Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kuntoro Boga
Direktur Hilirisasi Hasil Perkebunan, Kementan

Praktisi, Peneliti dan Pengamat Pertanian

Strategis Pengembangan Industri Gambir

Kompas.com, 10 Januari 2026, 08:01 WIB

Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.

Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini
Editor Wisnubrata

PROVINSI Sumatera Barat (Sumbar) merupakan pusat produksi gambir (Uncaria gambir) nasional sekaligus tulang punggung posisi Indonesia sebagai produsen gambir terbesar di dunia. Sekitar 80–90 persen produksi gambir nasional berasal dari Sumbar, bahkan daerah ini disebut memasok hingga 80 persen kebutuhan gambir dunia. Komoditas ini menggerakkan ekonomi pedesaan melalui ribuan petani yang mengelola lahan gambir rakyat seluas sekitar 29 ribu hektar pada 2024.

Selain digunakan secara tradisional dalam budaya sirih, gambir kini menjadi bahan baku penting bagi industri farmasi, kosmetik, tekstil, dan penyamakan kulit. Dari sisi perdagangan, kontribusi Sumbar sangat dominan, dengan nilai ekspor mencapai USD 35 juta (sekitar Rp. 600 miliar) pada tahun 2025 atau sekitar 72 persen dari total ekspor gambir Indonesia. Namun, dominasi produksi tersebut belum berbanding lurus dengan kesejahteraan petani dan kekuatan industri gambir Indonesia di pasar global.

Ekspor gambir nasional sangat bergantung pada satu pasar utama, yakni India, yang menyerap sekitar 97 persen ekspor gambir Indonesia. Ketergantungan hampir monopsoni ini membuat harga mudah ditekan dan nilai tambah lebih banyak dinikmati pihak luar negeri. Akibatnya, Indonesia masih terjebak sebagai pemasok bahan mentah, sementara negara pembeli menguasai proses hilirisasi dan penentuan harga.

Kondisi ini menandakan adanya persoalan struktural serius yang mengancam keberlanjutan industri gambir nasional jika tidak segera dibenahi. Tantangan struktural tersebut terlihat dari lemahnya posisi tawar petani, tata niaga yang belum berpihak, serta persoalan mutu produk. Harga gambir lebih banyak ditentukan oleh eksportir dan pembeli luar negeri, sementara petani bergantung pada pedagang pengumpul dan tengkulak.

Di sisi kualitas, mutu gambir Indonesia dilaporkan menurun dalam satu dekade terakhir akibat praktik pengolahan tradisional yang kurang higienis, bahkan pencampuran bahan asing, sehingga kadar katekin bisa sangat rendah. Meski standar mutu nasional (SNI) telah tersedia, penerapannya belum wajib dan belum disertai regulasi klasifikasi mutu serta harga acuan.

Akibat kekosongan regulasi ini, standar kualitas gambir Indonesia justru ditentukan sepihak oleh pasar India, memperlemah posisi Indonesia dalam rantai nilai global dan mempertegas perlunya penguatan kelembagaan petani, perbaikan mutu, serta reformasi tata niaga gambir nasional.

Baca juga: Membawa Gambir ke Pasar Global

Pasar India: Potensi Besar dan Tuntutan Kualitas

India merupakan pasar terbesar gambir Indonesia sekaligus penentu utama dinamika industrinya. Permintaan gambir di India terus meningkat seiring pertumbuhan penduduk dan kuatnya konsumsi Pan Masala, produk kunyah tradisional yang dikonsumsi sekitar 267 juta orang atau 12 persen populasi India.

Gambir digunakan sebagai sumber katekin utama dalam pembuatan Katha, dengan nilai pasar Pan Masala mencapai USD 5,52 miliar pada 2024. Skala industri hilir India sangat besar dan mampu menyerap volume gambir jauh melampaui kapasitas ekspor Indonesia saat ini, sehingga membuka peluang ekspansi ekspor yang luas, namun dengan syarat Indonesia mampu memenuhi spesifikasi mutu yang ditetapkan pasar.

Pasar India dikenal ketat dalam persyaratan kualitas. Importir hanya menerima gambir dalam bentuk bongkah atau pasta berkualitas, dengan kandungan katekin tinggi (di atas 50 persen untuk Katha), dan menolak produk berbentuk bubuk karena sulit diuji mutunya.

Saat ini, banyak gambir Indonesia belum memenuhi standar optimal tersebut, sehingga harga ekspor masih berada di kisaran USD 4.000–6.000 per ton. Padahal, importir India menyatakan kesediaan membayar harga premium hingga USD 8.000 per ton dan meningkatkan volume pembelian secara signifikan jika kualitas gambir Indonesia konsisten tinggi.

Fakta ini menunjukkan bahwa peningkatan mutu bukan hambatan, melainkan insentif ekonomi yang nyata. Nilai tambah terbesar gambir justru dinikmati di luar negeri. Gambir mentah dari Indonesia diolah di India melalui proses pemurnian menjadi Katha bernilai USD 10.000–12.000 per ton, bahkan dapat mencapai USD 35.000 per ton jika diekstrak menjadi katekin murni untuk industri farmasi dan kosmetik.

Ironisnya, sebagian produk olahan tersebut diekspor kembali ke Indonesia, mencerminkan ketimpangan rantai nilai yang menempatkan Indonesia sebagai pemasok bahan mentah.

Selain untuk Pan Masala, riset lanjutan di India juga mulai mengembangkan katekin gambir untuk kesehatan dan kosmetik.

Hilirisasi di Sumbar untuk Nilai Tambah

Hilirisasi gambir merupakan strategi kunci untuk keluar dari jebakan ekspor bahan mentah dan memperbaiki posisi Indonesia dalam rantai nilai global. Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa gambir adalah komoditas strategis yang harus dihilirisasi karena mampu meningkatkan nilai ekonomi, menciptakan lapangan kerja industri di daerah, dan mengurangi ketimpangan dengan pembeli luar negeri.

Saat ini, sebagian besar gambir Sumatera Barat masih diekspor dalam bentuk kering atau setengah jadi, sementara pengolahan lanjutan seperti katekin murni berkadar lebih dari 90 persen untuk industri farmasi dan kosmetik masih sangat terbatas. Padahal, nilai tambah terbesar gambir justru terletak pada kemurnian ekstraknya, bukan sekadar volume bahan mentah.

Halaman:

Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Strategis Pengembangan Industri Gambir
Strategis Pengembangan Industri Gambir
Varietas Tanaman
Asa Pohon Mete di Tanah Gersang
Asa Pohon Mete di Tanah Gersang
Varietas Tanaman
Belajar dari Sukun Kukus: Menguatkan Ketahanan Pangan lewat Keanekaragaman
Belajar dari Sukun Kukus: Menguatkan Ketahanan Pangan lewat Keanekaragaman
Varietas Tanaman
Halusinasi Negara Agraris
Halusinasi Negara Agraris
Tips
Waktunya Jujur: Petani Butuh Fakta, Bukan Ilusi Statistik
Waktunya Jujur: Petani Butuh Fakta, Bukan Ilusi Statistik
Tips
Jangan Korbankan Teh: Investasi Hijau untuk Masa Depan
Jangan Korbankan Teh: Investasi Hijau untuk Masa Depan
Varietas Tanaman
Mengungkap Potensi Kedawung yang Terabaikan
Mengungkap Potensi Kedawung yang Terabaikan
Varietas Tanaman
Briket Arang Kelapa: Limbah Jadi Komoditas Ekspor
Briket Arang Kelapa: Limbah Jadi Komoditas Ekspor
Varietas Tanaman
Tanaman Penyelamat Lingkungan: Mencegah Banjir dan Longsor
Tanaman Penyelamat Lingkungan: Mencegah Banjir dan Longsor
Varietas Tanaman
Potensi Sabut Kelapa yang Masih Terbuang
Potensi Sabut Kelapa yang Masih Terbuang
Varietas Tanaman
Pelajaran Swasembada Gula Nasional
Pelajaran Swasembada Gula Nasional
Varietas Tanaman
Mengandaikan Generasi Z Menjadi Agripreneurship
Mengandaikan Generasi Z Menjadi Agripreneurship
Tips
Transformasi Kelapa: Dari Komoditas Tradisional ke Industri Bernilai Tinggi
Transformasi Kelapa: Dari Komoditas Tradisional ke Industri Bernilai Tinggi
Varietas Tanaman
Aroma Kopi Jawa Timur: Potensi dari Lereng Ijen hingga Lembah Argopuro
Aroma Kopi Jawa Timur: Potensi dari Lereng Ijen hingga Lembah Argopuro
Varietas Tanaman
Ekonomi Babel: Lada Sebagai Andalan, Bukan Timah
Ekonomi Babel: Lada Sebagai Andalan, Bukan Timah
Varietas Tanaman
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau