
Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.
Di sisi lain, petani mulai mengadopsi sistem agroforestry, yaitu menanam kakao di bawah naungan pohon pelindung, sebagai cara untuk menjaga kesuburan tanah dan keberlanjutan ekosistem. Inovasi lain muncul dari pengolahan pascapanen, diversifikasi produk olahan, hingga penguatan kelembagaan petani. Semua ini merupakan modal penting dalam mendorong transformasi industri kakao Indonesia agar lebih kompetitif.
Namun di balik kemajuan tersebut, masalah mendasar tetap membayangi, yaitu kualitas biji kakao. Mayoritas petani masih menjual biji kakao dalam bentuk non-fermentasi, yang dihargai lebih rendah akibat rendahnya mutu dan kompleksitas cita rasa. Padahal, fermentasi yang baik mampu meningkatkan nilai jual sekaligus membuka akses ke pasar premium.
Pemerintah telah menetapkan Standar Nasional Indonesia (SNI) yang mewajibkan biji kakao difermentasi agar layak ekspor. Namun, minimnya pengetahuan teknis dan keterbatasan fasilitas pascapanen membuat banyak petani kesulitan menerapkan proses fermentasi optimal. Beberapa kisah sukses seperti Koperasi Kerta Semaya Samaniya di Bali dan kelompok petani di Sikka, NTT, menunjukkan bahwa dengan pelatihan dan insentif harga yang adil, petani mampu menghasilkan biji kakao fermentasi berkualitas ekspor.
Untuk itu, pola kemitraan langsung antara industri dan petani, pemberian harga premium, serta pendampingan teknis perlu diperluas agar kualitas kakao Indonesia makin terangkat di pasar global. Krisis pasokan kakao, ternyata dapat membawa dampak signifikan bagi industri dan petani sekaligus menjadi pelajaran penting bagi semua pihak.
Kekurangan bahan baku membuat sejumlah pabrik pengolahan kakao tutup, sementara petani mengalami penurunan pendapatan dan beralih ke komoditas lain. Produksi nasional merosot tajam menjadi sekitar 200 ribu ton pada 2025, menurunkan posisi Indonesia ke peringkat ketujuh produsen kakao dunia.
Meski demikian, prospeknya tetap optimistis karena permintaan kakao, baik di dalam negeri maupun global, terus meningkat. Konsumsi cokelat lokal yang tumbuh pesat dan kapasitas industri pengolahan yang besar membuka peluang penguatan hilirisasi dan ekspor produk olahan bernilai tinggi.
Jika masalah pasokan di hulu dapat diatasi, Indonesia berpotensi bangkit kembali sebagai kekuatan utama kakao dunia—memanfaatkan harga global yang tinggi untuk meningkatkan kesejahteraan petani sekaligus memperkuat ekonomi nasional.
Baca juga: Apa yang Kamu Ketahui tentang Kakao?
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter, tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan ini. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.
Artikel ini telah masuk Arsip. Berlangganan untuk membacanya kembali kapan saja.