
Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.
DI BANYAK pedesaaan Minahasa, Sulawesi Utara, setiap pagi ribuan langkah penyadap memanjat batang tinggi pohon aren (Arenga pinnata).
Di antara kabut tipis dan udara lembap, nira bening menetes dari manggar (tandan bunga jantan) pohon aren, ditadah dengan hati-hati, lalu segera diproses menjadi berbagai jenis bahan pangan tradisional dan minuman.
Di tengah dominasi kelapa, cengkeh, dan pala, aren kerap dianggap komoditas pinggiran. Namun, ukuran statistik sering gagal menangkap peran aren.
Nira dapat diolah berlapis menjadi gula cetak, gula semut, sirup, hingga saguer yang telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda (SK Penetapan No: 372/M/2021).
Di sejumlah wilayah Minahasa, dari Minahasa Selatan hingga Tomohon, rantai nilai Aren telah lama menghidupi ribuan keluarga.
Keunggulan strategis pohon aren, enau atau seho (minahasa), tidak berhenti pada ekonomi. Seho adalah penjaga lereng dan daerah aliran Sungai.
Akar serabutnya menahan erosi, tumbuh selaras dalam sistem agroforestri tanpa perawatan intensif. Industri rumah tangganya melibatkan banyak tangan.
Produk turunannya pun mengikat identitas dan ritus adat serta perjumpaan sosial. Dengan demikian, aren bukan sekadar komoditas, melainkan simpul yang menyatukan nilai ekonomi, sosial, dan ekologis dalam satu tarikan napas pembangunan hijau.
Di Desa Rumoong Atas, Minahasa Selatan, sekitar 60 persen kepala keluarga memiliki sedikitnya 10–20 pohon aren produktif.
Bagi penyadap seperti Bapak Jefry (48), hari dimulai pukul lima pagi dengan memanjat 15 pohon yang ia kelola.
Dari sana terkumpul 60–80 liter nira per hari yang kemudian diolah bersama istrinya menjadi 8–10 kilogram gula cetak.
Dengan harga Rp 25.000–Rp 30.000 per kilogram di tingkat pengepul, pendapatan kotor harian bisa mencapai Rp 250.000–Rp 300.000.
Di saat harga kopra atau cengkih berfluktuasi, aren menjadi “penyangga” yang menjaga dapur tetap mengepul. Fleksibilitas arus kas harian inilah yang membuat banyak keluarga mempertahankan pohon aren sebagai aset jangka panjang.
Di Kota Tomohon, pendekatan berbasis komunitas menunjukkan bagaimana nilai tambah dapat dilipatgandakan.
Melalui pembinaan koperasi dan lembaga sosial seperti Yayasan Masarang, penyadap dilatih memproduksi gula semut organik berstandar ekspor, dengan pengemasan modern dan akses pasar internasional.
Jika gula cetak biasa bernilai puluhan ribu rupiah per kilogram, gula semut organik di pasar premium bisa dihargai dua hingga tiga kali lipat.
Dampak sosialnya tampak jelas di Desa Kolongan Bawah, Minahasa Utara. Kelompok perempuan pengolah nira yang kini beranggotakan lebih dari 25 orang memproduksi gula semut, sirup aren, hingga kemasan kecil untuk oleh-oleh wisata, dengan omzet kolektif mendekati setengah miliar rupiah per tahun.
Di desa berpenduduk kurang dari 1.000 jiwa, angka itu berarti perputaran ekonomi yang nyata, untuk belanja bahan baku, memperbaiki rumah, dan mendukung kegiatan sosial-keagamaan.
Keterlibatan dalam usaha bersama juga meningkatkan posisi tawar perempuan dalam rumah tangga.
Namun, keberlanjutan aren menuntut jawaban atas sejumlah tantangan, regenerasi penyadap yang kian menua, kebutuhan alat panjat yang lebih aman, serta akses permodalan untuk investasi pengering, pengemasan, dan sertifikasi.
Di sinilah peran pemerintah daerah dan perguruan tinggi menjadi krusial, mengintegrasikan riset peningkatan mutu, pelatihan manajemen dan pemasaran digital, serta skema pembiayaan yang adil agar produsen kecil dapat naik kelas.
Penguatan aren membuktikan bahwa pembangunan tak selalu bertumpu pada industri besar, tapi dari pohon yang disadap setiap pagi, ekonomi desa dapat tumbuh inklusif dan Tangguh.
Data BPS Sulawesi Utara menunjukkan struktur perkebunan rakyat 2023 masih didominasi kelapa (264.600 ha), diikuti cengkeh (72.700 ha) dan pala (32.000 ribu ha), sementara aren berada di kisaran 5.360 ha dengan produksi sekitar 1.192 ton.
Angka ini menegaskan bahwa aren memang bukan raksasa dalam luas dan volume.
Namun, kunci membaca komoditas ini bukan sekadar “besar–kecil”, melainkan di mana dan untuk apa ia bekerja.
Data kabupaten/kota (2021) memperlihatkan kantong produksi penting di Minahasa Selatan (650 ton), Minahasa Utara (225 ton), dan Kota Tomohon (55 ton).
Artinya, strategi pengembangan aren tidak bisa seragam, ia harus berbasis klaster wilayah sentra agar intervensi kebijakan tepat sasaran.
Di hulu, produktivitas nira bervariasi dan sangat dipengaruhi teknik penyadapan serta musim. Riset Balai Penelitian Tanaman Kelapa dan Palma Lain di Langowan mencatat produksi tandan pertama berkisar 14–18 liter per hari dengan fluktuasi bulanan.
Di hilir, mutu ditentukan oleh kecepatan dan standar penanganan karena nira mudah terfermentasi dan terdegradasi.
Praktik industri gula semut di Tomohon memperlihatkan disiplin teknis yang kian jelas. Nira dipasteurisasi maksimal dua jam setelah sadap untuk menghasilkan 1 kilogram gula semut dibutuhkan sekitar 7,5–8 liter nira dengan target kadar air 1,5–2 persen agar sesuai standar pasar.
Rantai nilainya membentang dari kebun (penyadapan/batifar), penanganan cepat (saring–pasteurisasi), hingga diversifikasi produk, nira segar, gula cetak, gula semut, saguer/tuak, sirup, bioethanol, serta produk non-nira seperti ijuk dan kolang-kaling, sebelum masuk tahap pengemasan, branding, dan pasar lokal hingga ekspor.
Sejumlah penelitian pada masyarakat lokal menunjukkan bahwa usaha aren sudah layak secara ekonomi.
Di Tomohon, pendapatan tambahan petani diperkirakan sekitar Rp 2 juta per bulan dengan usaha yang tergolong layak. Sementara di Wioi Raya rata-rata pendapatan mencapai sekitar Rp 2,5 juta, ditopang harga gula cetak Rp 10.000–Rp 20.000 per buah, menegaskan aren sebagai sumber arus kas harian.
Di Tambelang, sekitar 60 produsen mampu menghasilkan sedikitnya 20 buah gula per hari dengan harga jual Rp 10.000–Rp 13.000 per buah di tingkat pengrajin.
Namun, arah pengolahan sangat ditentukan oleh insentif. Di Desa Wanga, 64 persen pengrajin nira masih mengolah menjadi minuman beralkohol tradisional, hanya 3 persen menjadi gula semut.
Hal itu menunjukkan bahwa tanpa dukungan teknologi, akses pasar, dan kontrak pembelian yang jelas, petani akan memilih jalur tercepat menghasilkan uang.
Padahal, dari sisi lingkungan, seho berperan penting menahan erosi dan menjaga sumber air sehingga cocok dikembangkan dalam sistem agroforestri berkelanjutan.
Agar potensinya optimal, diperlukan penguatan pada pasokan, mutu, dan pasar melalui klasterisasi sentra produksi, penerapan standar penanganan nira yang cepat dan higienis, penyediaan alat bersama yang lebih efisien, sertifikasi kolektif, serta pembenahan data rantai nilai agar kebijakan yang diambil benar-benar tepat dan berdampak.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com. Download sekarang