Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kuntoro Boga
Direktur Hilirisasi Hasil Perkebunan, Kementan

Praktisi, Peneliti dan Pengamat Pertanian

Merawat Kopi dan Kakao Sumatera

Kompas.com, 1 Februari 2026, 12:55 WIB

Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.

Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini
Editor Wisnubrata

DARI lereng Pegunungan Gayo di Aceh hingga perbukitan hijau Solok di Sumatera Barat, aroma kopi arabika dan kakao telah lama menyatu dengan denyut kehidupan pedesaan di punggung bukit barisan dan dataran tinggi Sumatera. Dua komoditas ini bukan sekadar minuman hangat atau cokelat lezat, melainkan penopang hidup jutaan petani kecil di dataran tinggi Sumatra.

Namun, di balik reputasi kopi Gayo dan kakao Sumatra di pasar global, para petani yang menanamnya masih kerap terjebak dalam persoalan ekonomi, tekanan ekologis, dan struktur agraria yang timpang. Kondisi ini perlu dipahami karena kopi dan kakao menjadi tambatan ekonomi politik sekaligus peluang pembangunan pedesaan yang berkelanjutan dan inklusif.

Sejarah kopi dan kakao di Sumatra merefleksikan dinamika agraria Nusantara. Kopi diperkenalkan sejak era kolonial Belanda, menjadikan Mandailing dan Gayo sebagai pionir arabika berkualitas, sementara kakao berkembang luas pada abad ke-20 sebagai tanaman alternatif perkebunan.

Pasca-kemerdekaan, landreform dan nasionalisasi perkebunan kolonial menggeser peran perkebunan besar ke perkebunan rakyat. Kini, lebih dari 99 persen kopi Indonesia dan hampir seluruh kakao nasional diproduksi petani kecil. Namun, warisan sejarah juga menyisakan ketimpangan kesejahteraan dan keuntungan ex-perkebunan kolonial di Sumatra Utara.

Dampak konflik berkepanjangan juga terjadi di Aceh, serta meredupnya harapan kakao rakyat di Sumatera Barat akibat hama, fluktuasi harga, dan tingginya biaya perawatan. Menurunnya luas kebun kakao Sumbar menjadi hanya sekitar 85 ribu hektare pada 2020 menjadi penanda betapa rentannya posisi petani kecil tanpa dukungan yang memadai.

Setiap tegukan kopi Gayo dan setiap gigitan cokelat Sumatra seharusnya membawa kisah tentang petani yang semakin berdaya. Perjalanan dari kebun ke cangkir atau batangan cokelat idealnya menjadi perjalanan peningkatan martabat, bukan sekadar rantai nilai yang timpang.

Dataran tinggi Sumatra menyimpan kekayaan alam dan sejarah agraria yang luar biasa. Tantangannya adalah mengelolanya secara berkeadilan dan berkelanjutan. Dengan menempatkan petani sebagai mitra sejajar, menjaga keseimbangan ekologi kebun, serta membangun tata niaga yang adil, kopi dan kakao dapat menjadi motor pembangunan pedesaan yang produktif sekaligus bermartabat, agar harum kopi dan manis cokelat Indonesia sejalan dengan kesejahteraan petaninya.

Baca juga: Jalan Bagi Kesejahteraan Petani Kopi

Potensi Komoditas dan Nilai Tambah

Dari perspektif ekonomi politik, kopi dan kakao Sumatra ibarat dua sisi mata uang yang sama-sama menjanjikan, tetapi sarat paradoks. Indonesia merupakan produsen kopi terbesar keempat dunia dengan produksi sekitar 758–780 ribu ton per tahun, dan Sumatra menjadi tulang punggungnya.

Robusta tumbuh luas di Lampung dan Sumatera Selatan, sementara arabika unggul berkembang di dataran tinggi Gayo, Lintong, hingga Solok. Keragaman varietas dan cita rasa menjadikan kopi Sumatra diakui global, diperkuat oleh lebih dari 50 kopi nusantara yang telah terdaftar sebagai Indikasi Geografis, termasuk Kopi Gayo yang tersohor.

Di sisi lain, kakao Indonesia juga memiliki karakter rasa khas hasil bentang alam tropis yang beragam. Aceh bahkan tercatat sebagai produsen kakao terbesar keempat nasional dengan areal lebih dari 101 ribu hektare dan produksi 41 ribu ton pada 2020.

Namun, besarnya potensi ini belum otomatis berbanding lurus dengan kesejahteraan petani. Pada kopi, struktur perdagangan masih bertumpu pada ekspor biji mentah dan setengah jadi. Nilai tambah terbesar justru tercipta di luar negeri ketika kopi Sumatra dipanggang, dikemas, diberi merek asing, lalu dijual dengan harga berlipat. Petani di Gayo, Mandailing, atau Lintong kerap hanya menerima bagian terkecil dari harga secangkir kopi di kafe-kafe kota.

Fluktuasi harga global dan lemahnya posisi tawar membuat kekaguman dunia terhadap kopi Sumatra tidak sepenuhnya terkonversi menjadi pendapatan yang layak bagi petaninya.

Paradoks serupa terjadi pada kakao. Meski Indonesia merupakan produsen kakao terbesar ketiga dunia, negara ini masih mengimpor 133 ribu ton biji kakao senilai Rp4,8 triliun pada 2021 karena produksi domestik belum memenuhi standar mutu dan pasokan.

Industri pengolahan kakao nasional memang tumbuh pesat, bahkan menjadi yang terbesar kedua di dunia. Tetapi lonjakan nilai tambah pada komoditas ini lebih banyak dinikmati sektor hilir, bukan petani.

Di hulu, pekebun kakao menghadapi produktivitas rendah akibat tanaman tua, lambannya peremajaan, dan minimnya fermentasi pascapanen, sehingga biji kakao Indonesia kerap dihargai 10–15 persen lebih rendah di pasar internasional.

Halaman:

Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Gula Aren dan Kebangkitan Ekonomi Desa Berbasis Agroforestri
Gula Aren dan Kebangkitan Ekonomi Desa Berbasis Agroforestri
Varietas Tanaman
Mete Indonesia Makin Berjaya di Pasar Internasional
Mete Indonesia Makin Berjaya di Pasar Internasional
Varietas Tanaman
Dari Kebun Kelapa dan Ladang Jagung Mereka Bangkit
Dari Kebun Kelapa dan Ladang Jagung Mereka Bangkit
Varietas Tanaman
Menguatkan Akar dan Menjahit Masa Depan: Arah Baru Perkebunan Nasional
Menguatkan Akar dan Menjahit Masa Depan: Arah Baru Perkebunan Nasional
Varietas Tanaman
Kopi dan Kayu Manis di Kerinci: Praktik Tumpangsari yang Menjaga Kebun Tetap Hidup
Kopi dan Kayu Manis di Kerinci: Praktik Tumpangsari yang Menjaga Kebun Tetap Hidup
Varietas Tanaman
Secangkir Optimisme Teh Indonesia
Secangkir Optimisme Teh Indonesia
Varietas Tanaman
Ketika Pasar Dunia Menunggu Panen Indonesia
Ketika Pasar Dunia Menunggu Panen Indonesia
Varietas Tanaman
Merawat Kopi dan Kakao Sumatera
Merawat Kopi dan Kakao Sumatera
Varietas Tanaman
Durian Indonesia Tak Berdaya di Pasar Global
Durian Indonesia Tak Berdaya di Pasar Global
Varietas Tanaman
Varietas Unggul dalam Pengelolaan Penyakit Jagung
Varietas Unggul dalam Pengelolaan Penyakit Jagung
Varietas Tanaman
Singkong: Komoditas Strategis yang Terlupakan
Singkong: Komoditas Strategis yang Terlupakan
Varietas Tanaman
China Ingin Swasembada Durian
China Ingin Swasembada Durian
Varietas Tanaman
Ketika Petani Meninggalkan Karet: Sawit Dinilai Lebih Menjanjikan
Ketika Petani Meninggalkan Karet: Sawit Dinilai Lebih Menjanjikan
Varietas Tanaman
Pertanian Berkelanjutan, Tapi untuk Siapa?
Pertanian Berkelanjutan, Tapi untuk Siapa?
Varietas Tanaman
Satu Kebun, Berkali-kali Panen
Satu Kebun, Berkali-kali Panen
Varietas Tanaman
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau