Penulis
JAKARTA, KOMPAS.com - Sektor akuakultur atau budidaya perikanan telah menorehkan sejarah baru dalam sistem pangan dunia.
Produk hasil budidaya kini resmi melebihi hasil tangkapan laut lepas sebagai penyedia utama protein akuatik bagi konsumsi manusia.
Kendati demikian, tren pertumbuhan sektor vital ini justru menunjukkan gejala perlambatan signifikan di tengah melonjaknya permintaan pasar global.
Baca juga: Bukan Lagi Milik Negara Maju, Smart Farming Bikin Petani Dunia Ketiga Cuan
Laporan bertajuk Blue Economy Rising: Oceans, Aquaculture, and the Future of Food Security yang dirilis World Agriculture Forum (WAF) menegaskan bahwa produksi pangan akuatik dunia sempat menyentuh rekor 142 juta ton.
Sementara hasil tangkapan laut stagnan selama dua dekade terakhir, sektor akuakultur justru menjadi tumpuan utama.
Namun, Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO) memproyeksikan laju pertumbuhan tahunan akuakultur akan merosot hingga 60 persen pada dekade mendatang.
Laju yang sebelumnya mencatatkan angka 4,0 persen per tahun pada periode 2012–2022 diperkirakan melambat menjadi hanya 1,6 persen per tahun hingga 2032.
Keterbatasan pasokan air bersih, ancaman penyakit, minimnya lahan potensial, hingga ketatnya regulasi limbah menjadi faktor utama penahan laju produksi tersebut.
Temuan WAF menggarisbawahi bahwa hambatan pertumbuhan ini sejatinya bukan disebabkan oleh keterbatasan teknologi.
Berbagai solusi teknis terbukti telah berhasil diterapkan secara komersial di sejumlah negara.
Di India, sektor akuakultur berkembang pesat dari di bawah 1 juta ton menjadi hampir 20 juta ton berkat investasi publik yang konsisten selama 75 tahun.
Baca juga: Perkuat Pangan Nasional, Kemenhut dan KSPL Dorong Potensi Perhutanan Sosial
Sementara di Ghana, penerapan sistem bioflok skala komersial mampu memangkas penggunaan lahan hingga 20 kali lipat dan menghemat air hingga 30 kali lipat tanpa membuang limbah.
Ada pun di Afrika Selatan, dialihkannya 1 persen air irigasi di wilayah Western Cape ke sektor perikanan budidaya berpotensi menyamai seluruh kuota tangkapan ikan hake nasional tanpa perlu membuka lahan baru.
Persoalan mendasar saat ini terletak pada transfer solusi inovatif ke wilayah-wilayah yang paling membutuhkan.
Hambatan tersebut mencakup kapasitas tata kelola, skema investasi yang teruji, hingga pelibatan pembudidaya skala kecil, kelompok perempuan, dan komunitas pesisir yang sering kali terpinggirkan dari akses pendanaan.
Baca juga: Tembus Rp 1.480 Triliun, Ini Rincian Dana Global Selamatkan Alam dari Kerusakan
Guna mengatasi kesenjangan tersebut, laporan WAF merumuskan rekomendasi strategis bagi pemangku kepentingan global
Penyelarasan kebijakan nasional dengan Panduan Akuakultur Berkelanjutan dari FAO, komitmen investasi publik jangka panjang untuk riset dan infrastruktur, pengarusutamaan sistem produksi sirkular berbasis zero-discharge, dan prioritas investasi rantai dingin serta pasokan energi di pasar berkembang.
Masa depan keberlanjutan akuakultur global dalam dua dekade mendatang tidak lagi ditentukan oleh penemuan baru di dalam laboratorium, melainkan oleh kecepatan implementasi teknologi di tingkat pembudidaya.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya
Artikel ini telah masuk Arsip. Berlangganan untuk membacanya kembali kapan saja.