Penulis
BREBES, KOMPAS.com — Tantangan serangan hama ulat dan kutu daun masih menjadi salah satu ancaman utama yang membayangi produktivitas serta kualitas panen petani bawang merah di Sentra Pertanian Kabupaten Brebes, Jawa Tengah.
Guna memperkuat daya tahan tanaman dan menjaga stabilitas hasil panen, pendekatan teknologi pengendalian hama yang terukur serta edukasi praktik aplikasi di tingkat petani menjadi krusial.
Baca juga: Merawat Sawah, Menjaga Asa, Sang Penjaga Malam Berkolaborasi dengan Petani Gianyar
Country Head BASF Agricultural Solutions Indonesia, Jerico Gascon, mengatakan, tantangan utama budidaya bawang merah di lapangan tidak hanya terletak pada ketersediaan formulasi insektisida, tetapi juga pada tingkat pemahaman petani mengenai tata cara pengaplikasian yang tepat dan efisien.
Pengendalian hama yang efektif dan andal tetap menjadi salah satu faktor penting bagi keberhasilan budidaya bawang merah.
"Kebutuhan petani tidak hanya sebatas memiliki solusi untuk mengendalikan hama, tetapi juga mendapatkan pemahaman dan dukungan yang tepat agar solusi tersebut dapat memberikan manfaat secara optimal di lapangan," ujar Jerico dalam keterangannya di Brebes, Jawa Tengah, Selasa (29/9/2026).
Dalam skala budidaya hortikultura, khususnya bawang merah, tiga jenis hama serangga utama yang sering memicu penurunan kualitas hingga kegagalan panen adalah spodoptera exigua atau ulat grayak.
Ini adalah arva yang menyerang bagian dalam daun bawang merah, menyebabkan daun berlubang, layu, hingga mengering.
Kedua, thrips tabaci atau gurem bawang), hama berukuran kecil yang mengisap cairan daun, meninggalkan bercak keperakan yang mengganggu proses fotosintesis.
Baca juga: Jalan ke Kebun Kini Mulus, Petani Aceh Tenggara Lebih Mudah Angkut Hasil Panen
Ketiga, plutella xylostella, hama pemakan jaringan daun yang kerap menyerang berbagai komoditas tanaman hortikultura.
Melalui produk perlindungan tanaman Cimegra yang telah memasuki tahun ketiga masa edar di Indonesia, insektisida ini dirancang untuk menekan kerusakan akibat ketiga hama tersebut.
Berdasarkan mekanisme kerjanya, formulasi ini memiliki proposisi penghentian aktivitas makan ulat sasaran dalam durasi 3,5 jam setelah aplikasi.
Daya kerja yang relatif cepat ini bertujuan meminimalkan kerusakan fisik pada jaringan daun sehingga tanaman dapat mempertahankan pertumbuhan optimalnya.
Selain pada komoditas bawang merah, registrasi penggunaan insektisida tersebut juga mencakup tanaman pangan dan hortikultura lainnya, seperti jagung, tomat, kubis, dan kedelai.
Memperingati tiga tahun keberadaan teknologi tersebut di tingkat petani lokal, BASF menggelar kegiatan *Gebyar Cimegra Secepat Kilat* di Kabupaten Brebes.
Agenda tersebut dihimpun oleh sekitar 1.000 petani bawang merah guna meninjau langsung uji kinerja di lahan komunal, berbagi pengalaman lapangan, serta menerima materi edukasi mengenai teknik penyemprotan dan manajemen resistensi hama.
Baca juga: Bela Petani Sawit Swadaya, Pemkab Kotim dan Solidaridad Percepat Migrasi e-STDB
Pendekatan penyuluhan interaktif di tingkat tapak dinilai penting agar penggunaan sarana produksi pertanian (saprodi) dilakukan secara tepat dosis, tepat sasaran, dan ramah lingkungan.
Langkah ini diharapkan dapat memperkuat rantai pasok dan ketahanan pangan nasional dari sektor hortikultura.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.