Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Diana Putri
Dosen

Diana Putri adalah dosen Program Studi Agroekoteknologi Fakultas Pertanian Universitas Andalas Kampus III Dharmasraya dengan bidang keahlian Penyakit tanaman, khususnya serta pemanfaatan bakteri dan jamur endofit sebagai agen pengendali hayati dan pemacu pertumbuhan tanaman

Gambir: Komoditas Tua dari Sumatera yang Diam-Diam Diburu Industri Dunia

Kompas.com, 8 Maret 2026, 17:59 WIB

Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.

Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini
Editor Wisnubrata

KABUT pagi masih menggantung di perbukitan Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat. Di sela-sela semak hijau yang tumbuh rapat, para petani mulai memetik daun dari tanaman rambat yang tampak sederhana. Tanaman itu bukan kopi, bukan pula teh. Namun dari kebun-kebun kecil inilah lahir komoditas yang diam-diam memiliki pasar global: gambir.

Bagi sebagian orang, nama gambir mungkin terdengar asing. Namun bagi petani di sejumlah wilayah Sumatera Barat, tanaman ini telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Kebun gambir diwariskan dari generasi ke generasi, menjadi sumber penghidupan sekaligus identitas ekonomi lokal.

Tanaman yang secara ilmiah dikenal sebagai Gambir (Uncaria gambir) ini sebenarnya memiliki sejarah panjang dalam perdagangan Asia. Pada masa lalu, ekstrak gambir digunakan sebagai campuran sirih, bahan pewarna alami, serta obat tradisional. Kini, di tengah perkembangan ilmu pengetahuan dan industri modern, gambir justru kembali menemukan relevansinya.

Kandungan kimia yang terdapat dalam daun gambir menjadikan komoditas ini semakin dicari oleh berbagai industri di dunia. Salah satu senyawa utama dalam gambir adalah katekin, sejenis polifenol yang dikenal memiliki aktivitas antioksidan tinggi. Senyawa ini banyak dimanfaatkan dalam industri farmasi, kosmetik, dan produk kesehatan karena kemampuannya melindungi sel dari kerusakan akibat radikal bebas.

Dalam industri kosmetik, katekin digunakan dalam produk perawatan kulit untuk membantu melindungi sel dari kerusakan akibat radikal bebas. Sementara dalam industri farmasi, senyawa ini diteliti karena potensinya sebagai antioksidan dan bahan aktif dalam berbagai produk kesehatan.

Tidak hanya itu, gambir juga dimanfaatkan dalam industri penyamakan kulit dan pewarna alami. Kandungan tanin di dalamnya membuat ekstrak gambir mampu berperan sebagai bahan pengikat dalam proses penyamakan kulit.

Potensi penggunaan yang luas inilah yang membuat gambir memiliki pasar Internasional yang besar. Indonesia bahkan dikenal sebagai produsen sekaligus eksportir gambir terbesar di dunia. Data pemerintah menunjukkan bahwa Indonesia menguasai sekitar 80 persen pasar gambir dunia, dengan negara tujuan utama seperti India, Jepang, Tiongkok, Pakistan, dan Bangladesh.

Baca juga: Strategis Pengembangan Industri Gambir

Pada 2022, nilai ekspor gambir Indonesia mencapai sekitar 90 juta dolar AS, dengan harga ekspor berkisar antara 7.500 hingga 10.000 dolar AS per ton. Angka ini menunjukkan bahwa komoditas yang sebagian besar dihasilkan dari perkebunan rakyat tersebut memiliki nilai ekonomi global yang tidak kecil.

Sumatera Barat menjadi pusat produksi gambir nasional. Wilayah ini diperkirakan menyumbang sekitar 80 persen produksi gambir Indonesia, terutama dari Kabupaten Lima Puluh Kota dan Pesisir Selatan. Bagi banyak petani di daerah tersebut, gambir merupakan sumber penghidupan utama.

Tanaman ini relatif tahan terhadap kondisi lingkungan tropis dan dapat tumbuh baik di daerah perbukitan dengan curah hujan tinggi. Namun ironisnya, di dalam negeri gambir masih tergolong sebagai tanaman perkebunan yang jarang mendapat sorotan.

Jika dibandingkan dengan komoditas besar seperti kelapa sawit, karet, atau kopi, gambir sering kali luput dari perhatian. Padahal bagi ribuan petani di Sumatera Barat, tanaman ini menjadi sumber pendapatan utama.

Di banyak desa, proses produksi gambir masih dilakukan secara tradisional. Daun dan ranting tanaman direbus dalam tungku besar untuk mengekstrak getahnya. Setelah mengendap, ekstrak tersebut dicetak menjadi blok gambir dan dijemur hingga kering. Proses yang tampak sederhana itu sebenarnya membutuhkan pengalaman panjang agar menghasilkan kualitas gambir yang baik.

Di tengah meningkatnya minat dunia terhadap bahan alami, gambir sebenarnya memiliki peluang besar untuk berkembang. Tren global saat ini menunjukkan meningkatnya permintaan terhadap produk berbasis bahan alami, terutama dalam industri farmasi, kosmetik, dan pangan.

Baca juga: Membawa Gambir ke Pasar Global

Dengan dukungan penelitian serta inovasi teknologi, gambir dapat diolah lebih lanjut menjadi berbagai produk bernilai tinggi, seperti ekstrak katekin murni atau bahan aktif untuk industri kesehatan.

Bagi Indonesia, pengembangan komoditas seperti gambir juga memiliki arti strategis. Selain meningkatkan kesejahteraan petani, pemanfaatan tanaman lokal ini dapat memperkuat posisi Indonesia dalam pasar produk alami dunia.

Di tengah gempuran komoditas perkebunan modern, kisah gambir menunjukkan bahwa tanaman lama pun masih memiliki masa depan. Dari kebun-kebun sederhana di perbukitan Sumatera, gambir membuktikan bahwa kekayaan hayati Nusantara sering kali menyimpan potensi yang belum sepenuhnya disadari.

Dan mungkin, di balik daun-daun yang dipetik setiap pagi oleh para petani itu, tersimpan cerita besar tentang bagaimana tanaman tradisional dari desa mampu menembus pasar industri dunia.

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com. Download sekarang


Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Menjaga Momentum Kopi Indonesia di Tengah Gejolak Global
Menjaga Momentum Kopi Indonesia di Tengah Gejolak Global
Varietas Tanaman
Nilai Tinggi Kelapa Aromatik di Pasar Global Premium
Nilai Tinggi Kelapa Aromatik di Pasar Global Premium
Varietas Tanaman
Kecubung: Antara Stigma dan Kekayaan Hayati Nusantara
Kecubung: Antara Stigma dan Kekayaan Hayati Nusantara
Varietas Tanaman
Era Keemasan Baru Rempah Indonesia
Era Keemasan Baru Rempah Indonesia
Varietas Tanaman
Masa Depan Cerah Kakao Indonesia
Masa Depan Cerah Kakao Indonesia
Varietas Tanaman
Kelapa Genjah Kopyor: Agronomi, Rantai Nilai, dan Pengembangan
Kelapa Genjah Kopyor: Agronomi, Rantai Nilai, dan Pengembangan
Varietas Tanaman
Meremajakan Kebun Kelapa untuk Industri Bernilai Tinggi
Meremajakan Kebun Kelapa untuk Industri Bernilai Tinggi
Varietas Tanaman
Dari Rempah Dunia ke Kebun yang Rentan
Dari Rempah Dunia ke Kebun yang Rentan
Varietas Tanaman
Aren Minahasa: Akar Tradisi dan Ekonomi Rakyat
Aren Minahasa: Akar Tradisi dan Ekonomi Rakyat
Varietas Tanaman
Aroma Cengkeh dan Perjuangan Petani Menembus Pasar
Aroma Cengkeh dan Perjuangan Petani Menembus Pasar
Varietas Tanaman
Kopi Indonesia Naik Kelas: Inovasi, Entrepreneur, dan Nilai Tambah
Kopi Indonesia Naik Kelas: Inovasi, Entrepreneur, dan Nilai Tambah
Varietas Tanaman
Cokelat Specialty: Mendorong Kakao Berdaya Saing
Cokelat Specialty: Mendorong Kakao Berdaya Saing
Varietas Tanaman
Saatnya Kayu Manis Indonesia Laris di Pasar Global
Saatnya Kayu Manis Indonesia Laris di Pasar Global
Varietas Tanaman
Gambir dan Nilai Tambah yang Harus Diwujudkan
Gambir dan Nilai Tambah yang Harus Diwujudkan
Varietas Tanaman
Ketika Vanili Menjadi Harapan Petani
Ketika Vanili Menjadi Harapan Petani
Varietas Tanaman
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau