Penulis
KOMPAS.com - Petani di Kawasan Transmigrasi Batu Betumpang, Kabupaten Bangka Selatan, Kepulauan Bangka Belitung, mulai keluar dari jerat ketidakpastian harga panen.
Melalui pendampingan Tim Ekspedisi Patriot (TEP) 1 IPB University, warga setempat membuka peluang pasokan sayuran segar secara rutin ke Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Pulau Besar.
Skema ini menjadi angin segar bagi para petani hortikultura yang selama ini kerap terganjal akses pasar dan fluktuasi harga di tingkat pedagang.
Baca juga: Panas Bumi Kamojang Sokong Dapur Petani
Petani penggerak dari Desa Sumber Jaya Permai, Ayik Sofyan, menuturkan bahwa pendampingan akademisi memberikan pemahaman baru tentang tata kelola pascapanen yang ramah pasar.
Melalui kegiatan ini, pihaknya belajar tidak hanya menghasilkan sayuran, tetapi juga bagaimana menyiapkan hasil panen sesuai kebutuhan pembeli.
"Adanya komunikasi dengan SPPG dan pedagang lokal memberikan harapan bagi pengembangan usaha hortikultura kami," kata Ayik di Demplot Trans-Organik, dikutip Kompas.com, Minggu (24/10/2026).
Langkah awal penjajakan pasar ini dibuktikan dalam ajang Farmer Field and Business School (FFBS) pertemuan ke-7.
Sebanyak 18 petani penggerak bersama tim pendamping berhasil memanen 107 kilogram sayuran organik, meliputi pakcoy, selada, bayam, dan kangkung.
Ketua TEP IPB University, Dr. Suprehatin, menegaskan bahwa perubahan pola pikir petani menjadi kunci utama transisi pertanian di kawasan transmigrasi.
Baca juga: Ubah Limbah Jagung Jadi Cuan, Dekranasda Sumbawa Gandeng BRIDA
Menurutnya, keberhasilan bertani tidak lagi diukur sebatas dari volume panen, melainkan kepastian pembeli.
"Transisi pertanian tidak cukup berhenti pada bagaimana petani menghasilkan produk yang lebih baik. Kita juga perlu memastikan produk tersebut memiliki akses pasar," jelas Suprehatin.
Dalam pelatihan ini, petani diajarkan teknik pemilahan, grading berdasarkan standar kualitas, hingga pengemasan yang rapi sebelum dikirim ke pembeli.
Kepala SPPG Pulau Besar, Ashari Ramalan, menyambut baik potensi pasokan sayuran segar dari kebun warga lokal.
Guna menjaga kelancaran distribusi program pemenuhan gizi, pihaknya menerapkan mekanisme koordinasi rutin dengan kelompok tani.
Baca juga: Karhutla Belum Usai, Lahan Hortikultura Palangka Raya Mulai Terdampak
Ashari meminta para petani menyampaikan rencana panen setidaknya satu minggu sebelum jadwal pengiriman.
Pola penyerapan terjadwal ini diterapkan agar jenis serta volume sayuran yang dikirim presisi dengan menu harian SPPG.
Upaya penyambungan rantai pasok dari kebun transmigran langsung ke lembaga konsumen ini selaras dengan arahan Menteri Transmigrasi Muhammad Iftitah Sulaiman Suryanagara, yang mendorong pengembangan ekonomi transmigrasi berbasis ceruk pasar.
Melalui keterlibatan perguruan tinggi dan kepastian penyerap hasil bumi, kawasan transmigrasi Batu Betumpang kini tak sekadar menjadi lumbung pangan lokal, tetapi juga motor penggerak ekonomi warga berbasis produk organik berkelanjutan.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.
Artikel ini telah masuk Arsip. Berlangganan untuk membacanya kembali kapan saja.