Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kuntoro Boga
Direktur Hilirisasi Hasil Perkebunan, Kementan

Praktisi, Peneliti dan Pengamat Pertanian

Jangan Korbankan Teh: Investasi Hijau untuk Masa Depan

Kompas.com, 10 Desember 2025, 20:57 WIB

Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.

Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini
Editor Wisnubrata

BEBERAPA waktu lalu, publik dikejutkan oleh kerusakan ratusan hektare kebun teh di Pangalengan, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Ribuan batang teh di areal Perkebunan Malabar milik PT Perkebunan Nusantara (PTPN) ditebang secara ilegal, diduga untuk alih fungsi menjadi lahan sayuran.

Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Jawa Barat mengecam keras tindakan ini karena berpotensi mengganggu keseimbangan ekosistem pegunungan. Hilangnya tutupan tanaman teh mengurangi kemampuan lahan menyerap air, meningkatkan risiko erosi, dan memicu banjir bandang di daerah hilir.

Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa perkebunan teh bukan sekadar komoditas ekonomi, tetapi juga memiliki nilai ekologis dan sosial yang penting bagi masyarakat sekitar. Kebun teh telah lama menjadi benteng ekologis di dataran tinggi Indonesia. Terhampar di lereng-lereng curam dengan pola tanam berjenjang, kebun teh menahan laju erosi dan menjaga kestabilan tanah.

Tajuk daun teh yang rimbun meredam hantaman air hujan, sementara akarnya yang dalam mencengkeram tanah dengan kuat. Lapisan serasah daun turut memperbaiki struktur tanah dan meningkatkan daya serap air. Tanaman teh juga menghadirkan tutupan hijau yang berkelanjutan, berbeda dengan komoditas sayuran musiman yang kerap membuka lahan dan memperparah degradasi.

Menyadari hal itu, Pemerintah Provinsi Jawa Barat mulai mengembalikan 200 hektare lahan sayuran di lereng-lereng curam di kawasan Puncak dan Ciater menjadi kebun teh. Langkah ini menunjukkan bahwa solusi paling efektif untuk melindungi lanskap pegunungan adalah dengan mengembalikan “mantel hijau” berupa tanaman teh. Lebih dari sekadar fungsi konservasi, kebun teh juga menyumbang jasa ekosistem yang menyejukkan iklim mikro dan menghasilkan udara segar.

Umumnya tumbuh pada ketinggian 800–1.500 meter, kebun teh menciptakan lanskap yang dingin, teduh, dan bersih, seperti yang dinikmati wisatawan di kawasan Puncak, Bogor. Di balik keindahannya, kebun teh juga menyerap karbon dioksida dan memproduksi oksigen setiap hari. Kanopi tanaman yang lebat dan kehadiran pohon pelindung turut menurunkan suhu udara lokal.

Jika kebun teh terus tergantikan oleh lahan gundul atau tanaman semusim tanpa perencanaan, maka kita bukan hanya kehilangan potensi ekonomi, tetapi juga kehilangan penyangga ekologi penting yang menjaga kenyamanan dan kelestarian lingkungan.

Baca juga: Walhi: Alih Fungsi Kebun Teh Pangalengan Berisiko Picu Banjir Bandang, HGU PTPN Perlu Diaudit

Kondisi kebun teh di salah blok perkebunan teh di Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Selasa (2/12/2025)KOMPAS.COM/M. Elgana Mubarokah Kondisi kebun teh di salah blok perkebunan teh di Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Selasa (2/12/2025)

Kontribusi terhadap Perekonomian

Manfaat perkebunan teh tidak hanya terletak pada peran ekologisnya, tetapi juga sebagai tulang punggung ekonomi di banyak daerah. Sejak masa kolonial, teh dari dataran tinggi Priangan telah menjadi komoditas unggulan yang menembus pasar global, mengukuhkan Indonesia sebagai salah satu eksportir teh utama dunia.

Saat ini, Indonesia masih bertahan di posisi tujuh besar produsen teh global dengan produksi sekitar 134 ribu ton per tahun. Pada tahun 2020, volume ekspor teh nasional mencapai lebih dari 45 ribu ton, dengan tujuan utama Rusia, Malaysia, dan Amerika Serikat.

Teh bukan hanya sumber devisa penting, tetapi juga pemenuh kebutuhan konsumsi domestik. Dengan statusnya sebagai minuman paling banyak dikonsumsi kedua di dunia setelah air putih, keberlanjutan industri teh memiliki makna strategis bagi ketahanan ekonomi Indonesia.

Peran ekonomi teh sangat terasa di tingkat regional, khususnya di sentra-sentra perkebunan tradisional. Jawa Barat merupakan jantung produksi teh nasional, menyumbang sekitar 67 persen dari total output. Kebun-kebun teh tersebar di kawasan Bandung Selatan (termasuk Pangalengan), Garut, Cianjur, Sukabumi, dan Subang, daerah-daerah yang perekonomiannya bergantung pada budidaya teh.

Ribuan petani dan buruh kebun hidup dari teh, baik sebagai pemetik, pengangkut, pengolah, maupun tenaga administrasi. Karena sebagian besar proses budidaya masih dilakukan secara manual, industri ini menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar.

Di Pangalengan, contohnya, ribuan kepala keluarga telah hidup turun-temurun dari kebun teh Malabar. Pendapatan rutin dari sektor ini berputar dalam ekonomi lokal: dibelanjakan di pasar desa, membiayai pendidikan anak, dan menghidupi usaha kecil yang tumbuh di sekitar perkebunan.

Lebih dari itu, kebun teh kini dikembangkan secara multifungsi untuk memperkuat nilai ekonomi. Banyak perkebunan yang membuka area mereka sebagai destinasi agrowisata, menarik minat wisatawan domestik maupun mancanegara.

Perkebunan Malabar di Pangalengan dan Rancabali di Ciwidey menjadi contoh pengelolaan yang cerdas yang menawarkan tur petik teh, edukasi proses pengolahan, serta kunjungan ke rumah-rumah bersejarah peninggalan tokoh perkebunan.

Halaman:

Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Mengembalikan Daya Saing Teh di Pasar Global
Mengembalikan Daya Saing Teh di Pasar Global
Varietas Tanaman
Nilam, Masihkah Primadona?
Nilam, Masihkah Primadona?
Varietas Tanaman
Gambir: Komoditas Tua dari Sumatera yang Diam-Diam Diburu Industri Dunia
Gambir: Komoditas Tua dari Sumatera yang Diam-Diam Diburu Industri Dunia
Varietas Tanaman
Kakao Indonesia 2026: Menguatkan Hulu dan Menjaga Hilir
Kakao Indonesia 2026: Menguatkan Hulu dan Menjaga Hilir
Varietas Tanaman
Aren, Pohon Liar yang Menyimpan Masa Depan
Aren, Pohon Liar yang Menyimpan Masa Depan
Varietas Tanaman
Masa Depan Kelapa di Negeri Nyiur Melambai
Masa Depan Kelapa di Negeri Nyiur Melambai
Varietas Tanaman
Saat Kita Terlalu Bergantung pada Beras
Saat Kita Terlalu Bergantung pada Beras
Varietas Tanaman
Meraup Keuntungan dari Lada Lampung
Meraup Keuntungan dari Lada Lampung
Varietas Tanaman
Surplus Pangan, Mengapa Impor?
Surplus Pangan, Mengapa Impor?
Varietas Tanaman
Kopi dan Kakao Indonesia: Komoditas Ekspor yang Paling Dicari Dunia
Kopi dan Kakao Indonesia: Komoditas Ekspor yang Paling Dicari Dunia
Varietas Tanaman
Gula Aren dan Kebangkitan Ekonomi Desa Berbasis Agroforestri
Gula Aren dan Kebangkitan Ekonomi Desa Berbasis Agroforestri
Varietas Tanaman
Mete Indonesia Makin Berjaya di Pasar Internasional
Mete Indonesia Makin Berjaya di Pasar Internasional
Varietas Tanaman
Dari Kebun Kelapa dan Ladang Jagung Mereka Bangkit
Dari Kebun Kelapa dan Ladang Jagung Mereka Bangkit
Varietas Tanaman
Menguatkan Akar dan Menjahit Masa Depan: Arah Baru Perkebunan Nasional
Menguatkan Akar dan Menjahit Masa Depan: Arah Baru Perkebunan Nasional
Varietas Tanaman
Kopi dan Kayu Manis di Kerinci: Praktik Tumpangsari yang Menjaga Kebun Tetap Hidup
Kopi dan Kayu Manis di Kerinci: Praktik Tumpangsari yang Menjaga Kebun Tetap Hidup
Varietas Tanaman
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau