Penulis
JAKARTA, KOMPAS.com — Penerapan teknologi pertanian cerdas (smart farming) selama ini kerap dipersepsikan sebagai investasi mahal yang hanya rasional bagi negara-negara maju.
Namun, temuan terbaru mematahkan stigma tersebut dengan membuktikan bahwa adopsi teknologi presisi justru memberikan dampak keuntungan ekonomi yang sangat signifikan di wilayah Global South atau negara dunia ketiga (berkembang).
Baca juga: Perkuat Pangan Nasional, Kemenhut dan KSPL Dorong Potensi Perhutanan Sosial
Melansir laporan publikasi riset di Phys.org, efisiensi biaya operasional dan peningkatan hasil panen yang dihasilkan dari smart farming di wilayah berkembang terbukti mampu menutup biaya investasi awal (cost-effective) dalam waktu yang relatif singkat.
Teknologi seperti sensor tanah berbasis Internet of Things (IoT), pemantauan cuaca presisi, hingga efisiensi irigasi pintar kini tidak hanya membantu menjaga kelestarian lingkungan, tetapi secara langsung mendongkrak marjin keuntungan para petani.
Di negara-negara berkembang, tantangan utama sektor pertanian umumnya berkisar pada tingginya harga pupuk, keterbatasan pasokan air, serta dampak ketidakpastian iklim.
Adopsi smart farming menjadi solusi praktis karena memungkinkan pemberian nutrisi dan air secara proporsional sesuai kebutuhan tanaman.
Baca juga: Tembus Rp 1.480 Triliun, Ini Rincian Dana Global Selamatkan Alam dari Kerusakan
Data riset menunjukkan bahwa penggunaan teknologi irigasi dan pemupukan presisi sanggup menghemat penggunaan air dan input kimia hingga puluhan persen tanpa menurunkan kualitas maupun kuantitas hasil panen.
Penghematan biaya input inilah yang menjadi pendorong utama lonjakan profitabilitas usaha tani di wilayah Global South.
Temuan ini membawa angin segar bagi negara-negara berkembang, termasuk Indonesia, yang mayoritas didominasi oleh petani skala kecil (smallholders).
Model smart farming yang terjangkau (low-cost smart agriculture) kini makin marak dikembangkan untuk menyesuaikan kemampuan finansial dan kebutuhan lokal.
Baca juga: Dari Kopi hingga Sawit, Cara PISAgro Cetak Perempuan Petani Mandiri Finansial
Dengan tersedianya perangkat lunak berbasis ponsel pintar dan sensor lokal hemat energi, petani tidak lagi harus membeli mesin-mesin canggih berharga fantastis untuk menerapkan pertanian presisi.
Integrasi antara teknologi digital, efisiensi sumber daya, dan dukungan kebijakan pemerintah diyakini bakal menjadi penggerak utama transformasi sektor pertanian global menuju sistem yang lebih adil, menguntungkan, dan berkelanjutan.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.
Artikel ini telah masuk Arsip. Berlangganan untuk membacanya kembali kapan saja.