Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Patimah Anjelina
Dosen

Patimah Anjelina adalah akademisi di Fakultas Pertanian Universitas Andalas (Kampus III Dharmasraya) dan penulis yang aktif mengulas isu pertanian, lingkungan, dan pengelolaan sumber daya alam dari perspektif ilmiah yang aplikatif dan mudah dipahami publik

Pertanian Berkelanjutan, Tapi untuk Siapa?

Kompas.com, 29 Januari 2026, 04:55 WIB

Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.

Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini
Editor Wisnubrata

ISTILAH pertanian berkelanjutan kini terdengar di mana-mana. Ia hadir dalam dokumen kebijakan, seminar, hingga laporan proyek pembangunan. Kata ini terdengar indah, hijau, ramah lingkungan, dan menjanjikan masa depan. Namun di tingkat tapak, terutama di sawah dan kebun petani kecil, pertanyaan yang sering muncul justru sangat sederhana: berkelanjutan untuk siapa?

Bagi banyak petani, keberlanjutan bukanlah konsep, melainkan soal bertahan hidup. Mereka berhadapan dengan lahan yang makin sempit, biaya produksi yang naik, harga hasil panen yang tak menentu, serta iklim yang sulit diprediksi. Dalam kondisi seperti itu, tuntutan untuk menerapkan praktik “berkelanjutan” kerap terasa seperti beban tambahan, bukan solusi.

Tidak sedikit program pertanian berkelanjutan yang dirancang dengan niat baik, tetapi berhenti pada level jargon. Petani diminta mengurangi pupuk kimia, beralih ke metode ramah lingkungan, atau mengikuti standar tertentu. Namun sering kali yang luput dibicarakan adalah konsekuensinya: siapa yang menanggung risiko jika hasil panen menurun? Siapa yang menutup selisih biaya ketika praktik baru belum langsung memberikan keuntungan?

Ironisnya, banyak petani sesungguhnya telah lama menjalankan praktik yang bisa disebut berkelanjutan bahkan sebelum istilah itu populer. Mereka menghemat air karena pasokannya terbatas, menggunakan pupuk seperlunya karena mahal, dan memanfaatkan sisa tanaman karena tidak ada pilihan lain. Keberlanjutan lahir bukan dari kesadaran ekologis semata, melainkan dari keterpaksaan ekonomi.

Baca juga: Petani Milenial dan Kepemimpinan Digital Jadi Kunci Pertanian Berkelanjutan

Masalah muncul ketika keberlanjutan dipersempit menjadi daftar kewajiban teknis, tanpa melihat realitas sosial dan ekonomi petani. Dalam situasi ini, pertanian berkelanjutan berisiko menjadi proyek simbolik: baik di laporan, lemah di lapangan. Padahal, tanpa keberlanjutan penghidupan petani, keberlanjutan lingkungan pun sulit tercapai.

Di sisi lain, konsumen di perkotaan semakin akrab dengan label “organik”, “ramah lingkungan”, atau “berkelanjutan”. Namun jarang ada pertanyaan lanjutan: apakah harga yang dibayar benar-benar kembali ke petani? Ataukah nilai tambah itu justru berhenti di rantai distribusi?

Jika keberlanjutan hanya dinikmati di etalase pasar modern, maka ada ketimpangan yang perlu dikoreksi. Pertanian berkelanjutan seharusnya tidak hanya bicara soal tanah, air, dan ekosistem, tetapi juga soal keadilan. Ia harus memastikan bahwa petani memiliki ruang untuk belajar, beradaptasi, dan gagal tanpa harus kehilangan sumber penghidupan.

Tanpa dukungan kebijakan yang berpihak, insentif yang jelas, dan pendampingan yang konsisten, keberlanjutan akan tetap menjadi slogan.

Pertanyaan “berkelanjutan untuk siapa” penting diajukan agar kita tidak terjebak pada romantisme hijau. Keberlanjutan yang sejati adalah ketika lingkungan terjaga, petani sejahtera, dan konsumen sadar bahwa pilihan mereka memiliki dampak. Ia bukan tujuan yang dicapai sekali, melainkan proses panjang yang menuntut empati dan keberpihakan.

Pada akhirnya, pertanian berkelanjutan tidak bisa hanya diukur dari seberapa ramah ia terhadap alam, tetapi juga dari seberapa adil ia terhadap manusia yang mengolahnya. Jika petani tidak mampu bertahan hari ini, sulit berharap mereka menjaga keberlanjutan untuk esok hari.

Baca juga: Atasi Fragmentasi Informasi, Pertanian Berkelanjutan Butuh Pendekatan Digital

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com. Download sekarang


Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Gula Aren dan Kebangkitan Ekonomi Desa Berbasis Agroforestri
Gula Aren dan Kebangkitan Ekonomi Desa Berbasis Agroforestri
Varietas Tanaman
Mete Indonesia Makin Berjaya di Pasar Internasional
Mete Indonesia Makin Berjaya di Pasar Internasional
Varietas Tanaman
Dari Kebun Kelapa dan Ladang Jagung Mereka Bangkit
Dari Kebun Kelapa dan Ladang Jagung Mereka Bangkit
Varietas Tanaman
Menguatkan Akar dan Menjahit Masa Depan: Arah Baru Perkebunan Nasional
Menguatkan Akar dan Menjahit Masa Depan: Arah Baru Perkebunan Nasional
Varietas Tanaman
Kopi dan Kayu Manis di Kerinci: Praktik Tumpangsari yang Menjaga Kebun Tetap Hidup
Kopi dan Kayu Manis di Kerinci: Praktik Tumpangsari yang Menjaga Kebun Tetap Hidup
Varietas Tanaman
Secangkir Optimisme Teh Indonesia
Secangkir Optimisme Teh Indonesia
Varietas Tanaman
Ketika Pasar Dunia Menunggu Panen Indonesia
Ketika Pasar Dunia Menunggu Panen Indonesia
Varietas Tanaman
Merawat Kopi dan Kakao Sumatera
Merawat Kopi dan Kakao Sumatera
Varietas Tanaman
Durian Indonesia Tak Berdaya di Pasar Global
Durian Indonesia Tak Berdaya di Pasar Global
Varietas Tanaman
Varietas Unggul dalam Pengelolaan Penyakit Jagung
Varietas Unggul dalam Pengelolaan Penyakit Jagung
Varietas Tanaman
Singkong: Komoditas Strategis yang Terlupakan
Singkong: Komoditas Strategis yang Terlupakan
Varietas Tanaman
China Ingin Swasembada Durian
China Ingin Swasembada Durian
Varietas Tanaman
Ketika Petani Meninggalkan Karet: Sawit Dinilai Lebih Menjanjikan
Ketika Petani Meninggalkan Karet: Sawit Dinilai Lebih Menjanjikan
Varietas Tanaman
Pertanian Berkelanjutan, Tapi untuk Siapa?
Pertanian Berkelanjutan, Tapi untuk Siapa?
Varietas Tanaman
Satu Kebun, Berkali-kali Panen
Satu Kebun, Berkali-kali Panen
Varietas Tanaman
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau