Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kuntoro Boga
Direktur Hilirisasi Hasil Perkebunan, Kementan

Praktisi, Peneliti dan Pengamat Pertanian

Aren Minahasa: Akar Tradisi dan Ekonomi Rakyat

Kompas.com, 26 Maret 2026, 14:40 WIB

Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.

Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

DI BANYAK pedesaaan Minahasa, Sulawesi Utara, setiap pagi ribuan langkah penyadap memanjat batang tinggi pohon aren (Arenga pinnata).

Di antara kabut tipis dan udara lembap, nira bening menetes dari manggar (tandan bunga jantan) pohon aren, ditadah dengan hati-hati, lalu segera diproses menjadi berbagai jenis bahan pangan tradisional dan minuman.

Di tengah dominasi kelapa, cengkeh, dan pala, aren kerap dianggap komoditas pinggiran. Namun, ukuran statistik sering gagal menangkap peran aren.

Nira dapat diolah berlapis menjadi gula cetak, gula semut, sirup, hingga saguer yang telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda (SK Penetapan No: 372/M/2021).

Di sejumlah wilayah Minahasa, dari Minahasa Selatan hingga Tomohon, rantai nilai Aren telah lama menghidupi ribuan keluarga.

Keunggulan strategis pohon aren, enau atau seho (minahasa), tidak berhenti pada ekonomi. Seho adalah penjaga lereng dan daerah aliran Sungai.

Akar serabutnya menahan erosi, tumbuh selaras dalam sistem agroforestri tanpa perawatan intensif. Industri rumah tangganya melibatkan banyak tangan.

Produk turunannya pun mengikat identitas dan ritus adat serta perjumpaan sosial. Dengan demikian, aren bukan sekadar komoditas, melainkan simpul yang menyatukan nilai ekonomi, sosial, dan ekologis dalam satu tarikan napas pembangunan hijau.

Aren sebagai Penopang Rumah Tangga

Di Desa Rumoong Atas, Minahasa Selatan, sekitar 60 persen kepala keluarga memiliki sedikitnya 10–20 pohon aren produktif.

Bagi penyadap seperti Bapak Jefry (48), hari dimulai pukul lima pagi dengan memanjat 15 pohon yang ia kelola.

Dari sana terkumpul 60–80 liter nira per hari yang kemudian diolah bersama istrinya menjadi 8–10 kilogram gula cetak.

Dengan harga Rp 25.000–Rp 30.000 per kilogram di tingkat pengepul, pendapatan kotor harian bisa mencapai Rp 250.000–Rp 300.000.

Di saat harga kopra atau cengkih berfluktuasi, aren menjadi “penyangga” yang menjaga dapur tetap mengepul. Fleksibilitas arus kas harian inilah yang membuat banyak keluarga mempertahankan pohon aren sebagai aset jangka panjang.

Di Kota Tomohon, pendekatan berbasis komunitas menunjukkan bagaimana nilai tambah dapat dilipatgandakan.

Melalui pembinaan koperasi dan lembaga sosial seperti Yayasan Masarang, penyadap dilatih memproduksi gula semut organik berstandar ekspor, dengan pengemasan modern dan akses pasar internasional.

Jika gula cetak biasa bernilai puluhan ribu rupiah per kilogram, gula semut organik di pasar premium bisa dihargai dua hingga tiga kali lipat.

Dampak sosialnya tampak jelas di Desa Kolongan Bawah, Minahasa Utara. Kelompok perempuan pengolah nira yang kini beranggotakan lebih dari 25 orang memproduksi gula semut, sirup aren, hingga kemasan kecil untuk oleh-oleh wisata, dengan omzet kolektif mendekati setengah miliar rupiah per tahun.

Di desa berpenduduk kurang dari 1.000 jiwa, angka itu berarti perputaran ekonomi yang nyata, untuk belanja bahan baku, memperbaiki rumah, dan mendukung kegiatan sosial-keagamaan.

Keterlibatan dalam usaha bersama juga meningkatkan posisi tawar perempuan dalam rumah tangga.

Namun, keberlanjutan aren menuntut jawaban atas sejumlah tantangan, regenerasi penyadap yang kian menua, kebutuhan alat panjat yang lebih aman, serta akses permodalan untuk investasi pengering, pengemasan, dan sertifikasi.

Di sinilah peran pemerintah daerah dan perguruan tinggi menjadi krusial, mengintegrasikan riset peningkatan mutu, pelatihan manajemen dan pemasaran digital, serta skema pembiayaan yang adil agar produsen kecil dapat naik kelas.

Penguatan aren membuktikan bahwa pembangunan tak selalu bertumpu pada industri besar, tapi dari pohon yang disadap setiap pagi, ekonomi desa dapat tumbuh inklusif dan Tangguh.

Kontribusi Ekonomi dan Sosial

Data BPS Sulawesi Utara menunjukkan struktur perkebunan rakyat 2023 masih didominasi kelapa (264.600 ha), diikuti cengkeh (72.700 ha) dan pala (32.000 ribu ha), sementara aren berada di kisaran 5.360 ha dengan produksi sekitar 1.192 ton.

Angka ini menegaskan bahwa aren memang bukan raksasa dalam luas dan volume.

Namun, kunci membaca komoditas ini bukan sekadar “besar–kecil”, melainkan di mana dan untuk apa ia bekerja.

Data kabupaten/kota (2021) memperlihatkan kantong produksi penting di Minahasa Selatan (650 ton), Minahasa Utara (225 ton), dan Kota Tomohon (55 ton).

Artinya, strategi pengembangan aren tidak bisa seragam, ia harus berbasis klaster wilayah sentra agar intervensi kebijakan tepat sasaran.

Di hulu, produktivitas nira bervariasi dan sangat dipengaruhi teknik penyadapan serta musim. Riset Balai Penelitian Tanaman Kelapa dan Palma Lain di Langowan mencatat produksi tandan pertama berkisar 14–18 liter per hari dengan fluktuasi bulanan.

Di hilir, mutu ditentukan oleh kecepatan dan standar penanganan karena nira mudah terfermentasi dan terdegradasi.

Praktik industri gula semut di Tomohon memperlihatkan disiplin teknis yang kian jelas. Nira dipasteurisasi maksimal dua jam setelah sadap untuk menghasilkan 1 kilogram gula semut dibutuhkan sekitar 7,5–8 liter nira dengan target kadar air 1,5–2 persen agar sesuai standar pasar.

Rantai nilainya membentang dari kebun (penyadapan/batifar), penanganan cepat (saring–pasteurisasi), hingga diversifikasi produk, nira segar, gula cetak, gula semut, saguer/tuak, sirup, bioethanol, serta produk non-nira seperti ijuk dan kolang-kaling, sebelum masuk tahap pengemasan, branding, dan pasar lokal hingga ekspor.

Sejumlah penelitian pada masyarakat lokal menunjukkan bahwa usaha aren sudah layak secara ekonomi.

Di Tomohon, pendapatan tambahan petani diperkirakan sekitar Rp 2 juta per bulan dengan usaha yang tergolong layak. Sementara di Wioi Raya rata-rata pendapatan mencapai sekitar Rp 2,5 juta, ditopang harga gula cetak Rp 10.000–Rp 20.000 per buah, menegaskan aren sebagai sumber arus kas harian.

Di Tambelang, sekitar 60 produsen mampu menghasilkan sedikitnya 20 buah gula per hari dengan harga jual Rp 10.000–Rp 13.000 per buah di tingkat pengrajin.

Namun, arah pengolahan sangat ditentukan oleh insentif. Di Desa Wanga, 64 persen pengrajin nira masih mengolah menjadi minuman beralkohol tradisional, hanya 3 persen menjadi gula semut.

Hal itu menunjukkan bahwa tanpa dukungan teknologi, akses pasar, dan kontrak pembelian yang jelas, petani akan memilih jalur tercepat menghasilkan uang.

Padahal, dari sisi lingkungan, seho berperan penting menahan erosi dan menjaga sumber air sehingga cocok dikembangkan dalam sistem agroforestri berkelanjutan.

Agar potensinya optimal, diperlukan penguatan pada pasokan, mutu, dan pasar melalui klasterisasi sentra produksi, penerapan standar penanganan nira yang cepat dan higienis, penyediaan alat bersama yang lebih efisien, sertifikasi kolektif, serta pembenahan data rantai nilai agar kebijakan yang diambil benar-benar tepat dan berdampak.

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com. Download sekarang


Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Aren Minahasa: Akar Tradisi dan Ekonomi Rakyat
Aren Minahasa: Akar Tradisi dan Ekonomi Rakyat
Varietas Tanaman
Aroma Cengkeh dan Perjuangan Petani Menembus Pasar
Aroma Cengkeh dan Perjuangan Petani Menembus Pasar
Varietas Tanaman
Kopi Indonesia Naik Kelas: Inovasi, Entrepreneur, dan Nilai Tambah
Kopi Indonesia Naik Kelas: Inovasi, Entrepreneur, dan Nilai Tambah
Varietas Tanaman
Cokelat Specialty: Mendorong Kakao Berdaya Saing
Cokelat Specialty: Mendorong Kakao Berdaya Saing
Varietas Tanaman
Saatnya Kayu Manis Indonesia Laris di Pasar Global
Saatnya Kayu Manis Indonesia Laris di Pasar Global
Varietas Tanaman
Gambir dan Nilai Tambah yang Harus Diwujudkan
Gambir dan Nilai Tambah yang Harus Diwujudkan
Varietas Tanaman
Ketika Vanili Menjadi Harapan Petani
Ketika Vanili Menjadi Harapan Petani
Varietas Tanaman
Kayu Manis Kerinci dan Peluang Rempah Indonesia di Pasar Dunia
Kayu Manis Kerinci dan Peluang Rempah Indonesia di Pasar Dunia
Varietas Tanaman
Mengapa Anak Muda Enggan Menjadi Petani?
Mengapa Anak Muda Enggan Menjadi Petani?
Tips
Mengembalikan Daya Saing Teh di Pasar Global
Mengembalikan Daya Saing Teh di Pasar Global
Varietas Tanaman
Nilam, Masihkah Primadona?
Nilam, Masihkah Primadona?
Varietas Tanaman
Gambir: Komoditas Tua dari Sumatera yang Diam-Diam Diburu Industri Dunia
Gambir: Komoditas Tua dari Sumatera yang Diam-Diam Diburu Industri Dunia
Varietas Tanaman
Kakao Indonesia 2026: Menguatkan Hulu dan Menjaga Hilir
Kakao Indonesia 2026: Menguatkan Hulu dan Menjaga Hilir
Varietas Tanaman
Aren, Pohon Liar yang Menyimpan Masa Depan
Aren, Pohon Liar yang Menyimpan Masa Depan
Varietas Tanaman
Masa Depan Kelapa di Negeri Nyiur Melambai
Masa Depan Kelapa di Negeri Nyiur Melambai
Varietas Tanaman
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau