Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Mugi Muryadi
Wiraswastawan dan Pendidik

Pegiat literasi, praktisi dan pemerhati pendidikan

Mengandaikan Generasi Z Menjadi Agripreneurship

Kompas.com, 1 Desember 2025, 19:34 WIB

Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.

Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini
Editor Wisnubrata

KETAHANAN pangan kini menjadi isu penting bagi Indonesia. Usia rata-rata petani di Indonesia sudah berada di kisaran 50 tahun ke atas. Hal ini menimbulkan kekhawatiran serius tentang regenerasi petani di masa depan. Data menunjukkan bahwa partisipasi generasi muda khususnya Generasi Z (lahir 1997-2012) dalam sektor pertanian masih sangat rendah, yakni hanya sekitar 2,14% dari total petani. Sementara itu, sektor pertanian tetap mempunyai peran penting dalam perekonomian dan ketahanan pangan nasional yang tak bisa diabaikan.

Ada dua hal yang menjadi permasalahan utamanya. Pertama, citra pertanian bagi generasi muda dianggap kurang menarik, dengan persepsi sebagai pekerjaan fisik, kurang teknologi, dan pendapatan yang tidak stabil. Kedua, ada kekosongan regenerasi petani yang menyebabkan keberlangsungan produksi pangan nasional berisiko.

Sebagai contoh, menurut Food and Agriculture Organization (FAO) dan data nasional, hampir 80% petani Indonesia berusia di atas 40 tahun, sedangkan Generasi Z hanya 2,14% dari petani. Penyebab masalah ini cukup kompleks. Dari sisi generasi muda, mereka tumbuh dalam era digital dengan keterampilan teknologi, sehingga profesi tradisional seperti bertani dipandang tidak relevan.

Rendahnya minat muda terhadap pertanian karena persepsi “kerja keras + risiko tinggi + imbalan rendah” (YASI, 2022) kembali dikonfirmasi di Indonesia. Dari sisi sistem, ketersediaan teknologi dan akses finansial bagi petani muda sering terbatas.

Sebagai contoh, penelitian di Pucanglaban menunjukkan bahwa pelatihan keterampilan dan akses layanan keuangan secara signifikan meningkatkan kapasitas wirausaha petani muda. Terlebih, adopsi teknologi seperti pertanian presisi (precision farming) terbukti meningkatkan hasil dan efisiensi secara nyata.

Di Indonesia penggunaan pertanian presisi menurunkan konsumsi air hingga 37% dan pupuk 22%, serta meningkatkan hasil panen 23%.

Pertanian modern atau agripreneurship bagi Generasi Z berarti profesi yang mengintegrasikan teknologi digital, data analitik, IoT (Internet of Things) dan nilai bisnis yang berkelanjutan. Dengan ini, pertanian bukan lagi frekuensi kerja monoton di sawah manual, melainkan sebuah profesi kreatif yang memanfaatkan keterampilan digital dan inovasi teknologi.

Konsep ini sesuai dengan teori perubahan sosial yang menyatakan generasi baru akan memasuki profesi yang “bermakna” dan “selaras dengan identitas digital mereka” (Arvianti et al., 2019) yang kemudian diperkuat oleh data bahwa hanya 9% petani di bawah usia 39 tahun di Indonesia.

Baca juga: Kisah Adi, Dulu TKI Sambil Kuliah Kini Jadi Petani Milenial Buah Melon

Ilustrasi petani milenial.FREEPIK/JCOMP Ilustrasi petani milenial.

Oleh karena itu, perlu langkah-langkah berikut. Pertama, memperkenalkan pendidikan pertanian berbasis teknologi sedini mungkin. Kurikulum sekolah menengah dan perguruan tinggi dapat memasukkan modul pertanian modern seperti pertanian vertikal, aquaponik, dan agriteknologi berbasis IoT.

Penelitian Agrisocionomics menyebut bahwa transformasi generasi milenial petani memerlukan perubahan mindset dari “bertani untuk subsisten” menjadi “bertani sebagai bisnis unit”.

Kedua, membuka akses teknologi dan digitalisasi di lahan pertanian melalui program smart-farming yang dilengkapi sensor tanah, drone pemetaan, aplikasi pemasaran hasil panen yang terbukti dapat mengurangi biaya tenaga kerja hingga 30% dan meningkatkan kualitas panen hingga 15%.

Ketiga, memfasilitasi generasi muda untuk langsung terjun dengan model bisnis agribisnis yang menarik, yaitu pertanian urban, pertanian vertikal di perkotaan, agro-preneurship berbasis digital marketplace, dan value-added processing hasil pertanian sehingga generasi Z melihat potensi keuntungan, kreativitas, dan relevansi teknologi.

Solusi ini bisa diuraikan menjadi beberapa langkah.

(1) Program “Petani Digital Gen Z” yang menyediakan pelatihan gratis dan modul teknologi pertanian untuk generasi muda. Pemerintah melalui Kementerian Pertanian sudah memfasilitasi pelatihan “Cool Agripreneur” bersama FAO untuk 100 peserta muda, dengan modul smart farming, permakultur, dan agribisnis.

(2) Insentif finansial berupa kredit lunak, bantuan alat pertanian digital, dan jaminan harga minimum untuk petani muda merupakan bukti nyata bahwa 27.000 petani muda sudah mendapatkan penghasilan Rp15-20 juta/bulan dengan sistem teknologi pertanian modern.

Halaman:

Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Secangkir Optimisme Teh Indonesia
Secangkir Optimisme Teh Indonesia
Varietas Tanaman
Ketika Pasar Dunia Menunggu Panen Indonesia
Ketika Pasar Dunia Menunggu Panen Indonesia
Varietas Tanaman
Merawat Kopi dan Kakao Sumatera
Merawat Kopi dan Kakao Sumatera
Varietas Tanaman
Durian Indonesia Tak Berdaya di Pasar Global
Durian Indonesia Tak Berdaya di Pasar Global
Varietas Tanaman
Varietas Unggul dalam Pengelolaan Penyakit Jagung
Varietas Unggul dalam Pengelolaan Penyakit Jagung
Varietas Tanaman
Singkong: Komoditas Strategis yang Terlupakan
Singkong: Komoditas Strategis yang Terlupakan
Varietas Tanaman
China Ingin Swasembada Durian
China Ingin Swasembada Durian
Varietas Tanaman
Ketika Petani Meninggalkan Karet: Sawit Dinilai Lebih Menjanjikan
Ketika Petani Meninggalkan Karet: Sawit Dinilai Lebih Menjanjikan
Varietas Tanaman
Pertanian Berkelanjutan, Tapi untuk Siapa?
Pertanian Berkelanjutan, Tapi untuk Siapa?
Varietas Tanaman
Satu Kebun, Berkali-kali Panen
Satu Kebun, Berkali-kali Panen
Varietas Tanaman
Membuka Peluang Ekonomi Pinang
Membuka Peluang Ekonomi Pinang
Varietas Tanaman
Jalan Bagi Kesejahteraan Petani Kopi
Jalan Bagi Kesejahteraan Petani Kopi
Varietas Tanaman
Ketahanan Kopi Dimulai dari Kebunnya
Ketahanan Kopi Dimulai dari Kebunnya
Varietas Tanaman
Menata Ulang Masa Depan Petani Lada
Menata Ulang Masa Depan Petani Lada
Varietas Tanaman
Kedelai di Bawah Sawit: Peluang Mandiri Pangan di Dharmasraya
Kedelai di Bawah Sawit: Peluang Mandiri Pangan di Dharmasraya
Varietas Tanaman
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau