
BEBERAPA abad silam, Kepulauan Banda di Maluku menjadi pusat perebutan dunia. Pala Banda, disebut sebagai “emas hijau” Nusantara, begitu berharga hingga Belanda rela menukar Pulau Run dengan Manhattan pada 1667 demi memonopoli rempah ini. Kini, Indonesia masih menjadi produsen pala utama dunia, memasok sekitar 31 persen produksi global, dengan Maluku berperan penting sebagai daerah asal rempah legendaris tersebut.
Namun, kekayaan alam semata tak menjamin kemakmuran. Meski rempah melimpah, Maluku masih tergolong tertinggal secara ekonomi, angka kemiskinannya pada 2024 mencapai 16,4 persen, termasuk lima tertinggi nasional. Nilai pala yang dulu setara emas kini bagi petani Banda kerap “jalan di tempat” karena sebagian besar dijual mentah.
Penguatan sektor pala tidak boleh berhenti pada nostalgia kejayaan masa lalu, melainkan harus menjadi strategi konkret untuk masa depan Maluku yang lebih sejahtera. Sudah terlalu lama daerah ini menjadi pemasok bahan mentah sementara nilai tambah dinikmati di tempat lain. Momentum ekspor perdana ke Eropa dan inisiatif pemerintah hendaknya menjadi titik balik menuju hilirisasi yang melibatkan petani, pemerintah, swasta, akademisi, dan generasi muda.
Baca juga: Memburu Minyak Kayu Putih di Pulau Buru
Sebagai komoditas unggulan Maluku, pala memiliki arti ekonomi dan budaya yang sangat penting bagi masyarakat kepulauan. Luas lahan pala di provinsi ini terus meningkat, dari sekitar 34 ribu hektare pada 2019 menjadi lebih dari 36 ribu hektare pada 2022. Produksinya pun tumbuh stabil, mencapai hampir 6 ribu ton per tahun. Dua varietas utama tumbuh di wilayah ini, yakni Pala Banda yang berbuah bulat dan Pala Papua atau Seram yang berbuah lonjong.
Di antara keduanya, Pala Banda menonjol karena kadar minyak atsiri dan myristicin yang tinggi, menjadikannya salah satu pala terbaik dunia. Kualitas istimewa itu membuat Pala Banda terdaftar sebagai produk Indikasi Geografis Maluku, sejajar dengan Kopi Gayo dan Lada Muntok, untuk melindungi keaslian, reputasi, dan nilai jualnya di pasar global.
Di Kepulauan Banda, ribuan keluarga hidup dari pohon-pohon pala yang tumbuh di lahan terbatas namun subur. Meski luas lahan hanya sekitar 267 hektare, Kecamatan Banda mampu menyumbang lebih dari 31 persen produksi pala di Kabupaten Maluku Tengah. Setiap musim panen, biji pala dan fuli kering menjadi sumber utama pendapatan warga. Namun, sebagian besar hasil panen itu masih dijual mentah ke pengepul luar daerah.
Rantai pasok yang panjang membuat nilai tambah banyak mengalir keluar Maluku, sementara petani di Banda tetap berada di sisi paling lemah. Padahal, di tingkat global, peluangnya sangat besar. Indonesia masih menjadi produsen pala utama dunia dengan ekspor mencapai 26 ribu ton pada 2021, senilai 198 juta US dollar (sekitar Rp3,13 triliun. Permintaan dunia pun kian berkembang, bukan hanya untuk bumbu dapur, tetapi juga bahan baku industri makanan, kosmetik alami, dan farmasi.
Produk turunan seperti minyak atsiri dan bubuk pala olahan kini semakin diminati, memberikan peluang besar bagi daerah penghasil untuk masuk ke pasar bernilai tambah tinggi.
Baca juga: Menggali Kembali Kejayaan Pala Nusantara
Kunci kebangkitan pala Banda terletak pada dua hal, yaitu modernisasi budidaya dan hilirisasi produk. Produktivitas pala di Indonesia masih tergolong rendah, hanya sekitar 1,7 ton per hektare, jauh tertinggal dari India yang sudah mencapai lebih dari 4 ton. Di Banda, sebagian besar pohon pala adalah warisan ratusan tahun yang tumbuh alami tanpa peremajaan terencana. Pola tanam tradisional yang berpadu dengan cengkih dan kelapa memang selaras dengan alam, tetapi kini dibutuhkan pendekatan baru berbasis teknologi dan praktik pertanian baik.
