Penulis
PALEMBANG, KOMPAS.com — Gulma pengganggu di sepanjang aliran Sungai Musi, Palembang, Sumatera Selatan,kini tak lagi jadi ancaman lingkungan.
Pemerintah Kota (Pemkot) Palembang bersama Tim Penggerak PKK Kota Palembang menggebrak dengan menyulap eceng gondok menjadi kompos organik bernilai tinggi untuk menyokong ketahanan pangan keluarga.
Solusi berbasis lingkungan ini digadang-gadang mampu mengubah stigma eceng gondok, yang selama ini kerap menyumbat saluran air dan merusak pemandangan perairan, menjadi amunisi utama dalam menyuburkan pertanian pekarangan rumah tangga di seluruh wilayah Palembang.
Baca juga: Bukan Pupuk Biasa, Rahasia Prebiotik Ini Bikin Daya Jelajah Akar Melonjak 50 Persen
Ketua Tim Penggerak PKK Kota Palembang, Dewi Sastrani Ratu Dewa, menegaskan pentingnya mengubah sudut pandang masyarakat dalam menyikapi keberadaan tanaman invasif tersebut.
Menurutnya, pemanfaatan eceng gondok secara bijaksana justru dapat membuka peluang ekologi sekaligus ekonomi bagi warga.
"Saat ini kami sedang menggencarkan sosialisasi tentang pemanfaatan eceng gondok sebagai bahan kompos kepada masyarakat di seluruh kecamatan di Kota Palembang," ujar Dewi dikutip dari Antara, Senin (2/11/2026).
Eksistensi eceng gondok di perairan Sungai Musi memang membutuhkan penanganan yang tepat dan terukur. Jika dibiarkan liar, populasi yang membludak dapat merusak ekosistem air.
Namun, di tangan yang tepat, kandungan hara dan bahan organik pada eceng gondok justru menjadi racikan pas untuk pembuatan kompos cair maupun padat.
Baca juga: Pertanian Global di Ujung Tanduk: Tertekan Inflasi, AI Merajalela
Melalui gerakan edukasi dan sosialisasi di tingkat kecamatan, warga diajak memahami teknik dasar pengomposan.
Harapannya, limbah gulma ini bisa dimanfaatkan langsung untuk menyuburkan tanaman konsumsi harian di pekarangan rumah, seperti sayuran dan bumbu dapur.
Dewi mengingatkan bahwa kemandirian pangan keluarga tidak selalu membutuhkan modal besar atau lahan yang luas.
Langkah kecil yang dilakukan secara konsisten di tingkat rumah tangga justru menjadi pondasi paling tangguh.
"Pengembangan pertanian pekarangan tidak harus dimulai dengan langkah besar," kata Dewi menegaskan.
Program konversi eceng gondok menjadi kompos ini juga dirancang untuk mengasah kepedulian warga terhadap kebersihan lingkungan sekitar.
Baca juga: Rahasia Klon Robusta Lampung: Pohon Tua Disulap Berbuah Lebat
Pembagian peran yang jelas serta pendampingan berkala dari pihak terkait diharapkan mampu menjaga keberlanjutan program ini.
"Masyarakat diharapkan semakin memahami pentingnya pengelolaan bahan organik dan mampu mengembangkan gagasan yang sesuai dengan potensi serta kebutuhan lingkungan masing-masing," tuturnya.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.
Artikel ini telah masuk Arsip. Berlangganan untuk membacanya kembali kapan saja.