
Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.
Ketika badai modernisasi dan globalisasi menerpa, DNA petani dan kearifan agraris Nusantara, ibarat akar kuat yang menjaga pohon kebangsaan tetap tegak. Di tengah ancaman krisis pangan global, jalan keluar sejatinya tidak bergantung pada pihak luar atau impor, melainkan pada penguatan basis lokal yang arif dan berakar budaya.
Gotong royong dapat diwujudkan dalam koperasi dan kelompok tani, seperti semangat Subak di Bali yang mengajarkan keseimbangan manusia, alam, dan Tuhan. Prinsip Tri Hita Karana itu sejalan dengan konsep pertanian berkelanjutan modern yang menuntut harmoni ekologi, ekonomi, dan sosial.
Praktik tradisional seperti tumpang sari, rotasi tanaman, serta penggunaan pupuk organik bisa dihidupkan kembali dengan dukungan sains modern sebagai strategi menghadapi perubahan iklim. Begitu pula dengan diversifikasi pangan lokal, dari umbi-umbian, sagu, pisang, hingga sorghum, yang merupakan bagian dari budaya pangan Nusantara.
Menghidupkan kembali pangan lokal bukan nostalgia, melainkan langkah konkret untuk memperkuat ketahanan pangan dan kemandirian bangsa. Generasi muda perlu melihat bertani bukan sebagai pekerjaan ketinggalan zaman, tetapi profesi cerdas yang memadukan teknologi dan kearifan lokal.
Fenomena tumbuhnya komunitas petani muda organik, pertanian urban, hingga startup agritech menunjukkan bahwa DNA petani kita tidak punah, melainkan berevolusi. Kini gotong royong bisa dilakukan lewat platform digital, lumbung pangan berubah menjadi aplikasi stok komunitas, dan pengetahuan lokal terdigitalisasi menjadi data terbuka.
Agar semua itu berkelanjutan, kebijakan pertanian nasional perlu lebih menghargai keragaman budaya dan ekologi Nusantara, bukan menyeragamkan, tetapi memberdayakan. Karena kekuatan pangan Indonesia justru terletak pada kekayaan lokalnya, seperti sagu di Papua hingga sorghum di NTT, semua adalah bagian dari jati diri agraris yang harus dijaga dan diberdayakan.
Baca juga: Bagaimana Teknologi Menarik Petani Muda dan Mendorong Swasembada Pangan?
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com. Download sekarang