Namun, nilai sejati pala Banda baru benar-benar muncul ketika Maluku berani melompat ke tahap hilirisasi. Dunia kini mencari minyak atsiri pala, butter pala, oleoresin, hingga kosmetik alami berbahan rempah ini. Sayangnya, sebagian besar petani masih menjual biji kering ke luar daerah, sementara pengolahan dan keuntungan besar terjadi di kota lain.
Karena itu, sudah saatnya Maluku membangun sentra pengolahan di dekat sumber produksi, dengan fasilitas penyulingan, laboratorium mutu, dan pusat ekspor terpadu. Hilirisasi tidak hanya akan memperpendek rantai pasok dan menaikkan pendapatan petani, tetapi juga menjadikan Banda sebagai pusat industri rempah modern yang menghidupkan ekonomi lokal.
Dunia mengenal aroma khas Pala Banda sebagai produk premium, dan dengan pengolahan tepat, nilainya bisa bersaing dengan komoditas global lain seperti vanili Madagaskar atau kopi Ethiopia.
Contoh kecil dari upaya hilirisasi ini sudah terlihat di Banda. Buah pala segar kini diolah menjadi sirup manis yang menjadi oleh-oleh khas wisatawan. Bahkan Lembaga Pemasyarakatan Banda Neira turut melatih warga binaan membuat sirup pala sebagai bekal keterampilan usaha. Setiap bagian pala, dari daging buah hingga fuli dan biji dapat dimanfaatkan menjadi produk bernilai tinggi.
Jika usaha kecil dan menengah difasilitasi untuk mengembangkan produk turunan semacam manisan, minyak atsiri, atau suplemen herbal, maka pendapatan masyarakat akan meningkat, sekaligus melestarikan identitas dan kearifan lokal.
Baca juga: Pala: Warisan Nusantara Menuju Pemanfaatan Global
Jalan menuju kebangkitan pala Banda tentu tidak mudah. Tantangan terbesar datang dari aspek kualitas dan standar global. Beberapa tahun lalu, pala Indonesia sempat ditolak Uni Eropa karena kandungan aflatoksin yang tinggi, zat toksik akibat proses pengeringan yang tidak higienis.
Di Banda, praktik tradisional seperti menjemur pala di jalan atau mengasapi di dapur rumah masih lazim dilakukan. Padahal, pasar dunia menuntut kebersihan dan keamanan pangan yang ketat. Standar pengeringan, penyimpanan, dan pengemasan harus segera diperbaiki agar pala Banda bisa bersaing di pasar ekspor premium. Pemerintah perlu hadir dengan solusi membangun fasilitas pengeringan dan gudang penyimpanan bersama, serta memberikan pelatihan teknis bagi petani tentang pengolahan pascapanen yang sesuai standar internasional.
Selain soal mutu, hambatan besar lainnya datang dari faktor pasar dan infrastruktur. Ketergantungan pada ekspor bahan mentah membuat petani rentan terhadap fluktuasi harga global dan persaingan dari negara lain seperti Grenada, India, dan Sri Lanka. Sementara itu, Banda sebagai wilayah kepulauan terpencil masih menghadapi biaya logistik tinggi, keterbatasan pelabuhan ekspor, dan pasokan listrik yang belum stabil.
Tantangan lain yang tak kalah penting adalah kesiapan sumber daya manusia lokal. Modernisasi dan hilirisasi tidak akan berarti bila pemuda Banda hanya menjadi penonton di tanah sendiri. Keterampilan teknis, manajerial, dan kewirausahaan perlu ditanamkan agar masyarakat lokal siap mengelola industri pala secara mandiri. Penguatan koperasi menjadi kunci untuk memperkuat posisi tawar petani sekaligus membuka akses permodalan.
Jika strategi ini dijalankan secara terpadu, dari peningkatan kualitas hingga penguatan ekonomi kreatif, maka pala Banda tak hanya akan harum di pasar dunia, tetapi juga benar-benar menyejahterakan masyarakat Maluku.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com. Download sekarang