisata agar pengembangan destinasi tidak berjalan parsial.

Contoh baik terlihat dari PTPN I Regional 2 yang mengintegrasikan program pemberdayaan masyarakat di sekitar kebun teh dengan pengembangan UMKM berbasis pertanian dan pariwisata.

Kolaborasi dengan pihak swasta juga membuka lapangan kerja bagi warga, dari pemandu wisata hingga petugas pemasaran produk.

Pendekatan semacam ini menunjukkan bahwa pelibatan masyarakat bukan sekadar kewajiban sosial, melainkan kunci keberhasilan ekonomi daerah.

Agrowisata yang hidup adalah yang tumbuh bersama masyarakat, menjadikan mereka pelaku utama, bukan sekadar penonton dalam panggung pariwisata.

Dukungan pemerintah daerah menjadi faktor penentu keberhasilan. Infrastruktur yang memadai, jalan, fasilitas umum, dan promosi dari dinas pariwisata, menjadi syarat dasar agar wisatawan datang dan betah.

Perbaikan akses jalan sejauh 12 kilometer di Kaligua, Brebes, terbukti meningkatkan kunjungan wisata secara signifikan.

Pemerintah juga dapat memperkuat kapasitas masyarakat dengan pelatihan bagi kelompok sadar wisata (Pokdarwis) dan pelaku UMKM.

Kolaborasi dengan perguruan tinggi menambah nilai penting, seperti inisiatif Universitas Jenderal Soedirman yang mendorong model Community-Based Tourism di Kaligua.

Salah satu gagasan konkret adalah pembangunan pusat oleh-oleh di dekat pintu masuk kebun yang menampung produk lokal dari kuliner hingga kerajinan desa.

Melalui langkah-langkah semacam ini, ekonomi wisata benar-benar berputar di sekitar masyarakat, menumbuhkan rasa memiliki, dan menciptakan dasar kuat bagi pelestarian kebun teh itu sendiri.

Namun, di balik prospek cerah tersebut, industri teh dan agrowisatanya menghadapi tiga tantangan besar: stagnasi industri, perubahan iklim, dan alih fungsi lahan.

Produktivitas teh nasional masih rendah, hanya sekitar 1,8 ton per hektare, dengan biaya tinggi dan teknologi yang usang.

Banyak kebun dan pabrik pengolahan sudah tua, sementara sistem pemasaran tradisional menghambat daya saing.

Perubahan iklim memperburuk keadaan, dengan cuaca ekstrem dan serangan hama baru yang menurunkan hasil serta mengganggu kenyamanan wisata.

Lebih mengkhawatirkan lagi, urbanisasi dan alih fungsi lahan telah memangkas luas kebun teh dari 150 ribu hektare pada 2001 menjadi sekitar 102 ribu hektare pada 2021.

Di Jawa Barat, banyak kebun di Puncak dan Bandung berubah menjadi vila dan kebun sayur ilegal, merusak resapan air dan meningkatkan risiko longsor.

Karena itu, keberlanjutan agrowisata teh membutuhkan kebijakan tegas dan konsisten dengan melarang alih fungsi sembarangan, menertibkan pembangunan ilegal, serta memastikan seluruh kegiatan wisata berprinsip konservasi.

Dengan sinergi pentahelix yang kuat dan kesadaran kolektif, kebun teh Indonesia dapat menjadi contoh nyata bagaimana harmoni antara ekonomi, alam, dan manusia dapat dijaga dengan bijak.

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com. Download sekarang


Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Swasembada Pangan dan Pertanian yang Berkelanjutan
Swasembada Pangan dan Pertanian yang Berkelanjutan
Varietas Tanaman
Reformasi Rantai Pasok Kakao
Reformasi Rantai Pasok Kakao
Varietas Tanaman
Menjaga Momentum Kopi Indonesia di Tengah Gejolak Global
Menjaga Momentum Kopi Indonesia di Tengah Gejolak Global
Varietas Tanaman
Nilai Tinggi Kelapa Aromatik di Pasar Global Premium
Nilai Tinggi Kelapa Aromatik di Pasar Global Premium
Varietas Tanaman
Kecubung: Antara Stigma dan Kekayaan Hayati Nusantara
Kecubung: Antara Stigma dan Kekayaan Hayati Nusantara
Varietas Tanaman
Era Keemasan Baru Rempah Indonesia
Era Keemasan Baru Rempah Indonesia
Varietas Tanaman
Masa Depan Cerah Kakao Indonesia
Masa Depan Cerah Kakao Indonesia
Varietas Tanaman
Kelapa Genjah Kopyor: Agronomi, Rantai Nilai, dan Pengembangan
Kelapa Genjah Kopyor: Agronomi, Rantai Nilai, dan Pengembangan
Varietas Tanaman
Meremajakan Kebun Kelapa untuk Industri Bernilai Tinggi
Meremajakan Kebun Kelapa untuk Industri Bernilai Tinggi
Varietas Tanaman
Dari Rempah Dunia ke Kebun yang Rentan
Dari Rempah Dunia ke Kebun yang Rentan
Varietas Tanaman
Aren Minahasa: Akar Tradisi dan Ekonomi Rakyat
Aren Minahasa: Akar Tradisi dan Ekonomi Rakyat
Varietas Tanaman
Aroma Cengkeh dan Perjuangan Petani Menembus Pasar
Aroma Cengkeh dan Perjuangan Petani Menembus Pasar
Varietas Tanaman
Kopi Indonesia Naik Kelas: Inovasi, Entrepreneur, dan Nilai Tambah
Kopi Indonesia Naik Kelas: Inovasi, Entrepreneur, dan Nilai Tambah
Varietas Tanaman
Cokelat Specialty: Mendorong Kakao Berdaya Saing
Cokelat Specialty: Mendorong Kakao Berdaya Saing
Varietas Tanaman
Saatnya Kayu Manis Indonesia Laris di Pasar Global
Saatnya Kayu Manis Indonesia Laris di Pasar Global
Varietas Tanaman
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau