MERAUKE, KOMPAS.com - Dulu melimpah hingga terbuang sia-sia, hasil tangkapan ikan warga di kawasan transmigrasi Kabupaten Merauke, Papua Selatan, kini mulai bersolek.
Tak lagi sekadar dijual segar dalam bentuk komoditas mentah, olahan ikan lokal kini dikemas rapi agar siap menembus pasar nasional hingga masuk ke jaringan ritel modern.
Langkah ini menjadi penanda pergeseran besar dalam tata kelola kawasan transmigrasi dalam membangun ekosistem bisnis berbasis potensi lokal.
Baca juga: Merawat Sawah, Menjaga Asa, Sang Penjaga Malam Berkolaborasi dengan Petani Gianyar
Menteri Transmigrasi (Mentrans) M. Iftitah Sulaiman Suryanagara menegaskan bahwa kunci utama dari kebangkitan ekonomi warga transmigran adalah nilai tambah produk dan kepastian akses pasar sejak hilir.
"Dulu ikan melimpah, bahkan dibuang sia-sia. Sekarang, mereka buat kemasannya sehingga bisa dinikmati oleh semua masyarakat di Indonesia," kata Iftitah dikutip Kompas.com, Minggu (4/10/2026).
Pengembangan olahan ikan di Merauke tak berhenti pada perbaikan kemasan semata.
Pemerintah mendorong masuknya teknologi digital agar produk UMKM setempat tak melulu bergantung pada pembeli di sekitar pemukiman.
Iftitah menginstruksikan para pendamping lapangan yang tergabung dalam Tim Ekspedisi Patriot (TEP) untuk mendampingi warga berjualan di platform e-commerce.
"Terkait digitalisasi, saya sudah sampaikan kepada para 'patriot' agar membantu produk lokal ini masuk ke e-commerce," ujarnya.
Baca juga: Jalan ke Kebun Kini Mulus, Petani Aceh Tenggara Lebih Mudah Angkut Hasil Panen
Sejalan dengan pusat, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Merauke menyiapkan jalur distribusi darat melalui kemitraan wajib dengan perusahaan waralaba.
Bupati Merauke Yoseph Bladib Gebze menyatakan, setiap jaringan gerai ritel modern yang beroperasi di wilayahnya wajib memberi ruang bagi produk UMKM lokal di rak penjualan mereka.
"Produk-produk kita nantinya dimasukkan ke perusahaan waralaba untuk dipasarkan, baik di Papua Selatan maupun ke luar daerah. Ini menjadi bagian dari syarat izin operasi mereka di Merauke," tegas Yoseph.
Pola pengembangan berorientasi pasar ini berkaca pada keberhasilan Kawasan Transmigrasi Bahari Tomini Raya di Sulawesi Tengah.
Di wilayah tersebut, pemerintah memulainya dengan insentif pembukaan lahan dan budidaya durian. Ketika panen mulai stabil, jalur ekspor langsung dibuka hingga ke pasar China.
Baca juga: Bela Petani Sawit Swadaya, Pemkab Kotim dan Solidaridad Percepat Migrasi e-STDB
Hasilnya, permintaan pasar luar negeri kini justru melampaui kapasitas produksi warga.
"Dulu diberikan insentif tanam durian, lalu dibuka pasarnya sampai ke Tiongkok. Bahkan sekarang pasokannya masih kekurangan karena tingginya permintaan," tutur Iftitah.
Pengalaman Tomini Raya dan pemanfaatan potensi ikan Merauke menjadi fondasi bagi paradigma baru kementerian dalam mengelola transmigrasi di Indonesia.
Pemerintah bertekad meninggalkan pola lama yang sering kali menempatkan warga terlebih dahulu di lokasi baru tanpa kepastian mata pencaharian yang matang.
"Di masa lalu, orang ditempatkan dulu baru dilihat peluang ekonominya. Sekarang tidak. Transmigrasi hari ini adalah mengidentifikasi potensi ekonominya terlebih dahulu, baru dilakukan penempatan," pungkas Iftitah.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.