Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kuntoro Boga
Direktur Hilirisasi Hasil Perkebunan, Kementan

Praktisi, Peneliti dan Pengamat Pertanian

Cokelat Specialty: Mendorong Kakao Berdaya Saing

Kompas.com, 20 Maret 2026, 11:00 WIB

Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.

Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

INDONESIA kini berada di persimpangan penting dalam industri kakao nasional. Di satu sisi, Indonesia masih tercatat sebagai salah satu produsen kakao dunia dengan kontribusi sekitar 11,5 persen atau 641.700 ton pada 2023.

Namun, tren terkini menunjukkan kenyataan mengkhawatirkan, di mana produksi nasional pada 2025 merosot tajam, berada di kisaran ratusan ribu ton saja.

Kondisi ini menunjukkan bahwa pendekatan berbasis volume semata tidak lagi cukup untuk menjaga daya saing kakao Indonesia di pasar global.

Dalam konteks itulah, jalur “cokelat specialty” menawarkan arah baru yang lebih strategis bagi industri kakao Indonesia. Pendekatan ini menggeser orientasi dari sekadar mengejar volume menuju penciptaan kualitas.

Di pasar global, segmen fine flavour cocoa yang menjadi fondasi utama specialty memang relatif kecil, hanya sekitar 12 persen dari ekspor biji kakao dunia.

Namun, segmen ini memiliki nilai ekonomi tinggi karena menawarkan harga premium dan selaras dengan tren organik serta industri bean-to-bar.

Indonesia telah diakui dalam daftar ICCO (amandemen April 2024) dengan porsi sekitar 10 persen fine or flavour cocoa dari total ekspor, menandakan adanya potensi nyata untuk “naik kelas”.

Namun, di balik peluang tersebut, fondasi domestik masih menyimpan paradoks yang perlu diselesaikan.

Hilirisasi memang menunjukkan kemajuan, tercermin dari dominasi ekspor produk olahan seperti mentega dan lemak kakao yang mencapai 64,25 persen pada 2024.

Namun, industri pengolahan dalam negeri justru masih sangat bergantung pada impor biji kakao. Ketergantungan ini mengindikasikan bahwa pasokan biji kakao berkualitas dan konsisten dari dalam negeri belum mampu memenuhi kebutuhan industri.

Di sinilah konsep “cokelat specialty” yang memadukan bahan baku berprofil rasa unggul dengan praktik pengolahan craft yang transparan seperti bean-to-bar menjadi kunci.

Jika dikelola dengan tepat, pendekatan ini bukan hanya meningkatkan nilai tambah, tetapi juga membuka jalan bagi tumbuhnya ekosistem wirausaha kakao yang lebih kuat dan berkelanjutan.

Ketatnya Pasokan dan Naiknya Coklat Premium

Pasar kakao global dalam periode 2024–2026 bergerak dalam lanskap yang semakin volatil dengan tekanan pasok yang nyata.

Pembaruan ICCO (International Cocoa Organization) pada Februari 2026 mencatat produksi dunia 2024/2025 sekitar 4,728 juta ton, sementara grindings mencapai 4,606 juta ton.

Dengan stok akhir musim 1,347 juta ton dan rasio stok terhadap grindings hanya 29,2 persen, ruang bantalan pasar terbilang terbatas.

Bagi pembuat kebijakan maupun pelaku usaha, angka-angka ini bukan sekadar statistik, melainkan penentu arah, di mana harga bahan baku cenderung sensitif, strategi kontrak menjadi krusial, dan keputusan investasi kapasitas harus semakin berhitung.

Di tengah tekanan tersebut, segmen premium justru menunjukkan dinamika berbeda. ICCO menegaskan bahwa fine flavour cocoa memang hanya porsi kecil, tetapi merupakan pasar yang terpisah, spesialis, dan umumnya memberikan harga premium di atas pasar berjangka.

Dorongan tren organik dan gerakan bean-to-bar semakin memperkuat posisi segmen ini sebagai sumber nilai tambah.

Sejumlah estimasi industri bahkan menempatkan pasar global premium chocolate sekitar 31,9 miliar dollar AS pada 2024, dengan pertumbuhan tahunan sekitar 4 persen hingga 2030.

Artinya, ketika pasar massal menghadapi tekanan biaya, ruang diferensiasi berbasis kualitas justru membuka peluang baru yang lebih resilien.

Sementara itu, pasar domestik Indonesia menghadirkan paradoks sekaligus peluang. Tingkat konsumsi cokelat masih relatif rendah, sekitar 0,2 kg hingga 0,49 kg per kapita per tahun, jauh di bawah rata-rata global sekitar 0,9 kg.

Namun, rendahnya konsumsi ini bukan sinyal stagnasi, melainkan ruang tumbuh yang luas, terutama untuk segmen premium.

Pertumbuhan dapat didorong oleh pariwisata (seperti Bali dan Yogyakarta), ritel modern, e-commerce, hingga tren konsumsi berbasis pengalaman seperti tur pabrik dan kelas membuat cokelat.

Indikasi lain terlihat dari mulai bermunculannya puluhan produsen cokelat artisan di berbagai daerah.

Meski belum tercatat sebagai statistik resmi, geliat ini menunjukkan bahwa ekosistem kewirausahaan berbasis kakao bernilai tambah sedang bertumbuh dan berpotensi menjadi fondasi baru industri cokelat Indonesia.

Rantai Nilai Kakao: Dominasi Petani dan Tren Produksi

Struktur hulu kakao Indonesia pada dasarnya bertumpu hampir sepenuhnya pada perkebunan rakyat. Dalam periode 2016–2025, sekitar 98,9 persen luas areal kakao dikelola petani kecil.

Artinya, setiap upaya peningkatan nilai tambah tidak bisa hanya dirancang dari atas, melainkan harus menyentuh jutaan keputusan mikro di tingkat petani, mulai dari cara panen, sortasi buah, fermentasi, pengeringan, hingga pilihan menjual atau mengolah.

Tantangannya, produktivitas justru menunjukkan tren melemah, dari sekitar 798 kg/ha pada 2016 menjadi estimasi 719 kg/ha pada 2025, sementara produksi cenderung stagnan bahkan menurun tipis.

Secara geografis, produksi kakao terkonsentrasi kuat di kawasan tertentu, terutama Sulawesi yang menjadi “jantung” pasokan nasional.

Empat provinsi, yaitu Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Selatan, dan Sulawesi Barat menyumbang porsi terbesar dari total produksi.

Namun, bagi pelaku usaha cokelat specialty, peta ini tidak sekadar soal volume. Diferensiasi rasa justru lahir dari keragaman terroir di berbagai wilayah lain seperti Bali, Flores, Papua, hingga Aceh.

Dengan kata lain, Sulawesi penting untuk skala, tetapi keunikan rasa yang menjadi inti pasar premium, tersebar di banyak kantong produksi yang selama ini belum sepenuhnya dioptimalkan.

Kunci nilai tambah pertama yang paling nyata sebenarnya terletak pada tahap pascapanen, khususnya fermentasi. Perbedaan harga antara biji fermentasi dan non-fermentasi sudah terbukti signifikan di tingkat petani, mencerminkan adanya insentif pasar yang jelas.

Namun, adopsinya belum masif karena proses fermentasi membutuhkan waktu, ketelatenan, dan risiko tambahan.

Tantangan ini diperparah oleh praktik pengeringan yang belum seragam, padahal standar kadar air misalnya di bawah 7,5 persen, menjadi syarat penting untuk menjaga mutu.

Di tengah dinamika tersebut, muncul gelombang entrepreneur cokelat specialty yang menawarkan model alternatif penciptaan nilai.

Dari pendekatan farmer-to-bar yang menghubungkan langsung petani dengan pasar premium, hingga integrasi wisata dan pengalaman konsumen, para pelaku ini menunjukkan bahwa kakao tidak hanya komoditas, melainkan produk dengan cerita, asal-usul, dan identitas rasa.

Mereka juga memperlihatkan bahwa nilai tambah tidak berhenti di produksi, tetapi meluas ke branding, edukasi konsumen, hingga inovasi produk.

Pelajaran pentingnya jelas, yaitu masa depan kakao Indonesia tidak hanya ditentukan oleh berapa banyak yang diproduksi, tetapi oleh seberapa baik kualitas dikelola, nilai ditahan di dalam negeri, dan ekosistem wirausaha dibangun secara berkelanjutan.

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com. Download sekarang


Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Cokelat Specialty: Mendorong Kakao Berdaya Saing
Cokelat Specialty: Mendorong Kakao Berdaya Saing
Varietas Tanaman
Saatnya Kayu Manis Indonesia Laris di Pasar Global
Saatnya Kayu Manis Indonesia Laris di Pasar Global
Varietas Tanaman
Gambir dan Nilai Tambah yang Harus Diwujudkan
Gambir dan Nilai Tambah yang Harus Diwujudkan
Varietas Tanaman
Ketika Vanili Menjadi Harapan Petani
Ketika Vanili Menjadi Harapan Petani
Varietas Tanaman
Kayu Manis Kerinci dan Peluang Rempah Indonesia di Pasar Dunia
Kayu Manis Kerinci dan Peluang Rempah Indonesia di Pasar Dunia
Varietas Tanaman
Mengapa Anak Muda Enggan Menjadi Petani?
Mengapa Anak Muda Enggan Menjadi Petani?
Tips
Mengembalikan Daya Saing Teh di Pasar Global
Mengembalikan Daya Saing Teh di Pasar Global
Varietas Tanaman
Nilam, Masihkah Primadona?
Nilam, Masihkah Primadona?
Varietas Tanaman
Gambir: Komoditas Tua dari Sumatera yang Diam-Diam Diburu Industri Dunia
Gambir: Komoditas Tua dari Sumatera yang Diam-Diam Diburu Industri Dunia
Varietas Tanaman
Kakao Indonesia 2026: Menguatkan Hulu dan Menjaga Hilir
Kakao Indonesia 2026: Menguatkan Hulu dan Menjaga Hilir
Varietas Tanaman
Aren, Pohon Liar yang Menyimpan Masa Depan
Aren, Pohon Liar yang Menyimpan Masa Depan
Varietas Tanaman
Masa Depan Kelapa di Negeri Nyiur Melambai
Masa Depan Kelapa di Negeri Nyiur Melambai
Varietas Tanaman
Saat Kita Terlalu Bergantung pada Beras
Saat Kita Terlalu Bergantung pada Beras
Varietas Tanaman
Meraup Keuntungan dari Lada Lampung
Meraup Keuntungan dari Lada Lampung
Varietas Tanaman
Surplus Pangan, Mengapa Impor?
Surplus Pangan, Mengapa Impor?
Varietas Tanaman
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau