Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Dunia Waspadai Krisis Pangan, Wamentan Operasikan Intelijen Pertanian

Kompas.com, 2 November 2026, 15:00 WIB
Hilda B Alexander

Penulis

JAKARTA, KOMPAS.com — Krisis global yang memaksa sedikitnya 33 negara di dunia mulai memaksa Pemerintah masing-masing untuk mengimbau warga menimbun bahan pangan darurat.

Sementara Indonesia memilih cara lain. Kementerian Pertanian (Kementan) mulai mengoperasikan strategi khusus yakni intelijen pertanian.

Strategi ini ditegaskan oleh Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Muhammad Saleh Mustafa dalam ajang "3rd International Conference on Agricultural, Nutraceutical and Food Science (ICANFS)" di Universitas Tidar, Magelang, Jawa Tengah.

Baca juga: Bukan Lagi Gulma Pengganggu, Eceng Gondok Disulap Jadi Solusi Pangan Keluarga

Wamentan Saleh meluruskan pandangan publik yang kerap mengaitkan istilah intelijen semata-mata dengan dunia intelijen militer atau intelijen pertahanan.

"Kalau dengar intelijen jangan langsung konotasinya militer. Kita perlu yang namanya intelijen pertanian," ujar Saleh dalam keterangannya yang terkonfirmasi di Jakarta, dikutip dari Antara, Senin (2/11/2026).

Membaca risiko global, cegah pangan dipermainkan

Sebagai purnawirawan tentara dengan posisi terakhir Wakil Kepala Staf Angkatan Darat (Wakasad), Saleh melihat intelijen pertanian sebagai instrumen vital untuk memetakan dinamika geopolitik, ancaman iklim, hingga potensi disrupsi rantai pasok global secara akurat.

Langkah ini diambil agar kebijakan produksi, tata kelola impor, dan rantai distribusi pangan nasional tidak dipermainkan oleh spekulan maupun pihak tertentu yang memanfaatkan ketidakpastian global.

Baca juga: Bukan Pupuk Biasa, Rahasia Prebiotik Ini Bikin Daya Jelajah Akar Melonjak 50 Persen

"Intelijen pertanian dan hilirisasi penting untuk memperkuat ketahanan pangan nasional di tengah dinamika geopolitik dan perubahan iklim," tutur Saleh.

Menurutnya, penguatan pasokan domestik tidak cukup hanya dengan mengandalkan cetak lahan, tetapi harus dibarengi pengawasan perdagangan yang ketat, modernisasi alat mesin pertanian (alsintan), efisiensi irigasi, serta riset hilirisasi untuk meningkatkan nilai tambah komoditas.

Stok Nasional aman di tengah gejolak 33 negara

Di sisi lain, Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman mengonfirmasi bahwa posisi cadangan pangan nasional saat ini berada dalam kondisi aman dan tangguh.

Ketahanan ini didukung oleh optimalisasi produksi dalam negeri dan cadangan pemerintah yang memadai.

Baca juga: Rahasia Klon Robusta Lampung: Pohon Tua Disulap Berbuah Lebat

"Ketika sedikitnya 33 negara mulai mendorong masyarakatnya menyiapkan persediaan makanan, air minum, obat-obatan, dan kebutuhan dasar untuk menghadapi situasi darurat, Indonesia memiliki kekuatan produksi pangan dalam negeri dan cadangan beras yang kuat," tegas Amran.

Amran menyebut keberhasilan menahan guncangan krisis global ini merupakan buah dari kerja keras petani di lapangan serta konsistensi kebijakan kemandirian pangan.

Meski begitu, Kementan mengingatkan bahwa kolaborasi dengan perguruan tinggi, peneliti, dan generasi muda tetap menjadi kunci agar Indonesia tidak sekadar bertahan, tetapi mampu memimpin ketahanan pangan berkelanjutan di kawasan regional.

Dukung KOMPAS.com untuk terus memberikan fakta jernih dari lapangan. Gabung Kompas.com PLUS


Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Batam Siapkan 40 Hektar Lahan Cabai dan Jagung, Panen Perdana Akhir Desember
Batam Siapkan 40 Hektar Lahan Cabai dan Jagung, Panen Perdana Akhir Desember
Berita
Tekan Belanja Warga, Pemkot Makassar Targetkan Seluruh RW Punya Urban Farming
Tekan Belanja Warga, Pemkot Makassar Targetkan Seluruh RW Punya Urban Farming
Berita
Ada Bibit Pohon Gratis dari Kemenhut, Ini Syarat dan Cara Pengambilannya
Ada Bibit Pohon Gratis dari Kemenhut, Ini Syarat dan Cara Pengambilannya
Berita
Dunia Waspadai Krisis Pangan, Wamentan Operasikan Intelijen Pertanian
Dunia Waspadai Krisis Pangan, Wamentan Operasikan Intelijen Pertanian
Berita
Bukan Lagi Gulma Pengganggu, Eceng Gondok Disulap Jadi Solusi Pangan Keluarga
Bukan Lagi Gulma Pengganggu, Eceng Gondok Disulap Jadi Solusi Pangan Keluarga
Varietas Tanaman
Bukan Pupuk Biasa, Rahasia Prebiotik Ini Bikin Daya Jelajah Akar Melonjak 50 Persen
Bukan Pupuk Biasa, Rahasia Prebiotik Ini Bikin Daya Jelajah Akar Melonjak 50 Persen
Varietas Tanaman
Pertanian Global di Ujung Tanduk: Tertekan Inflasi, AI Merajalela
Pertanian Global di Ujung Tanduk: Tertekan Inflasi, AI Merajalela
Berita
Rahasia Klon Robusta Lampung: Pohon Tua 'Disulap' Berbuah Lebat
Rahasia Klon Robusta Lampung: Pohon Tua "Disulap" Berbuah Lebat
Varietas Tanaman
Pohon Teh Digergaji Demi Kebun Sayur, KDM Warning Kiamat Ekologis
Pohon Teh Digergaji Demi Kebun Sayur, KDM Warning Kiamat Ekologis
Berita
Layanan Kesehatan Ternak Masih Minim, Ratusan Sapi di Manokwari Terserang Parasit
Layanan Kesehatan Ternak Masih Minim, Ratusan Sapi di Manokwari Terserang Parasit
Berita
Kalahkan Ekspor Kopi, Biosolusi Diproyeksikan Sumbang Ekonomi Rp 36 Triliun
Kalahkan Ekspor Kopi, Biosolusi Diproyeksikan Sumbang Ekonomi Rp 36 Triliun
Varietas Tanaman
Beras Subsidi Dioplos Jadi Premium, Mentan Amran Murka: Ini Amoral
Beras Subsidi Dioplos Jadi Premium, Mentan Amran Murka: Ini Amoral
Berita
Kalender Warige Disebut Hanya 35 Persen Cocok Saat El Nino dan La Nina
Kalender Warige Disebut Hanya 35 Persen Cocok Saat El Nino dan La Nina
Berita
Golden Alisha, Melon Kuning yang Kian Populer dan Bisa Dipanen 3 Bulan
Golden Alisha, Melon Kuning yang Kian Populer dan Bisa Dipanen 3 Bulan
Varietas Tanaman
Setara Jawa, Beras Papua Barat Dipoles Jadi Produk Premium
Setara Jawa, Beras Papua Barat Dipoles Jadi Produk Premium
Varietas Tanaman
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau