Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Budidaya Perikanan Jadi Tumpuan Baru Ketahanan Pangan

Kompas.com, 22 Oktober 2026, 22:18 WIB
Hilda B Alexander

Penulis

JAKARTA, KOMPAS.com - Sektor akuakultur atau budidaya perikanan telah menorehkan sejarah baru dalam sistem pangan dunia.

Produk hasil budidaya kini resmi melebihi hasil tangkapan laut lepas sebagai penyedia utama protein akuatik bagi konsumsi manusia.

Kendati demikian, tren pertumbuhan sektor vital ini justru menunjukkan gejala perlambatan signifikan di tengah melonjaknya permintaan pasar global.

Baca juga: Bukan Lagi Milik Negara Maju, Smart Farming Bikin Petani Dunia Ketiga Cuan

Laporan bertajuk Blue Economy Rising: Oceans, Aquaculture, and the Future of Food Security yang dirilis World Agriculture Forum (WAF) menegaskan bahwa produksi pangan akuatik dunia sempat menyentuh rekor 142 juta ton.

Sementara hasil tangkapan laut stagnan selama dua dekade terakhir, sektor akuakultur justru menjadi tumpuan utama.

Namun, Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO) memproyeksikan laju pertumbuhan tahunan akuakultur akan merosot hingga 60 persen pada dekade mendatang.

Laju yang sebelumnya mencatatkan angka 4,0 persen per tahun pada periode 2012–2022 diperkirakan melambat menjadi hanya 1,6 persen per tahun hingga 2032.

Keterbatasan pasokan air bersih, ancaman penyakit, minimnya lahan potensial, hingga ketatnya regulasi limbah menjadi faktor utama penahan laju produksi tersebut.

Bukan masalah teknologi

Temuan WAF menggarisbawahi bahwa hambatan pertumbuhan ini sejatinya bukan disebabkan oleh keterbatasan teknologi.

Berbagai solusi teknis terbukti telah berhasil diterapkan secara komersial di sejumlah negara.

Di India, sektor akuakultur berkembang pesat dari di bawah 1 juta ton menjadi hampir 20 juta ton berkat investasi publik yang konsisten selama 75 tahun.

Baca juga: Perkuat Pangan Nasional, Kemenhut dan KSPL Dorong Potensi Perhutanan Sosial

Sementara di Ghana, penerapan sistem bioflok skala komersial mampu memangkas penggunaan lahan hingga 20 kali lipat dan menghemat air hingga 30 kali lipat tanpa membuang limbah.

Ada pun di Afrika Selatan, dialihkannya 1 persen air irigasi di wilayah Western Cape ke sektor perikanan budidaya berpotensi menyamai seluruh kuota tangkapan ikan hake nasional tanpa perlu membuka lahan baru.

Tantangan tata kelola dan kemitraan

Persoalan mendasar saat ini terletak pada transfer solusi inovatif ke wilayah-wilayah yang paling membutuhkan.

Hambatan tersebut mencakup kapasitas tata kelola, skema investasi yang teruji, hingga pelibatan pembudidaya skala kecil, kelompok perempuan, dan komunitas pesisir yang sering kali terpinggirkan dari akses pendanaan.

Baca juga: Tembus Rp 1.480 Triliun, Ini Rincian Dana Global Selamatkan Alam dari Kerusakan

Guna mengatasi kesenjangan tersebut, laporan WAF merumuskan rekomendasi strategis bagi pemangku kepentingan global

Penyelarasan kebijakan nasional dengan Panduan Akuakultur Berkelanjutan dari FAO, komitmen investasi publik jangka panjang untuk riset dan infrastruktur, pengarusutamaan sistem produksi sirkular berbasis zero-discharge, dan prioritas investasi rantai dingin serta pasokan energi di pasar berkembang.

Masa depan keberlanjutan akuakultur global dalam dua dekade mendatang tidak lagi ditentukan oleh penemuan baru di dalam laboratorium, melainkan oleh kecepatan implementasi teknologi di tingkat pembudidaya.

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of

Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Panas Bumi Kamojang Sokong Dapur Petani
Panas Bumi Kamojang Sokong Dapur Petani
Varietas Tanaman
Ubah Limbah Jagung Jadi Cuan, Dekranasda Sumbawa Gandeng BRIDA
Ubah Limbah Jagung Jadi Cuan, Dekranasda Sumbawa Gandeng BRIDA
Varietas Tanaman
Norwegia Suntik Bantuan, Tanjabtim Hijaukan 475 Hektar Hutan dan Benteng Pesisir
Norwegia Suntik Bantuan, Tanjabtim Hijaukan 475 Hektar Hutan dan Benteng Pesisir
Varietas Tanaman
Kabar Baik Sektor Pangan, 87 Persen Lahan Baku Sawah Masuk Perlindungan LP2B
Kabar Baik Sektor Pangan, 87 Persen Lahan Baku Sawah Masuk Perlindungan LP2B
Berita
Karhutla Belum Usai, Lahan Hortikultura Palangka Raya Mulai Terdampak
Karhutla Belum Usai, Lahan Hortikultura Palangka Raya Mulai Terdampak
Berita
Dua Tahun Prabowo-Gibran: Swasembada Beras hingga Cabai, Stok Beras 4,5 Juta Ton
Dua Tahun Prabowo-Gibran: Swasembada Beras hingga Cabai, Stok Beras 4,5 Juta Ton
Berita
Budidaya Perikanan Jadi Tumpuan Baru Ketahanan Pangan
Budidaya Perikanan Jadi Tumpuan Baru Ketahanan Pangan
Berita
Bukan Lagi Milik Negara Maju, Smart Farming Bikin Petani Dunia Ketiga Cuan
Bukan Lagi Milik Negara Maju, Smart Farming Bikin Petani Dunia Ketiga Cuan
Berita
Perkuat Pangan Nasional, Kemenhut dan KSPL Dorong Potensi Perhutanan Sosial
Perkuat Pangan Nasional, Kemenhut dan KSPL Dorong Potensi Perhutanan Sosial
Berita
Tembus Rp 1.480 Triliun, Ini Rincian Dana Global Selamatkan Alam dari Kerusakan
Tembus Rp 1.480 Triliun, Ini Rincian Dana Global Selamatkan Alam dari Kerusakan
Berita
Amankan Pasokan Pupuk Nasional, RI Incar Tambang Fosfat di Aljazair
Amankan Pasokan Pupuk Nasional, RI Incar Tambang Fosfat di Aljazair
Berita
Dari Kopi hingga Sawit, Cara PISAgro Cetak Perempuan Petani Mandiri Finansial
Dari Kopi hingga Sawit, Cara PISAgro Cetak Perempuan Petani Mandiri Finansial
Berita
Topang Ketahanan Pangan Nasional, Jatim Diguyur Bantuan Rp 3 Triliun
Topang Ketahanan Pangan Nasional, Jatim Diguyur Bantuan Rp 3 Triliun
Berita
Rendah Emisi, Green Rice Punya Banyak Keunggulan
Rendah Emisi, Green Rice Punya Banyak Keunggulan
Varietas Tanaman
Pemerintah Tegaskan Komitmen Dekarbonisasi dan Penghentian Deforestasi Pertanian
Pemerintah Tegaskan Komitmen Dekarbonisasi dan Penghentian Deforestasi Pertanian
Berita
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau