
Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.
KABAR tentang lonjakan ekspor perkebunan Indonesia belakangan terdengar menggembirakan. Dari kakao hingga kopi, dari sawit hingga rempah-rempah, pasar dunia terus memburu produk-produk tropis Indonesia.
Nilai ekspor sejumlah komoditas bahkan melonjak tajam sepanjang 2024 hingga awal 2026.
Perkembangan terbaru, negara-negara tujuan ekspor kini tidak lagi sekadar membeli volume. Mereka membeli standar, keberlanjutan, mutu, ketelusuran produk (traceability), hingga cerita di balik komoditas perkebunan itu sendiri.
Dalam konteks ini, lonjakan ekspor tidak otomatis berarti kemenangan ekonomi nasional. Yang menentukan justru sejauh mana Indonesia mampu mengubah kekayaan komoditas perkebunannya menjadi nilai tambah industri, kekuatan diplomasi dagang, dan kesejahteraan petani.
Tidak bisa dimungkiri, kelapa sawit masih menjadi tulang punggung ekspor perkebunan Indonesia.
Pada 2025, ekspor palm oil and fractions (HS 1511) Indonesia diperkirakan mencapai lebih dari Rp 400 triliun dengan volume sekitar 24 juta ton.
Indonesia juga tetap menjadi eksportir sawit terbesar dunia dengan pangsa pasar global sekitar 58 persen untuk produk sawit dan turunannya.
Pasar utama ekspor masih didominasi oleh India, Pakistan, dan China, disusul Bangladesh serta beberapa negara di kawasan Afrika dan Timur Tengah.
Namun, terdapat perubahan mendasar pasar global, di mana importir mulai lebih tertarik pada produk hilir dibanding bahan mentah.
Ekspor oleokimia Indonesia, produk turunan sawit yang digunakan untuk kosmetik, farmasi, deterjen, hingga pangan pada 2025 diperkirakan mencapai sekitar 6,3 miliar dollar AS.
Nilai tersebut meningkat dibandingkan 2024 yang tercatat sebesar 5,06 miliar dollar AS, dengan pertumbuhan rata-rata 10 persen per tahun sejak 2020.
Produk seperti fatty acid, glycerine, dan bahan baku industri kimia kini menjadi incaran pasar global, terutama China, Amerika Serikat, dan Eropa.
Fenomena serupa terjadi pada kakao. Jika dulu Indonesia dikenal sebagai pengekspor biji kakao mentah, kini struktur ekspornya mulai berubah drastis.
Pada 2025, ekspor biji kakao Indonesia diperkirakan berada di kisaran 90 juta dollar AS, sedangkan ekspor produk olahan kakao seperti cocoa butter, cocoa powder, dan cocoa paste mencapai sekitar 2,9 miliar dollar AS.
Hal ini menunjukkan bahwa nilai tambah terbesar industri kakao Indonesia kini semakin bergeser dari ekspor bahan mentah ke sektor pengolahan dan hilirisasi.