Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Patimah Anjelina
Dosen

Patimah Anjelina adalah akademisi di Fakultas Pertanian Universitas Andalas (Kampus III Dharmasraya) dan penulis yang aktif mengulas isu pertanian, lingkungan, dan pengelolaan sumber daya alam dari perspektif ilmiah yang aplikatif dan mudah dipahami publik

Mengapa Anak Muda Enggan Menjadi Petani?

Kompas.com, 12 Maret 2026, 21:26 WIB

Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.

Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini
Editor Wisnubrata

Di sana, kelompok tani Mutiara memproduksi nira dengan harga sekitar Rp4.000 per liter, gula aren Rp22.000 per kilogram, dan gula semut sekitar Rp40.000 per kilogram. Pertanian tidak lagi sekadar aktivitas produksi primer, tetapi mulai bergerak menjadi bagian dari ekosistem bisnis.

Baca juga: Kisah Petani Muda Aceh Utara Bangun Miharu Farm, Terapkan Smart Farming dan Agrowisata Melon Premium

Ekosistem yang Menentukan

Namun keberhasilan seperti itu tidak lahir secara spontan. Regenerasi petani bukan sekadar persoalan individu yang “dipanggil pulang ke desa”. Ia sangat bergantung pada ekosistem yang memungkinkan pertanian berkembang sebagai usaha yang layak.

Pertama, akses pembiayaan. Petani muda sering menghadapi kendala agunan dan rekam jejak usaha. Tanpa skema pembiayaan yang adaptif, sulit bagi mereka mengembangkan usaha bernilai tambah.

Kedua, kepastian akses lahan. Fragmentasi lahan dan alih fungsi tanah menjadi tantangan serius. Tanpa kepastian ruang produksi, investasi jangka panjang menjadi berisiko.

Ketiga, kelembagaan ekonomi. Koperasi modern atau agregator yang profesional dapat memperkuat posisi tawar petani dalam rantai pasok. Tanpa kelembagaan yang kuat, skala usaha sulit berkembang.

Keempat, dukungan riset dan inovasi. Teknologi pengolahan, efisiensi energi, hingga standardisasi mutu menjadi faktor penting untuk meningkatkan daya saing produk pertanian. Di sinilah peran perguruan tinggi dan lembaga riset menjadi strategis.

Jika ekosistem ini terbentuk, pertanian dapat bergerak dari pola subsisten menuju model usaha yang terintegrasi.

Baca juga: Bagaimana Teknologi Menarik Petani Muda dan Mendorong Swasembada Pangan?

Pertanian dan Masa Depan Ekonomi Desa

Regenerasi petani juga tidak bisa dilepaskan dari agenda yang lebih luas: ketahanan pangan dan pembangunan ekonomi desa. Ketahanan pangan bukan hanya soal produksi dalam jumlah besar, tetapi juga soal keberlanjutan dan distribusi nilai ekonomi. Desa yang kuat secara ekonomi akan menjadi fondasi sistem pangan yang tangguh.

Di sisi lain, tren global menuju ekonomi hijau membuka peluang baru. Sistem agroforestri seperti kebun campuran aren menunjukkan bahwa produksi pangan dapat berjalan seiring dengan pelestarian lingkungan.

Tajuk pohon menjaga kelembapan tanah, akar membantu konservasi air, dan keberagaman tanaman meningkatkan ketahanan terhadap perubahan cuaca ekstrem. Ketika sistem seperti ini dikombinasikan dengan hilirisasi dan penguatan usaha kecil di desa, pertanian dapat menjadi bagian dari strategi ekonomi hijau yang lebih luas.

Rasionalitas, Bukan Retorika

Pada akhirnya, regenerasi petani bukan soal membujuk anak muda dengan narasi romantik tentang kembali ke desa. Yang mereka butuhkan adalah kepastian bahwa bekerja di sektor pertanian dapat menghadirkan masa depan yang layak.

Anak muda tidak menolak tanah. Mereka hanya menolak sistem yang tidak memberi kepastian. Jika pertanian mampu menghadirkan nilai tambah yang jelas, akses pasar yang terbuka, dan dukungan kebijakan yang konsisten, regenerasi tidak lagi menjadi persoalan pelik. Ia akan terjadi secara alami.

Tanah tidak pernah kehilangan daya hidupnya. Yang sering hilang adalah keyakinan bahwa mengelolanya dapat menghadirkan masa depan. Ketika alasan ekonomi menjadi terang dan terukur, regenerasi petani bukan lagi slogan kebijakan—melainkan konsekuensi logis dari sistem pertanian yang sehat dan berdaya saing.

Baca juga: Petani Muda Kian Tergerus, FAO Dorong Lewat Program Petani Keren

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com. Download sekarang

Halaman:

Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Era Keemasan Baru Rempah Indonesia
Era Keemasan Baru Rempah Indonesia
Varietas Tanaman
Masa Depan Cerah Kakao Indonesia
Masa Depan Cerah Kakao Indonesia
Varietas Tanaman
Kelapa Genjah Kopyor: Agronomi, Rantai Nilai, dan Pengembangan
Kelapa Genjah Kopyor: Agronomi, Rantai Nilai, dan Pengembangan
Varietas Tanaman
Meremajakan Kebun Kelapa untuk Industri Bernilai Tinggi
Meremajakan Kebun Kelapa untuk Industri Bernilai Tinggi
Varietas Tanaman
Dari Rempah Dunia ke Kebun yang Rentan
Dari Rempah Dunia ke Kebun yang Rentan
Varietas Tanaman
Aren Minahasa: Akar Tradisi dan Ekonomi Rakyat
Aren Minahasa: Akar Tradisi dan Ekonomi Rakyat
Varietas Tanaman
Aroma Cengkeh dan Perjuangan Petani Menembus Pasar
Aroma Cengkeh dan Perjuangan Petani Menembus Pasar
Varietas Tanaman
Kopi Indonesia Naik Kelas: Inovasi, Entrepreneur, dan Nilai Tambah
Kopi Indonesia Naik Kelas: Inovasi, Entrepreneur, dan Nilai Tambah
Varietas Tanaman
Cokelat Specialty: Mendorong Kakao Berdaya Saing
Cokelat Specialty: Mendorong Kakao Berdaya Saing
Varietas Tanaman
Saatnya Kayu Manis Indonesia Laris di Pasar Global
Saatnya Kayu Manis Indonesia Laris di Pasar Global
Varietas Tanaman
Gambir dan Nilai Tambah yang Harus Diwujudkan
Gambir dan Nilai Tambah yang Harus Diwujudkan
Varietas Tanaman
Ketika Vanili Menjadi Harapan Petani
Ketika Vanili Menjadi Harapan Petani
Varietas Tanaman
Kayu Manis Kerinci dan Peluang Rempah Indonesia di Pasar Dunia
Kayu Manis Kerinci dan Peluang Rempah Indonesia di Pasar Dunia
Varietas Tanaman
Mengapa Anak Muda Enggan Menjadi Petani?
Mengapa Anak Muda Enggan Menjadi Petani?
Tips
Mengembalikan Daya Saing Teh di Pasar Global
Mengembalikan Daya Saing Teh di Pasar Global
Varietas Tanaman
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau