
Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.
KETAHANAN pangan kini menjadi isu penting bagi Indonesia. Usia rata-rata petani di Indonesia sudah berada di kisaran 50 tahun ke atas. Hal ini menimbulkan kekhawatiran serius tentang regenerasi petani di masa depan. Data menunjukkan bahwa partisipasi generasi muda khususnya Generasi Z (lahir 1997-2012) dalam sektor pertanian masih sangat rendah, yakni hanya sekitar 2,14% dari total petani. Sementara itu, sektor pertanian tetap mempunyai peran penting dalam perekonomian dan ketahanan pangan nasional yang tak bisa diabaikan.
Ada dua hal yang menjadi permasalahan utamanya. Pertama, citra pertanian bagi generasi muda dianggap kurang menarik, dengan persepsi sebagai pekerjaan fisik, kurang teknologi, dan pendapatan yang tidak stabil. Kedua, ada kekosongan regenerasi petani yang menyebabkan keberlangsungan produksi pangan nasional berisiko.
Sebagai contoh, menurut Food and Agriculture Organization (FAO) dan data nasional, hampir 80% petani Indonesia berusia di atas 40 tahun, sedangkan Generasi Z hanya 2,14% dari petani. Penyebab masalah ini cukup kompleks. Dari sisi generasi muda, mereka tumbuh dalam era digital dengan keterampilan teknologi, sehingga profesi tradisional seperti bertani dipandang tidak relevan.
Rendahnya minat muda terhadap pertanian karena persepsi “kerja keras + risiko tinggi + imbalan rendah” (YASI, 2022) kembali dikonfirmasi di Indonesia. Dari sisi sistem, ketersediaan teknologi dan akses finansial bagi petani muda sering terbatas.
Sebagai contoh, penelitian di Pucanglaban menunjukkan bahwa pelatihan keterampilan dan akses layanan keuangan secara signifikan meningkatkan kapasitas wirausaha petani muda. Terlebih, adopsi teknologi seperti pertanian presisi (precision farming) terbukti meningkatkan hasil dan efisiensi secara nyata.
Di Indonesia penggunaan pertanian presisi menurunkan konsumsi air hingga 37% dan pupuk 22%, serta meningkatkan hasil panen 23%.
Pertanian modern atau agripreneurship bagi Generasi Z berarti profesi yang mengintegrasikan teknologi digital, data analitik, IoT (Internet of Things) dan nilai bisnis yang berkelanjutan. Dengan ini, pertanian bukan lagi frekuensi kerja monoton di sawah manual, melainkan sebuah profesi kreatif yang memanfaatkan keterampilan digital dan inovasi teknologi.
Konsep ini sesuai dengan teori perubahan sosial yang menyatakan generasi baru akan memasuki profesi yang “bermakna” dan “selaras dengan identitas digital mereka” (Arvianti et al., 2019) yang kemudian diperkuat oleh data bahwa hanya 9% petani di bawah usia 39 tahun di Indonesia.
Baca juga: Kisah Adi, Dulu TKI Sambil Kuliah Kini Jadi Petani Milenial Buah Melon
Ilustrasi petani milenial.Oleh karena itu, perlu langkah-langkah berikut. Pertama, memperkenalkan pendidikan pertanian berbasis teknologi sedini mungkin. Kurikulum sekolah menengah dan perguruan tinggi dapat memasukkan modul pertanian modern seperti pertanian vertikal, aquaponik, dan agriteknologi berbasis IoT.
Penelitian Agrisocionomics menyebut bahwa transformasi generasi milenial petani memerlukan perubahan mindset dari “bertani untuk subsisten” menjadi “bertani sebagai bisnis unit”.
Kedua, membuka akses teknologi dan digitalisasi di lahan pertanian melalui program smart-farming yang dilengkapi sensor tanah, drone pemetaan, aplikasi pemasaran hasil panen yang terbukti dapat mengurangi biaya tenaga kerja hingga 30% dan meningkatkan kualitas panen hingga 15%.
Ketiga, memfasilitasi generasi muda untuk langsung terjun dengan model bisnis agribisnis yang menarik, yaitu pertanian urban, pertanian vertikal di perkotaan, agro-preneurship berbasis digital marketplace, dan value-added processing hasil pertanian sehingga generasi Z melihat potensi keuntungan, kreativitas, dan relevansi teknologi.
Solusi ini bisa diuraikan menjadi beberapa langkah.
(1) Program “Petani Digital Gen Z” yang menyediakan pelatihan gratis dan modul teknologi pertanian untuk generasi muda. Pemerintah melalui Kementerian Pertanian sudah memfasilitasi pelatihan “Cool Agripreneur” bersama FAO untuk 100 peserta muda, dengan modul smart farming, permakultur, dan agribisnis.
(2) Insentif finansial berupa kredit lunak, bantuan alat pertanian digital, dan jaminan harga minimum untuk petani muda merupakan bukti nyata bahwa 27.000 petani muda sudah mendapatkan penghasilan Rp15-20 juta/bulan dengan sistem teknologi pertanian modern.