Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kuntoro Boga
Direktur Hilirisasi Hasil Perkebunan, Kementan

Praktisi, Peneliti dan Pengamat Pertanian

Anomali Pasokan Kakao: Analisa dan Solusi untuk Industri

Kompas.com, 27 Oktober 2025, 18:00 WIB

Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.

Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini
Editor Wisnubrata

INDONESIA pernah berjaya sebagai salah satu produsen kakao terbesar di dunia. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, industri kakao nasional menghadapi krisis pasokan yang cukup serius. Di satu sisi, kapasitas industri pengolahan kakao dalam negeri meningkat pesat dan menempatkan Indonesia sebagai salah satu eksportir produk olahan kakao terkemuka di dunia. Di sisi lain, pasokan biji kakao mentah justru menurun drastis, menyebabkan kelangkaan bahan baku di dalam negeri.

Ironisnya, negeri penghasil kakao ini kini harus mengimpor biji kakao untuk memenuhi kebutuhan industrinya. Fenomena ini tidak terlepas dari lonjakan harga kakao global serta berbagai tantangan di sektor hulu.

Ke depan, solusi konkret perlu dijalankan secara konsisten oleh semua pihak, khususnya dalam peningkatan produksi biji kakao dalam negeri. Pemerintah pusat dan daerah harus memperkuat pendampingan bagi petani, terutama dalam program replanting, agar bibit unggul benar-benar sampai dan ditanam dengan baik.

Pengawasan dan edukasi terkait hama serta dampak perubahan iklim juga perlu digencarkan karena dua faktor ini sangat mempengaruhi produktivitas kebun kakao. Dukungan terhadap riset pertanian harus ditingkatkan guna melahirkan varietas unggul yang tahan penyakit dan berproduktivitas tinggi. Selain itu, kemitraan antara petani, koperasi, dan industri perlu diperluas untuk menciptakan pola rantai pasok yang saling menguntungkan.

Baca juga: Dilema Industri Kakao Indonesia: Kualitas dan Importasi

Jurus Pemerintah Atasi Krisis Pasokan

Pemerintah menyadari peran strategis mereka dalam mengatasi krisis pasokan kakao nasional. Salah satu strategi utama yang dijalankan adalah program hilirisasi perkebunan, termasuk untuk komoditas kakao. Upaya ini mencakup peningkatan produksi di kawasan sentra kakao nasional, serta pengembangan industri pengolahan hasil kakao di dalam negeri.

Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, menegaskan pentingnya menghentikan ekspor biji kakao mentah. “Kita tidak boleh lagi menjual bahan mentah,” ujarnya, menandai tekad pemerintah untuk mengubah paradigma ekspor Indonesia, dari sekadar penjual bahan baku menjadi produsen produk olahan seperti cokelat, bubuk kakao, dan lemak kakao berkualitas.

Pemerintah berharap hilirisasi tidak hanya memperkuat struktur industri kakao nasional, tetapi juga menumbuhkan semangat baru di kalangan muda untuk berinovasi dan terlibat langsung dalam pengembangan sektor ini.

Selain hilirisasi, pemerintah juga meluncurkan program peremajaan (replanting) kakao secara nasional untuk memperkuat pasokan di hulu. Kementan menargetkan replanting seluas 248.500 hektare hingga 2027, dengan dukungan dana APBN, bantuan bibit unggul, serta pupuk subsidi. Program ini dijalankan bertahap, 4.266 hektare pada 2025, meningkat menjadi 175.500 hektare pada 2026, dan 68.734 hektare pada 2027.

Selain itu, pemerintah membentuk Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) Kakao sebagai sumber pendanaan berkelanjutan dari hulu hingga hilir. Meniru keberhasilan BPDP Sawit, lembaga ini diharapkan mampu memperkuat pembinaan petani, riset, dan promosi ekspor. Dengan harga kakao dunia yang melonjak, keberadaan BPDP Kakao menjadi kunci untuk memaksimalkan manfaat ekonomi dan mengembalikan kejayaan kakao Indonesia di pasar global.

Baca juga: Potensi Besar Kakao Indonesia, Tantangan Masih Menggunung

Inovasi di Industri Kakao Domestik

Di tengah tantangan pasokan bahan baku, industri kakao domestik menunjukkan ketangguhan melalui jalur inovasi. Perusahaan-perusahaan pengolahan kakao berlomba melakukan investasi pada teknologi terkini guna meningkatkan kapasitas produksi dan menghasilkan produk bernilai tambah tinggi. Lini tersebut dirancang mampu memproduksi bubuk kakao dan cocoa liquor dengan profil rasa khusus, menyesuaikan selera konsumen global yang semakin beragam.

Investasi ini menunjukkan keyakinan pelaku industri global terhadap potensi Indonesia sebagai basis produksi kakao strategis di kawasan. Dengan mengadopsi teknologi manufaktur mutakhir dan riset pengembangan produk yang mumpuni, industri kakao nasional semakin mampu berinovasi cepat dan menyesuaikan produk dengan tren pasar.

Strategi ini juga sejalan dengan pendekatan near-shoring, yaitu mendekatkan lokasi produksi ke pasar konsumen untuk memastikan kelancaran rantai pasok. Tak hanya itu, geliat industri kakao juga bergerak ke arah pengembangan produk-produk niche berkelas tinggi. Munculnya puluhan produsen cokelat artisan, khususnya dari kategori bean-to-bar, mendorong semaraknya inovasi di sektor hilir.

Kemenperin mencatat bahwa pada 2025 terdapat 47 produsen cokelat artisan di Indonesia, naik dari 31 perusahaan pada 2023. Para pelaku ini menghadirkan produk dengan cita rasa lokal, desain kemasan atraktif, serta penggunaan biji kakao fermentasi dalam negeri.

Produk cokelat premium lokal pun makin diminati, tidak hanya oleh konsumen domestik tetapi juga mulai menembus pasar ekspor. Pemerintah optimistis geliat sektor artisan ini akan meningkatkan penyerapan kakao lokal sekaligus memperkuat nilai tambah industri kakao nasional secara keseluruhan.

Baca juga: Kopi dan Kakao Indonesia Laris Manis di Luar Negeri

Sumber inovasi juga berasal dari ranah riset dan praktik pertanian berkelanjutan. Kementerian Pertanian, Riset Perkebunan Nusantara (RPN) dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) telah merilis beberapa varietas unggul baru kakao yang memiliki keunggulan produktivitas dan ketahanan terhadap hama.

Di sisi lain, petani mulai mengadopsi sistem agroforestry, yaitu menanam kakao di bawah naungan pohon pelindung, sebagai cara untuk menjaga kesuburan tanah dan keberlanjutan ekosistem. Inovasi lain muncul dari pengolahan pascapanen, diversifikasi produk olahan, hingga penguatan kelembagaan petani. Semua ini merupakan modal penting dalam mendorong transformasi industri kakao Indonesia agar lebih kompetitif.

Namun di balik kemajuan tersebut, masalah mendasar tetap membayangi, yaitu kualitas biji kakao. Mayoritas petani masih menjual biji kakao dalam bentuk non-fermentasi, yang dihargai lebih rendah akibat rendahnya mutu dan kompleksitas cita rasa. Padahal, fermentasi yang baik mampu meningkatkan nilai jual sekaligus membuka akses ke pasar premium.

Pemerintah telah menetapkan Standar Nasional Indonesia (SNI) yang mewajibkan biji kakao difermentasi agar layak ekspor. Namun, minimnya pengetahuan teknis dan keterbatasan fasilitas pascapanen membuat banyak petani kesulitan menerapkan proses fermentasi optimal. Beberapa kisah sukses seperti Koperasi Kerta Semaya Samaniya di Bali dan kelompok petani di Sikka, NTT, menunjukkan bahwa dengan pelatihan dan insentif harga yang adil, petani mampu menghasilkan biji kakao fermentasi berkualitas ekspor.

Untuk itu, pola kemitraan langsung antara industri dan petani, pemberian harga premium, serta pendampingan teknis perlu diperluas agar kualitas kakao Indonesia makin terangkat di pasar global. Krisis pasokan kakao, ternyata dapat membawa dampak signifikan bagi industri dan petani sekaligus menjadi pelajaran penting bagi semua pihak.

Kekurangan bahan baku membuat sejumlah pabrik pengolahan kakao tutup, sementara petani mengalami penurunan pendapatan dan beralih ke komoditas lain. Produksi nasional merosot tajam menjadi sekitar 200 ribu ton pada 2025, menurunkan posisi Indonesia ke peringkat ketujuh produsen kakao dunia.

Meski demikian, prospeknya tetap optimistis karena permintaan kakao, baik di dalam negeri maupun global, terus meningkat. Konsumsi cokelat lokal yang tumbuh pesat dan kapasitas industri pengolahan yang besar membuka peluang penguatan hilirisasi dan ekspor produk olahan bernilai tinggi.

Jika masalah pasokan di hulu dapat diatasi, Indonesia berpotensi bangkit kembali sebagai kekuatan utama kakao dunia—memanfaatkan harga global yang tinggi untuk meningkatkan kesejahteraan petani sekaligus memperkuat ekonomi nasional.

Baca juga: Apa yang Kamu Ketahui tentang Kakao?

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com. Download sekarang


Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
13 Sumur Bor di Pulau Yamdena Bikin Petani Panen Tiga Kali Setahun
13 Sumur Bor di Pulau Yamdena Bikin Petani Panen Tiga Kali Setahun
Perawatan
Memulihkan Lahan, Menumbuhkan Ekonomi dari Desa Pulu
Memulihkan Lahan, Menumbuhkan Ekonomi dari Desa Pulu
Varietas Tanaman
Cengkih Indonesia: Besar dalam Produksi, Kecil dalam Nilai Tambah
Cengkih Indonesia: Besar dalam Produksi, Kecil dalam Nilai Tambah
Varietas Tanaman
Sinergi SVLK-FSC Siap Bawa Produk Hutan Indonesia Kuasai Pasar Global
Sinergi SVLK-FSC Siap Bawa Produk Hutan Indonesia Kuasai Pasar Global
Varietas Tanaman
Kementrans Kembangkan Ubi Jalar Jadi Pangan Alternatif Selain Beras
Kementrans Kembangkan Ubi Jalar Jadi Pangan Alternatif Selain Beras
Varietas Tanaman
Bendungan Bulango Ulu Segera Tuntas, Panen Diprediksi 3 Kali Setahun
Bendungan Bulango Ulu Segera Tuntas, Panen Diprediksi 3 Kali Setahun
Varietas Tanaman
Bela Petani Sawit Swadaya, Pemkab Kotim dan Solidaridad Percepat Migrasi e-STDB
Bela Petani Sawit Swadaya, Pemkab Kotim dan Solidaridad Percepat Migrasi e-STDB
Varietas Tanaman
Way Apu Jadi Andalan Pertanian Maluku, Layani Irigasi 10.562 Hektar
Way Apu Jadi Andalan Pertanian Maluku, Layani Irigasi 10.562 Hektar
Varietas Tanaman
Dulu, Petani Perbatasan RI-Australia Panen Sekali Setahun, Kini 3 Kali
Dulu, Petani Perbatasan RI-Australia Panen Sekali Setahun, Kini 3 Kali
Varietas Tanaman
Tak Cuma Pertanian, Potensi Maritim hingga Perkebunan Digarap TEP
Tak Cuma Pertanian, Potensi Maritim hingga Perkebunan Digarap TEP
Varietas Tanaman
Pangkas Kriminalitas di Kebun Sawit, Paser Gratiskan BPJS Buruh Informal
Pangkas Kriminalitas di Kebun Sawit, Paser Gratiskan BPJS Buruh Informal
Varietas Tanaman
Pabrik Kelapa di Halmahera Utara Berpotensi Serap 20.000 Tenaga Kerja
Pabrik Kelapa di Halmahera Utara Berpotensi Serap 20.000 Tenaga Kerja
Varietas Tanaman
Lawan Rob, Warga Pekalongan Manfaatkan Tanah Wakaf untuk Pertanian
Lawan Rob, Warga Pekalongan Manfaatkan Tanah Wakaf untuk Pertanian
Varietas Tanaman
Kebutuhan Kelapa China 4 Miliar Butir, Halmahera Utara Siap Jadi Pemasok
Kebutuhan Kelapa China 4 Miliar Butir, Halmahera Utara Siap Jadi Pemasok
Varietas Tanaman
JIAT Rp 1,5 Miliar di Rote Ndao Layani 10 Hektar Lahan Pertanian
JIAT Rp 1,5 Miliar di Rote Ndao Layani 10 Hektar Lahan Pertanian
Varietas Tanaman
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau