Penulis
KOMPAS.com - Di antara bedeng tanaman di lereng Kamojang, Hendro berjongkok memetik sebutir cabai rawit hijau berpotongan buntet.
Petani muda lulusan SMK ini membudidayakan cengek stroberi dan cengek domba di atas lahan 1.400 meter persegi.
Hasil panennya terus meningkat melampaui empat kali petik seminggu sekali, bersisian dengan tumpang sari kentang dan cabai keriting.
Hendro, yang menggarap lahan bersama Kelompok Tani Hutan Cikondang, memadukan kotoran ternak dan sisa tanaman menjadi adonan pupuk.
Baca juga: Norwegia Suntik Bantuan, Tanjabtim Hijaukan 475 Hektar Hutan dan Benteng Pesisir
Uniknya, pupuk bernama GeO-Fert ini tidak dijemur di bawah terik matahari, melainkan dikeringkan di ruang khusus bertenaga uap sisa Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Kamojang.
Bantuan pemanas uap bersuhu 60–70°C dari fasilitas PT Pertamina Geothermal Energy (PGE) Area Kamojang ini memangkas durasi penjemuran pupuk dari 14 hari menjadi 12 jam saja.
Lewat inovasi ini, sekitar 230 ton limbah organik saban tahun diolah menjadi 193,8 ton pupuk siap pakai.
Pemanfaatan uap perut bumi tidak berhenti di kebun cabai. Muhammad Ramdhan Reza Nurfadilah (Deden), peracik kopi binaan PGE, memanfaatkan Geothermal Dry House sejak 2018 untuk mempercepat pengeringan biji kopi hingga tiga kali lipat.
Sebagai local hero mitra binaan PT Pertamina Geothermal Energy (PGE) Area Kamojang, Hendro tak sekadar bercocok tanam tumpang sari antara cabai dan kentang. Ia juga mengolah kotoran ternak serta sisa panen menjadi pupuk organik bertajuk GeO-Fert.
Baca juga: Kabar Baik Sektor Pangan, 87 Persen Lahan Baku Sawah Masuk Perlindungan LP2B
Proses pembuatan pupuk ini memanfaatkan teknologi pengering berpemanas uap dari perut bumi.
Menggunakan sisa uap bersuhu 60–70°C dari Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP), durasi pengeringan pupuk pangkas drastis dari 14 hari penjemuran matahari menjadi hanya 12 jam. Setiap tahun, 230 ton limbah organik berhasil diolah menjadi 193,8 ton pupuk siap pakai.
Pemanfaatan langsung energi geotermal juga meluas ke komoditas kopi melalui keberadaan Geothermal Dry House.
Muhammad Ramdhan Reza Nurfadilah (Deden), pengelola Indonesia Geothermal Coffee Process, berkolaborasi dengan roaster senior Aki Undang (73) mengolah kopi berkarakter khusus.
Fasilitas pengeringan uap bumi ini mampu mengeringkan biji kopi tiga kali lebih cepat dibanding metode konvensional.
Baca juga: Karhutla Belum Usai, Lahan Hortikultura Palangka Raya Mulai Terdampak
Dari inovasi yang telah mengantongi paten sederhana pada 2024 ini, lahir kopi bermerek Canaya, diambil dari bahasa Sunda can aya yang berarti belum ada.
Kopi Canaya kini telah mengekspor hingga 20 ton kopi ke Jepang, Jerman, dan Afrika. Sepanjang 2024, program yang melibatkan 312 petani dari 18 kelompok tani di lahan seluas 80 hektar ini mencatatkan omzet sebesar Rp 863,9 juta.
Tak berhenti di sektor perkebunan, kelompok perempuan di Desa Talun, Kecamatan Ibun, turut memanfaatkan geothermal dehydrator.
Dipimpin Tety (61), ibu-ibu setempat mengeringkan olahan pangan seperti teng-teng ketan hingga sebring kulit singkong berbumbu seblak.
Proses dehidrasi makanan yang biasanya memakan waktu tujuh hari kini rampung dalam lima jam. Lebih dari 5.500 kemasan produk berhasil dipasarkan dengan raihan omzet Rp 90 juta dalam enam bulan.
Baca juga: Budidaya Perikanan Jadi Tumpuan Baru Ketahanan Pangan
Di sektor perikanan, uap panas bumi dialirkan untuk menghangatkan air kolam budidaya yang dingin.
Riset menunjukkan, bobot ikan melonjak dari 220 gram menjadi 330 gram dengan masa panen 25 persen lebih cepat. Hasil panen ini kemudian diolah menjadi abon dan ikan asin yang dikeringkan kembali dengan pengering geotermal.
Melalui ekosistem pemberdayaan bernama Kanyaah (kasih sayang), PGE Area Kamojang telah menjangkau 14.976 penerima manfaat dan mengamankan penghargaan PROPER Emas 15 kali berturut-turut.
Inovasi pemanfaatan langsung ini dinilai menjadi jawaban atas kekhawatiran masyarakat di daerah lain yang kerap menganggap proyek panas bumi hanya mengeruk sumber daya daerah.
Di Kamojang, sisa energi panas bumi terbukti dapat dirasakan langsung oleh warga lokal untuk meningkatkan nilai tambah produk pertanian dan pangan mereka.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.
Artikel ini telah masuk Arsip. Berlangganan untuk membacanya kembali kapan saja.