Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Bela Petani Sawit Swadaya, Pemkab Kotim dan Solidaridad Percepat Migrasi e-STDB

Kompas.com, 22 Juni 2026, 20:08 WIB
Hilda B Alexander

Penulis

JAKARTA, KOMPAS.com — Petani kelapa sawit swadaya di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah, terus didorong untuk segera bermigrasi ke sistem digital guna mengamankan legalitas lahan dan posisi tawar dalam rantai pasok global.

Pemerintah Kabupaten Kotim melalui Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan bersama organisasi nirlaba Solidaridad Indonesia menggelar bimbingan teknis (Bimtek) kolaboratif untuk mempercepat pengajuan dan entri data Surat Tanda Daftar Budidaya elektronik (e-STDB).

Baca juga: Ketika Petani Meninggalkan Karet: Sawit Dinilai Lebih Menjanjikan

Langkah digitalisasi ini menjadi instrumen wajib bagi petani mandiri untuk mengakses berbagai bantuan strategis pemerintah.

Tanpa kepemilikan e-STDB, petani swadaya dipastikan kehilangan hak mengajukan program bantuan Sarana Prasarana (Sarpras), program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR), hingga sertifikasi keberlanjutan Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO).

Menghapus Hambatan Birokrasi

Inisiasi ini melibatkan perusahaan swasta PT Goodhope yang bersama Solidaridad melakukan pendampingan langsung bagi para pekebun di Kecamatan Telaga Antang.

Selain memangkas rantai birokrasi administratif yang selama ini menghambat pencatatan kebun rakyat, agenda utama kolaborasi ini adalah mengonsolidasikan draf Petunjuk Teknis (Juknis) pengajuan e-STDB tingkat kabupaten.

Dokumen regulasi tersebut kini tengah disiapkan guna memperoleh pengesahan resmi dari Pemerintah Kabupaten Kotim demi menjamin kepastian hukum operasional di lapangan.

Baca juga: Kedelai di Bawah Sawit: Peluang Mandiri Pangan di Dharmasraya

Solidaridad mengidentifikasi bahwa problem utama keterlambatan pendaftaran selama ini berakar pada keterbatasan kompetensi staf lapangan dalam memetakan ruang dan poligon lahan secara digital.

Menjawab tantangan tersebut, pelatihan difokuskan pada penguatan aspek teknis secara intensif, meliputi input data tabular hingga simulasi pemetaan poligon menggunakan akun riil pada sistem berbasis web.

Bupati Kotawaringin Timur, Halikinnor, menegaskan bahwa akurasi data merupakan aspek krusial yang tidak dapat ditawar untuk melindungi hak-hak petani di wilayahnya, yang merupakan salah satu lumbung sawit terbesar di Kalimantan Tengah.

Data poligon digital dengan presisi tinggi merupakan modal kuat bagi Pemkab Kotim untuk memperjuangkan legalitas lahan petani sekaligus mendapatkan manfaat program dari Pemerintah Pusat, baik Sarpras, Peremajaan Sawit Rakyat (PSR), maupun sertifikasi ISPO.

"e-STDB adalah paspor petani swadaya menuju sawit yang legal, berkelanjutan, dan sejahtera," ujar Halikinnor, dikutip Kompas.com, Senin (22/6/2026).

Transparansi Rantai Pasok

Dalam implementasi di sistem e-STDB, para peserta yang terdiri dari petugas dinas, penyuluh pertanian lapangan (PPL) Kecamatan Telaga Antang, dan perwakilan koperasi tani diarahkan melakukan validasi titik koordinat kebun.

Akurasi pemetaan ini mutlak diperlukan untuk mencegah terjadinya tumpang tindih lahan dengan kawasan hutan atau konsesi perusahaan, yang sering kali menggagalkan proses verifikasi di tingkat kementerian.

Baca juga: Pangkas Kriminalitas di Kebun Sawit, Paser Gratiskan BPJS Buruh Informal

Country Manager Solidaridad Indonesia, Yeni Fitriyanti, menjelaskan bahwa pemenuhan aspek legalitas formal lewat platform digital ini akan mengubah posisi tawar petani swadaya yang selama ini kerap terpinggirkan dalam industri hulu kelapa sawit.

"Digitalisasi melalui e-STDB adalah fondasi penting bagi petani swadaya untuk mendapatkan pengakuan hukum serta menjadikan mereka sebagai aktor utama dalam ekosistem sawit yang lebih transparan dan berkelanjutan," kata Yeni.

Guna memastikan keselarasan dengan regulasi makro nasional, bimbingan teknis ini juga menghadirkan otoritas ahli dari Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian serta Dinas Perkebunan Provinsi Kalimantan Tengah.

Integrasi data tunggal dan standarisasi panduan kerja tim pemeta ini diharapkan mempercepat tata kelola perkebunan rakyat agar lebih adaptif terhadap kepatuhan pasar internasional yang kian ketat menuntut produk bebas deforestasi.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang


Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Memulihkan Lahan, Menumbuhkan Ekonomi dari Desa Pulu
Memulihkan Lahan, Menumbuhkan Ekonomi dari Desa Pulu
Varietas Tanaman
Cengkih Indonesia: Besar dalam Produksi, Kecil dalam Nilai Tambah
Cengkih Indonesia: Besar dalam Produksi, Kecil dalam Nilai Tambah
Varietas Tanaman
Sinergi SVLK-FSC Siap Bawa Produk Hutan Indonesia Kuasai Pasar Global
Sinergi SVLK-FSC Siap Bawa Produk Hutan Indonesia Kuasai Pasar Global
Varietas Tanaman
Kementrans Kembangkan Ubi Jalar Jadi Pangan Alternatif Selain Beras
Kementrans Kembangkan Ubi Jalar Jadi Pangan Alternatif Selain Beras
Varietas Tanaman
Bendungan Bulango Ulu Segera Tuntas, Panen Diprediksi 3 Kali Setahun
Bendungan Bulango Ulu Segera Tuntas, Panen Diprediksi 3 Kali Setahun
Varietas Tanaman
Bela Petani Sawit Swadaya, Pemkab Kotim dan Solidaridad Percepat Migrasi e-STDB
Bela Petani Sawit Swadaya, Pemkab Kotim dan Solidaridad Percepat Migrasi e-STDB
Varietas Tanaman
Way Apu Jadi Andalan Pertanian Maluku, Layani Irigasi 10.562 Hektar
Way Apu Jadi Andalan Pertanian Maluku, Layani Irigasi 10.562 Hektar
Varietas Tanaman
Dulu, Petani Perbatasan RI-Australia Panen Sekali Setahun, Kini 3 Kali
Dulu, Petani Perbatasan RI-Australia Panen Sekali Setahun, Kini 3 Kali
Varietas Tanaman
Tak Cuma Pertanian, Potensi Maritim hingga Perkebunan Digarap TEP
Tak Cuma Pertanian, Potensi Maritim hingga Perkebunan Digarap TEP
Varietas Tanaman
Pangkas Kriminalitas di Kebun Sawit, Paser Gratiskan BPJS Buruh Informal
Pangkas Kriminalitas di Kebun Sawit, Paser Gratiskan BPJS Buruh Informal
Varietas Tanaman
Pabrik Kelapa di Halmahera Utara Berpotensi Serap 20.000 Tenaga Kerja
Pabrik Kelapa di Halmahera Utara Berpotensi Serap 20.000 Tenaga Kerja
Varietas Tanaman
Lawan Rob, Warga Pekalongan Manfaatkan Tanah Wakaf untuk Pertanian
Lawan Rob, Warga Pekalongan Manfaatkan Tanah Wakaf untuk Pertanian
Varietas Tanaman
Kebutuhan Kelapa China 4 Miliar Butir, Halmahera Utara Siap Jadi Pemasok
Kebutuhan Kelapa China 4 Miliar Butir, Halmahera Utara Siap Jadi Pemasok
Varietas Tanaman
JIAT Rp 1,5 Miliar di Rote Ndao Layani 10 Hektar Lahan Pertanian
JIAT Rp 1,5 Miliar di Rote Ndao Layani 10 Hektar Lahan Pertanian
Varietas Tanaman
Ekspor Perkebunan Tumbuh Signifikan dan Dicari Pasar
Ekspor Perkebunan Tumbuh Signifikan dan Dicari Pasar
Varietas Tanaman
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau