Penulis
JAKARTA, KOMPAS.com — Krisis global yang memaksa sedikitnya 33 negara di dunia mulai memaksa Pemerintah masing-masing untuk mengimbau warga menimbun bahan pangan darurat.
Sementara Indonesia memilih cara lain. Kementerian Pertanian (Kementan) mulai mengoperasikan strategi khusus yakni intelijen pertanian.
Strategi ini ditegaskan oleh Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Muhammad Saleh Mustafa dalam ajang "3rd International Conference on Agricultural, Nutraceutical and Food Science (ICANFS)" di Universitas Tidar, Magelang, Jawa Tengah.
Baca juga: Bukan Lagi Gulma Pengganggu, Eceng Gondok Disulap Jadi Solusi Pangan Keluarga
Wamentan Saleh meluruskan pandangan publik yang kerap mengaitkan istilah intelijen semata-mata dengan dunia intelijen militer atau intelijen pertahanan.
"Kalau dengar intelijen jangan langsung konotasinya militer. Kita perlu yang namanya intelijen pertanian," ujar Saleh dalam keterangannya yang terkonfirmasi di Jakarta, dikutip dari Antara, Senin (2/11/2026).
Sebagai purnawirawan tentara dengan posisi terakhir Wakil Kepala Staf Angkatan Darat (Wakasad), Saleh melihat intelijen pertanian sebagai instrumen vital untuk memetakan dinamika geopolitik, ancaman iklim, hingga potensi disrupsi rantai pasok global secara akurat.
Langkah ini diambil agar kebijakan produksi, tata kelola impor, dan rantai distribusi pangan nasional tidak dipermainkan oleh spekulan maupun pihak tertentu yang memanfaatkan ketidakpastian global.
Baca juga: Bukan Pupuk Biasa, Rahasia Prebiotik Ini Bikin Daya Jelajah Akar Melonjak 50 Persen
"Intelijen pertanian dan hilirisasi penting untuk memperkuat ketahanan pangan nasional di tengah dinamika geopolitik dan perubahan iklim," tutur Saleh.
Menurutnya, penguatan pasokan domestik tidak cukup hanya dengan mengandalkan cetak lahan, tetapi harus dibarengi pengawasan perdagangan yang ketat, modernisasi alat mesin pertanian (alsintan), efisiensi irigasi, serta riset hilirisasi untuk meningkatkan nilai tambah komoditas.
Di sisi lain, Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman mengonfirmasi bahwa posisi cadangan pangan nasional saat ini berada dalam kondisi aman dan tangguh.
Ketahanan ini didukung oleh optimalisasi produksi dalam negeri dan cadangan pemerintah yang memadai.
Baca juga: Rahasia Klon Robusta Lampung: Pohon Tua Disulap Berbuah Lebat
"Ketika sedikitnya 33 negara mulai mendorong masyarakatnya menyiapkan persediaan makanan, air minum, obat-obatan, dan kebutuhan dasar untuk menghadapi situasi darurat, Indonesia memiliki kekuatan produksi pangan dalam negeri dan cadangan beras yang kuat," tegas Amran.
Amran menyebut keberhasilan menahan guncangan krisis global ini merupakan buah dari kerja keras petani di lapangan serta konsistensi kebijakan kemandirian pangan.
Meski begitu, Kementan mengingatkan bahwa kolaborasi dengan perguruan tinggi, peneliti, dan generasi muda tetap menjadi kunci agar Indonesia tidak sekadar bertahan, tetapi mampu memimpin ketahanan pangan berkelanjutan di kawasan regional.
Dukung KOMPAS.com untuk terus memberikan fakta jernih dari lapangan. Gabung Kompas.com PLUS