Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kuntoro Boga
Direktur Hilirisasi Hasil Perkebunan, Kementan

Praktisi, Peneliti dan Pengamat Pertanian

DNA Petani Kita, Tangguh di Era Modernisasi

Kompas.com, 4 November 2025, 16:00 WIB

Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.

Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini
Editor Wisnubrata

INDONESIA sejak lama dikenal sebagai negeri agraris, “gemah ripah loh jinawi”, tanah subur yang menyejahterakan rakyatnya. Ungkapan itu bukan sekadar slogan, melainkan cerminan jati diri bangsa yang berakar pada pertanian. Dari Sabang sampai Merauke, nilai-nilai gotong royong, kearifan lokal dalam mengelola alam, dan tradisi syukur atas panen telah menjadi bagian dari DNA sosial kita.

Namun, di tengah derasnya arus modernisasi, warisan agraris itu menghadapi tantangan berat, dimana lahan pertanian menyusut, generasi muda enggan bertani, dan krisis pangan global kian nyata. Dalam situasi seperti ini, mempertahankan DNA petani bukan nostalgia masa lalu, melainkan kebutuhan masa depan, kompas moral dan kultural agar bangsa ini tidak kehilangan pijakan di tengah perubahan zaman.

Petani sejatinya bukan sekadar profesi, melainkan identitas kolektif bangsa yang membentuk karakter keindonesiaan, yaitu kerja keras, kebersamaan, dan kerendahan hati. Dari sawah dan ladang, leluhur menanam falsafah hidup yang mengajarkan harmoni antara manusia dan alam. Nilai-nilai itu kini layak dihidupkan kembali agar kemajuan tidak kehilangan jiwa.

Modernisasi yang berpijak pada budaya agraris akan melahirkan pertanian yang lebih manusiawi, berkeadilan, dan berkelanjutan. DNA petani harus ditempatkan sebagai fondasi pembangunan, karena di sanalah kedaulatan pangan, kesejahteraan rakyat, dan kelestarian lingkungan bertemu.

Baca juga: Mewujudkan Petani Milenial Berdampak

Warisan Agraris Nusantara

Sejarah Nusantara sesungguhnya berdiri di atas fondasi peradaban agraris yang kokoh. Masyarakat tradisional kita hidup dalam irama alam, selaras dengan musim, tanah, dan air, yang melahirkan beragam kearifan lokal. Gotong royong menjadi nilai paling universal, terwujud dalam berbagai bentuk kerja bersama tanpa pamrih, mulai dari sambatan di Jawa hingga songga di Nusa Tenggara Timur.

Tradisi semacam itu bukan hanya mempermudah pekerjaan bertani, tetapi juga mempererat solidaritas sosial dan memperkuat daya tahan masyarakat menghadapi masa paceklik. Di balik sawah yang hijau dan ladang yang luas, tersimpan sistem nilai yang membangun karakter bangsa, yaitu kebersamaan, kepedulian, dan keseimbangan hidup dengan alam.

Setiap daerah di Indonesia memiliki tradisi agraris yang khas, memperlihatkan betapa dalamnya hubungan manusia dengan bumi yang digarapnya. Di Aceh, petani melaksanakan Kenduri Blang sebagai doa bersama sebelum menanam padi, menandai permulaan musim tanam dengan kekhidmatan dan rasa syukur.

Di Bali, sistem Subak menjadi simbol keadilan dan harmoni, diakui dunia karena mampu menjaga keseimbangan manusia, alam, dan spiritualitas. Petani Jawa mengenal Pranata Mangsa, kalender tanam yang berpijak pada tanda-tanda alam, sedangkan masyarakat Sunda melaksanakan Seren Taun dan wiwitan sebagai ungkapan syukur panen.

Di berbagai daerah, lumbung dan leuit menjadi manifestasi kearifan pangan: menyimpan hasil bumi sebagai cadangan, sekaligus simbol kemakmuran dan tanggung jawab terhadap masa depan. Setiap tradisi ini adalah serpihan mozaik dari budaya agraris yang kaya makna dan nilai-nilai ekologis.

Dari berbagai kearifan itu, tampak jelas bahwa pertanian bagi bangsa ini bukan sekadar profesi, melainkan jalan hidup yang membentuk peradaban. Gotong royong, rasa syukur, dan harmoni dengan alam adalah DNA petani kita, warisan pengetahuan dan etika yang telah menempa masyarakat Nusantara menjadi tangguh. Nilai-nilai ini membuat komunitas agraris mampu bertahan dalam berbagai krisis, dari bencana alam hingga perubahan sosial. Namun kini tradisi perlahan tergerus modernisasi dan perubahan iklim mengguncang tatanan lama.

Baca juga: Mentan: Tidak Semua Miskin, 27 Ribu Petani Muda Cuan hingga Rp 20 Juta per Bulan

Realitas Masa Kini

Memasuki abad ke-21, Indonesia mengalami transformasi sosial-ekonomi besar yang mengubah wajah pedesaan dan struktur ekonominya. Urbanisasi serta industrialisasi membuat sektor pertanian tak lagi menjadi tulang punggung ekonomi nasional, sementara jumlah petani terus menyusut. Data BPS mencatat, jumlah petani turun dari 38 juta pada 2003 menjadi hanya 33 juta pada 2023, dengan rata-rata usia petani kini mencapai 52 tahun.

Fenomena ini menunjukkan krisis regenerasi yang serius, sawah-sawah warisan ditinggalkan, lahan pertanian dialihfungsikan menjadi perumahan dan pabrik, sementara generasi muda lebih tertarik bekerja di sektor nonpertanian. Di sisi lain, lahan pertanian terus menyempit akibat tekanan penduduk dan pembangunan. Setiap tahun, sekitar 50–70 ribu hektare sawah hilang, terutama di Pulau Jawa, yang selama ini menjadi lumbung padi nasional.

Krisis pangan global akibat perubahan iklim, pandemi, dan perang Rusia–Ukraina makin memperburuk situasi. Pengalaman di masa lalu membuktikan bahwa ketergantungan impor beras dan gandum menempatkan Indonesia dalam posisi rentan terhadap gejolak harga dan pasokan dunia. Kerapuhan sektor pertanian kini terjadi karena hilangnya roh agraris yang dulu menjadi kekuatan bangsa.

Modernisasi memang meningkatkan efisiensi dan hasil, namun sekaligus menyingkirkan keanekaragaman hayati, pengetahuan lokal, dan solidaritas sosial di pedesaan. Sejak Revolusi Hijau, petani kecil semakin bergantung pada benih dan pupuk kimia, kehilangan kemandirian dan daya tawar. Padahal, dalam DNA petani Nusantara tersimpan kearifan yang justru relevan untuk menjawab tantangan masa kini, gotong royong sebagai fondasi kelembagaan tani, diversifikasi tanaman untuk ketahanan pangan, serta sikap hormat terhadap alam untuk keberlanjutan.

Tantangan kita ke depan adalah menjembatani tradisi dan modernitas agar pertanian Indonesia kembali berdaulat, produktif, manusiawi, dan berakar pada budaya sendiri.

Baca juga: Dari Berburu ke Petani Gaharu

Halaman:

Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Ketika Vanili Menjadi Harapan Petani
Ketika Vanili Menjadi Harapan Petani
Varietas Tanaman
Kayu Manis Kerinci dan Peluang Rempah Indonesia di Pasar Dunia
Kayu Manis Kerinci dan Peluang Rempah Indonesia di Pasar Dunia
Varietas Tanaman
Mengapa Anak Muda Enggan Menjadi Petani?
Mengapa Anak Muda Enggan Menjadi Petani?
Tips
Mengembalikan Daya Saing Teh di Pasar Global
Mengembalikan Daya Saing Teh di Pasar Global
Varietas Tanaman
Nilam, Masihkah Primadona?
Nilam, Masihkah Primadona?
Varietas Tanaman
Gambir: Komoditas Tua dari Sumatera yang Diam-Diam Diburu Industri Dunia
Gambir: Komoditas Tua dari Sumatera yang Diam-Diam Diburu Industri Dunia
Varietas Tanaman
Kakao Indonesia 2026: Menguatkan Hulu dan Menjaga Hilir
Kakao Indonesia 2026: Menguatkan Hulu dan Menjaga Hilir
Varietas Tanaman
Aren, Pohon Liar yang Menyimpan Masa Depan
Aren, Pohon Liar yang Menyimpan Masa Depan
Varietas Tanaman
Masa Depan Kelapa di Negeri Nyiur Melambai
Masa Depan Kelapa di Negeri Nyiur Melambai
Varietas Tanaman
Saat Kita Terlalu Bergantung pada Beras
Saat Kita Terlalu Bergantung pada Beras
Varietas Tanaman
Meraup Keuntungan dari Lada Lampung
Meraup Keuntungan dari Lada Lampung
Varietas Tanaman
Surplus Pangan, Mengapa Impor?
Surplus Pangan, Mengapa Impor?
Varietas Tanaman
Kopi dan Kakao Indonesia: Komoditas Ekspor yang Paling Dicari Dunia
Kopi dan Kakao Indonesia: Komoditas Ekspor yang Paling Dicari Dunia
Varietas Tanaman
Gula Aren dan Kebangkitan Ekonomi Desa Berbasis Agroforestri
Gula Aren dan Kebangkitan Ekonomi Desa Berbasis Agroforestri
Varietas Tanaman
Mete Indonesia Makin Berjaya di Pasar Internasional
Mete Indonesia Makin Berjaya di Pasar Internasional
Varietas Tanaman
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau