Penulis
JAKARTA, KOMPAS.com — Industri pertanian dunia penuh ketidakpastian. Menghadapi tekanan inflasi biaya produksi, konflik geopolitik yang mengganggu rantai pasok global, hingga tren penurunan harga komoditas pascapuncak 2021–2022, para petani global mulai mengetatkan ikat pinggang dan mengubah secara radikal cara mereka mengambil keputusan bisnis.
Demikian laporan riset terbaru Global Farmer Insights 2026 edisi keempat yang dirilis lembaga konsultan manajemen dunia, McKinsey & Company.
Riset yang melibatkan 5,500 petani di 10 negara, termasuk Amerika Serikat, Brasil, India, China, hingga Eropa, ini memotret perubahan perilaku yang dinilai bakal mereset peta industri agribisnis global.
Baca juga: Rahasia Klon Robusta Lampung: Pohon Tua Disulap Berbuah Lebat
"Setiap musim tanam, petani membuat keputusan yang konsekuensinya bertahan berbulan-bulan atau bertahun-tahun: apa yang ditanam, input apa yang dipakai, teknologi apa yang dipercayai, hingga seberapa besar risiko yang siap diambil," tulis para penulis riset McKinsey, yang dipimpin oleh Senior Partners David Fiocco dan Owen Stockdale, serta Partners Tom Brennan dan Vasanth Ganesan, dikutip Kompas.com, Sabtu (31/10/2026).
"Tekanan terhadap sektor pertanian saat ini sangat tinggi, dan rantai pasok rapuh. Hal ini memengaruhi bagaimana petani mengelola risiko dan mengalokasikan modal yang kian terbatas," tegas McKinsey dalam riset resminya.
Menipisnya margin keuntungan memaksa para petani memprioritaskan imbal hasil investasi atau return on investment (ROI) jangka pendek.
Riset McKinsey menemukan bahwa pupuk dan bahan kimia pertanian menjadi pos utama yang pertama kali dipangkas petani demi mengamankan kas (cash flow).
Selain input kimia, pembeliaan alat dan mesin pertanian (alsintan) juga menjadi korban penundaan masif.
Baca juga: Pohon Teh Digergaji Demi Kebun Sayur, KDM Warning Kiamat Ekologis
Sebanyak 16 persen petani menempatkan alsintan sebagai pos pertama yang dipangkas saat krisis, meski 36 percent berjanji akan meremajakan peralatan mereka begitu profitabilitas kembali membaik.
Sentimen belanja petani tertekan paling dalam di Argentina (anjlok 49 poin persentase), disusul Kanada (turun 29 poin), India (turun 28 poin), dan Brasil (turun 24 poin).
Disrupsi di Selat Hormuz yang memicu lonjakan harga pupuk dan energi, ditambah ancaman iklim El Niño, kian memperkeruh kalkulasi bisnis di tingkat bawah.
Salah satu temuan paling menohok dalam riset ini adalah pergeseran pola pengambilan keputusan petani dalam membeli produk atau teknologi pertanian.
Peran tenaga penjual (sales representative) dari perusahaan input agribisnis terus tergerus.
Secara global, pengaruh sales rep dalam keputusan pembelian petani merosot drastis hingga 11 poin persentase dibanding riset edisi 2024.
Petani kian enggan mengandalkan rekomendasi sales rep yang dinilai sarat bias kepentingan komersial.
Baca juga: Layanan Kesehatan Ternak Masih Minim, Ratusan Sapi di Manokwari Terserang Parasit
Artikel ini telah masuk Arsip. Berlangganan untuk membacanya kembali kapan saja.