Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Panas Bumi Kamojang Sokong Dapur Petani

Kompas.com, 24 Oktober 2026, 14:00 WIB
Hilda B Alexander

Penulis

Sumber Antara

KOMPAS.com - Di antara bedeng tanaman di lereng Kamojang, Hendro berjongkok memetik sebutir cabai rawit hijau berpotongan buntet.

Petani muda lulusan SMK ini membudidayakan cengek stroberi dan cengek domba di atas lahan 1.400 meter persegi.

Hasil panennya terus meningkat melampaui empat kali petik seminggu sekali, bersisian dengan tumpang sari kentang dan cabai keriting.

Hendro, yang menggarap lahan bersama Kelompok Tani Hutan Cikondang, memadukan kotoran ternak dan sisa tanaman menjadi adonan pupuk.

Baca juga: Norwegia Suntik Bantuan, Tanjabtim Hijaukan 475 Hektar Hutan dan Benteng Pesisir

Uniknya, pupuk bernama GeO-Fert ini tidak dijemur di bawah terik matahari, melainkan dikeringkan di ruang khusus bertenaga uap sisa Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Kamojang.

Bantuan pemanas uap bersuhu 60–70°C dari fasilitas PT Pertamina Geothermal Energy (PGE) Area Kamojang ini memangkas durasi penjemuran pupuk dari 14 hari menjadi 12 jam saja.

Lewat inovasi ini, sekitar 230 ton limbah organik saban tahun diolah menjadi 193,8 ton pupuk siap pakai.

Sensasi kopi geotermal tembus pasar dunia

Pemanfaatan uap perut bumi tidak berhenti di kebun cabai. Muhammad Ramdhan Reza Nurfadilah (Deden), peracik kopi binaan PGE, memanfaatkan Geothermal Dry House sejak 2018 untuk mempercepat pengeringan biji kopi hingga tiga kali lipat.

Sebagai local hero mitra binaan PT Pertamina Geothermal Energy (PGE) Area Kamojang, Hendro tak sekadar bercocok tanam tumpang sari antara cabai dan kentang. Ia juga mengolah kotoran ternak serta sisa panen menjadi pupuk organik bertajuk GeO-Fert.

Baca juga: Kabar Baik Sektor Pangan, 87 Persen Lahan Baku Sawah Masuk Perlindungan LP2B

Proses pembuatan pupuk ini memanfaatkan teknologi pengering berpemanas uap dari perut bumi.

Menggunakan sisa uap bersuhu 60–70°C dari Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP), durasi pengeringan pupuk pangkas drastis dari 14 hari penjemuran matahari menjadi hanya 12 jam. Setiap tahun, 230 ton limbah organik berhasil diolah menjadi 193,8 ton pupuk siap pakai.

Kopi canaya tembus Jerman dan Jepang

Pemanfaatan langsung energi geotermal juga meluas ke komoditas kopi melalui keberadaan Geothermal Dry House.

Muhammad Ramdhan Reza Nurfadilah (Deden), pengelola Indonesia Geothermal Coffee Process, berkolaborasi dengan roaster senior Aki Undang (73) mengolah kopi berkarakter khusus.

Fasilitas pengeringan uap bumi ini mampu mengeringkan biji kopi tiga kali lebih cepat dibanding metode konvensional.

Baca juga: Karhutla Belum Usai, Lahan Hortikultura Palangka Raya Mulai Terdampak

Dari inovasi yang telah mengantongi paten sederhana pada 2024 ini, lahir kopi bermerek Canaya, diambil dari bahasa Sunda can aya yang berarti belum ada.

Kopi Canaya kini telah mengekspor hingga 20 ton kopi ke Jepang, Jerman, dan Afrika. Sepanjang 2024, program yang melibatkan 312 petani dari 18 kelompok tani di lahan seluas 80 hektar ini mencatatkan omzet sebesar Rp 863,9 juta.

Dapur Ibu-Ibu dan Budidaya Ikan Hangat

Tak berhenti di sektor perkebunan, kelompok perempuan di Desa Talun, Kecamatan Ibun, turut memanfaatkan geothermal dehydrator.

Dipimpin Tety (61), ibu-ibu setempat mengeringkan olahan pangan seperti teng-teng ketan hingga sebring kulit singkong berbumbu seblak.

Proses dehidrasi makanan yang biasanya memakan waktu tujuh hari kini rampung dalam lima jam. Lebih dari 5.500 kemasan produk berhasil dipasarkan dengan raihan omzet Rp 90 juta dalam enam bulan.

Baca juga: Budidaya Perikanan Jadi Tumpuan Baru Ketahanan Pangan

Di sektor perikanan, uap panas bumi dialirkan untuk menghangatkan air kolam budidaya yang dingin.

Riset menunjukkan, bobot ikan melonjak dari 220 gram menjadi 330 gram dengan masa panen 25 persen lebih cepat. Hasil panen ini kemudian diolah menjadi abon dan ikan asin yang dikeringkan kembali dengan pengering geotermal.

Melalui ekosistem pemberdayaan bernama Kanyaah (kasih sayang), PGE Area Kamojang telah menjangkau 14.976 penerima manfaat dan mengamankan penghargaan PROPER Emas 15 kali berturut-turut.

Inovasi pemanfaatan langsung ini dinilai menjadi jawaban atas kekhawatiran masyarakat di daerah lain yang kerap menganggap proyek panas bumi hanya mengeruk sumber daya daerah.

Di Kamojang, sisa energi panas bumi terbukti dapat dirasakan langsung oleh warga lokal untuk meningkatkan nilai tambah produk pertanian dan pangan mereka.

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.


Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Panas Bumi Kamojang Sokong Dapur Petani
Panas Bumi Kamojang Sokong Dapur Petani
Varietas Tanaman
Ubah Limbah Jagung Jadi Cuan, Dekranasda Sumbawa Gandeng BRIDA
Ubah Limbah Jagung Jadi Cuan, Dekranasda Sumbawa Gandeng BRIDA
Varietas Tanaman
Norwegia Suntik Bantuan, Tanjabtim Hijaukan 475 Hektar Hutan dan Benteng Pesisir
Norwegia Suntik Bantuan, Tanjabtim Hijaukan 475 Hektar Hutan dan Benteng Pesisir
Varietas Tanaman
Kabar Baik Sektor Pangan, 87 Persen Lahan Baku Sawah Masuk Perlindungan LP2B
Kabar Baik Sektor Pangan, 87 Persen Lahan Baku Sawah Masuk Perlindungan LP2B
Berita
Karhutla Belum Usai, Lahan Hortikultura Palangka Raya Mulai Terdampak
Karhutla Belum Usai, Lahan Hortikultura Palangka Raya Mulai Terdampak
Berita
Dua Tahun Prabowo-Gibran: Swasembada Beras hingga Cabai, Stok Beras 4,5 Juta Ton
Dua Tahun Prabowo-Gibran: Swasembada Beras hingga Cabai, Stok Beras 4,5 Juta Ton
Berita
Budidaya Perikanan Jadi Tumpuan Baru Ketahanan Pangan
Budidaya Perikanan Jadi Tumpuan Baru Ketahanan Pangan
Berita
Bukan Lagi Milik Negara Maju, Smart Farming Bikin Petani Dunia Ketiga Cuan
Bukan Lagi Milik Negara Maju, Smart Farming Bikin Petani Dunia Ketiga Cuan
Berita
Perkuat Pangan Nasional, Kemenhut dan KSPL Dorong Potensi Perhutanan Sosial
Perkuat Pangan Nasional, Kemenhut dan KSPL Dorong Potensi Perhutanan Sosial
Berita
Tembus Rp 1.480 Triliun, Ini Rincian Dana Global Selamatkan Alam dari Kerusakan
Tembus Rp 1.480 Triliun, Ini Rincian Dana Global Selamatkan Alam dari Kerusakan
Berita
Amankan Pasokan Pupuk Nasional, RI Incar Tambang Fosfat di Aljazair
Amankan Pasokan Pupuk Nasional, RI Incar Tambang Fosfat di Aljazair
Berita
Dari Kopi hingga Sawit, Cara PISAgro Cetak Perempuan Petani Mandiri Finansial
Dari Kopi hingga Sawit, Cara PISAgro Cetak Perempuan Petani Mandiri Finansial
Berita
Topang Ketahanan Pangan Nasional, Jatim Diguyur Bantuan Rp 3 Triliun
Topang Ketahanan Pangan Nasional, Jatim Diguyur Bantuan Rp 3 Triliun
Berita
Rendah Emisi, Green Rice Punya Banyak Keunggulan
Rendah Emisi, Green Rice Punya Banyak Keunggulan
Varietas Tanaman
Pemerintah Tegaskan Komitmen Dekarbonisasi dan Penghentian Deforestasi Pertanian
Pemerintah Tegaskan Komitmen Dekarbonisasi dan Penghentian Deforestasi Pertanian
Berita
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau